Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 44


__ADS_3

Ellena berusaha bangkit, ia mendekati pintu, berusaha membukanya. Bayangan beberapa tahun silam saat ketika gadis itu diculik kembali terbayang, gadis kecil disekap diruangan yang gelap selama berhari-hari, berusaha kabur dalam kegelapan, kaki kecilnya penuh dengan luka gara-gara ranting hutan dibelakang bangunan tua tempat dimana dirinya disekap. Gadis kecil dengan rambut sepunggung itu terus berlari hingga tiba di sebuah jalanan sepi, langkahnya tertatih sesekali menoleh kebelakang berharap wanita itu tidak mengikutinya. Ellena semakin mempercapat langkahnya dan berharap seeorang lewat di hutan ini lalu menolongnya, ia kembali menoleh dalam langkahnya sampai tidak melihat jika didepan sana ada sebuah mobil melaju begitu kencang…


“Aaaakhhhh…” gadis itu menjerit memecah kesunyian malam seiring dengan itu suaranya menghilang bagai tertelan bumi, gadis kecil yang malang itu kini tergelatak diatas aspal yang dingin. Beberapa detik kemudian dalam keadaan setengah sadar Ellena bisa melihat sosok laki—laki kecil keluar dari mobil itu, berjalan mendekati Ellena. Dikehidupan saat ini hal itu kembali terjadi saat pintu berlapis baja itu terbuka, sosok laki-laki yang sangat dia cintai mesuk dan mendekat kearahanya.


“Ellena.”


Meski dalam keadaan setengah sadar Ellena tersenyum legah.


“Rrrr… Raja.”


Raja membawa istrinya kedalam dekapannya yang sudah lemas, gadis itu hampir terpejam membuat Raja semakin panik.


“El… buka matanya! Setelah ini kita pergi.”


Ellena mengangguk pelan. “Dingin.” Gumamnya kembali.


Detik berikutnya Raja mengangkat tubuh Ellena, menggedongnya ala bridal. Laki-laki itu langsung membuka kemejanya, kemudian menatap sendu wajah istrinya yang pucat. “Percaya sama gue! Hemm!” Bisiknya. Setelah mengatakan itu Raja kemudian membuka dua kanci kemeja Ellena, lalu memeluk tubuh gadis itu agar Ellena mendapat kehangatan dari suhu tubuhnya. Tanpa Raja sadari setitik air matanya menetes tanpa permisih, hatinya begitu terluka melihat keadaan Ellena.


Bagas yang baru datang bersama tim medis menghentikan langkahnya, laki-laki itu mengerutkan kening kemudian membalikkan pandangannya. Melihat Raja tanpa pakaian memeluk Ellena menimbulkan ribuan pertanyaan, ditambah lagi tidak ada penolakan dari gadis itu.

__ADS_1


***


Bau obat-obatan menyeruak kuat diruangan serba putih itu. Seorang laki-laki duduk dikursi yang terletak di sisi brankar, menutupi wajahnya dengak kedua tangan, menopangkan kedua sikunya disisi brankar. Setelah beberapa saat dokter keluar dari ruangan tak ada laki-laki itu lakukan kecuali menemani sang istrinyang terbaring disana . Hanya diam. Hening.


Tiba-tiba saja, bunyi pintu yang dibuka kasar terdengar, namun sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya.


“Kak El gimana?”


“Gimana keadaan Ellena?”


Tanya Arabella dan Elvano secara bersamaan, pria yang masih lengkap dengan jasnya itu mencengkram kuat bahu Raja. Laki-laki itu mengangkat wajah, seketika itu tampak tatapan sayunya.


Elvano tidak mengusir kekhawatiran yang memenuhi dadanya. Laki-laki itu meruntuki jalanan yang macet sehingga dia terlambat datang, sepanjang perjlan Elvano terus menghawatirkan keadaan sang adik setelah mendapat panggilan telefon dari Raja. Sekarang hatinya sangat terluka ketika melihat satu-satunya wanita yang dia jaga sepunuh hati terluka seperti ini. Wajahnya pucat sudut bibirnya terluka.


“Luka syok.”


Jawaban singkat itu sedikit membuat perasaan Elvano langsung legah. Laki-laki itu langsung mengeraskan rahang, menatap adik iparnya marah. “Lo seharusnya jagain Ellena, lo suaminya. Kalau lo udah ngga sanggup jagaian adik gue, balikin dia kerumah.”


Sontak Raja mengangkat pandangannya, tatapan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Jika saja malam itu dia tidak memeluk Ellena dan fotonya tersebar dan juga dia tidak terlambat datang, saat ini Ellena pasti baik-baik saja.

__ADS_1


“Gue tau kalau pernikahan kalian karena perjodohan, lo nggak cinta sama adik gue tapi seenggaknya lo bisa buat dia tetap aman.”


“Kalau lo udag nggak bisa jagain Ellena, balikin adik gue. Gue kakaknya masih sanggup buat jagain dia.” Sentak Elvano dengan mata yang berapi-api. Namun kali ini Raja tidak tinggal diam laki-laki itu langsung mengalihkan tatapannya pada Elvano, menghunus tajam.


“Gue suaminya dan gue masih berhak atas Ellena. Dia tanggung jawab gue, meski lo kakaknya lo nggak ada hak atas istri gue. Satu lagi, berhenti ikut campur ini keluaraga gue, rumah tangga gue.” Ujara Raja penuh penekanan.


Ruangan itu kembali hening, Elvano memalingkan wajahnya kesal. Sejujurnya sebagai seorang kakak dia hanya khawatir terhadap keselamatan adiknya.


“Jadi kapan Ellena sadar?” Tanya Elvano kemudian.


“Kita harus menunggu 3 sampai 5 jam.”


Elvano mengangguk pelan. “Gue balik dulu. Takutnya mama khawatir kalau gue nggak pulang dan untuk saat ini rahasiain dulu masalah ini dari orang tua kita.” Elvano kemudian menatap sang adik diatas brankar,”, mengelus lembut rambutnya lalu meninggalkan ruangan tempat dimana Ellena dirawat.


“Kak… cari makan dulu ya, biar Bella yang jaga kak El. ” Tawar Arabella namun laki-laki itu enggan mengalihkan tatapannya pada Ellena. “Kak…”


Raja menggeleng. “Kakak nggak lapar.”


“Kalau gitu kakak istrihat sebentar aja. Kaka pasti capek..”

__ADS_1


“Nggak Bella.” Potong laki-laki itu.


__ADS_2