
Suasana diruangan itu kembali hening setelah Jennie dipaksa keluar, Ellena menatap wajah suaminya yang masih basah karena siraman air tadi, gadis itu kemudian menarik beberapa tisu diatas meja . Lalu mengeringkan sisa-sisa air diwajah suaminya. Ellena menatap wajah Raja sesaat ketik Raja tiba-tiba menahan pergelangan tangannya “Kamu nggak mau nanya apa-apa?”
“Nanya apa?”
“Tentang tadi?”
Untuk sesaat Ellena terdiam menatap wajah suaminya yang juga menatapanya dengan sayu. Detik kemudian gadis itu tersenyum. “Untuk apa bertanya lagi kalau hal itu sudah kamu ketahui. Dia Jennie kan, mantan kamu?“
“Hemm…”
Ellena mengulurkan tangannya menyentuh pipi Raja, mengelusnya dengan lembut. “Kamu tidak usah khawatir kalau dia datang lagi, aku akan melindungimu.”
Sontak Raja terkekeh kecil. “Memangnya bagaimana kamu melindungiku hem?”
“Kalau dia datang lagi, terus nyiram kamu dengan segelas air aku akan menyiramnya dengan seember air, kali dia nyiram kamu dengan seember, aku akan panggil petugas pemadam untuk menyiramnya.” Jawab Ellena membuat Raja terkekeh kecil, laki-laki itu mengulurkan tangannya menyentuh pipi Ellena. “Kenapa jadi cerewet gini sih? Apa kau tidak mengandalkan ku?”
“Memangnya apa yang mau lakukan pada perempuan? Memukulnya? Tidak ada pembenaran laki-laki memukul wanita, kalau kamu melakukannya orang akan memandang kau hanya seorang pecundang. Jadi, serahkan semuanya sama aku.”
“Itu yang aku takutkan El.”
“Memangnya kenapa?”
“Apa kamu tidak ingat kejadian tempo hari, aku hampir kehilangan kamu El. Jadi, jangan lakukan apapun untuk melindungiku, biar aku yang melindungimu.”
Ellena terdiam , wajahnya sedikit memerah namun beberapa detik gadis itu menyadari sesuatu. “Hemm… cara kamu ngomong kok berubah?” Tanya Ellena mengalihkan pembicraaan.
“Nggak suka? Ya udah nggak gu…”
__ADS_1
“Suka, aku suka.” Ucap Ellena tersenyum. “Kamu belum makan kan? Makan dulu yuk! Aku udah bawah makanan.” Sambungnya sambil memperlihatkan sebuah paperback. Ellena hendak berlalu dari tempatnya berdiri jika saja Raja tidak mencekal lengannya. “Kenapa?” Ellena bertanya.
“Beling Ellena.” Tunjuk Raja pada pecahan asbak dibawahnya. Dia kemudian menarik tubuh Ellena menyelipkan tangannya dibawah kaki dan punggung wanita itu untuk menggendongnya. “Aaaa… Raja kamu mau apa? Turunin, aku berat.” Teriak Ellena. Laki-laki itu baru menurunkan istrinya tepat diatas sofa. Sedangkan Raja ikut duduk disisi Ellena memperhatikan gadis itu membuka satu persatu makan siang yang dia bawah.
“Maaf karena nggak sempat masakin kamu, tapi tenang aja aku udah bilang sama koki hotel supaya makanannya nggak pake selada.” Ucap Ellena masih sibuk memindahkn makan untuk suaminya kepiring, sedangkan Raja terus menatapnya kecantikan istrtinya penuh kekaguman, tangannya terulur menahan mengenggam pergelangan Ellena.
“Kenapa? Kamu nggak mau ini?”
Tak ada jawab laki-laki itu mengambil alih piring dan sendok ditangan gadis itu lalu meletakkannya di atas meja. Sekalipun Raja tidak mengalihkan pandangannya dari Ellena, mengusap pipinya dengan lembut. Dia tidak pernah menyangka bisa mencintai gadis yang dijodohkan dengannya tanpa adanya dasar cinta.
“Ellena.” Raja memanggilnya dengan suara yang sangat seksi, mata mereka saling menatap.
“Hem…”
Raja memajukan tubuhnya, membuat gadis itu mundur hingga berbaring diatas sofa. “Ra…” CUP, Raja mengecup bibir Ellena tanpa permisi dengan seluruh hati dan raganya. Gadis itu terpejam, tangann kecilnya meremas lengan kemeja laki-laki itu hingga terejam dan tampak menikmati permainan sang suami. Ellena yang bahkn hanya diam mulai membalas lum*** yang Raja seguhkan, Ellena tersentak maget ketika tangan laki-laki itu menyusup ke dalam baju kaosnya namun tangan Ellena menahannya hingga ciuman itu terlepas membuat napas keduanya saling memburu. Kening keduanya saling menyatu
“Hemm…” Gumam Ellena saat mengangkat pandangannya menatap kedua manik indah sang suami yang diselimuti gelora yang menggebu.
Raja tersenyum melihat wajah lucu sang istri yang memerah. Dia kembalikan kecupan itu keleher Ellena, lalu berbisik. “Ayo kita lakukan! Melakukan yang belum pernah lakukan selama menikah.”
Nafas Raja wangi menyeruak ketengkuk Ellena yang dingin, gadis itu terpejam menahan seuatu yang asing untuk pertamakalinya. Tangannya berpegang diatas pundak laki-laki yang sedang menunduk itu.
“Tapi…”
“Kenapa? Aku suami mu Ellena, aku berhak atas dirimu.” Balas Raja masih menikmati leher Ellena sesekali.
“Iya tapi… Ahhh!!” Kata-kata Ellena lagi-lagi terputus, ******* kecil terdengar. Raja melepaskan permainannya, dia menatap wajah Ellena, mengusap rambut gadis itu. ”Kenapa!m? Kamu menolakku?”
__ADS_1
Ellena menggeleng pelan, bahkan tidak barenai menatap wajah sang suami saking malunya. “Bbbbb… Bukan begitu.” Jawab Ellena tiba-tiba menjadi gagap. Raja kembali menyerbunya, memegang tangan Ellena yang menahannya, laki-laki itu kembali menemggelamkan wajahnya di ceruk leher Ellena. Mengecupnya hingga meninggalkan bekas.
“Raja, kamu tidak akan melakukan itu kan disini?”
“Memangnya kenapa? Hem?” Raja menjawab masih dengan aksinya, bahkan tangannya sudah berhasil menyusup ke kaos Ellena.
“Raja… hmmm, ini dikantor Raja.” Ucap Ellena memohon, namun laki-laki masih dengan aksinya. Nafas Raja tak lagi selembut pertamanya namun sentuhan dan perlakuan laki-laki itu membuat Ellena benar-benar tidak tahan untuk mendes**** untuk kesekian kalinya. “Raja, ini pertama kalinya untukku, bagaimana mungkin kita melakukannya ditempat ini.” Ucap Ellena rendah dan benar saja kata-kata gadis itu berhasil membuat Raja berhenti. Laki-laki itu kemudian mencium kening Ellena dengan lembut.
“Kalau gitu kita pulang!”
“He? jam segini?”
“Hem…” Raja mengangguk penuh kesungguhan.
“Tidak, kamu kerja. Mana boleh kayak gitu?”
“Kamu pikir aku bisa kerja setelah apa yang kamu lakukan sama aku?”
Ellena membulatkan matanya. “Apa yang aku lakukan? Kamu yang mulai.”
“Siapa suruh kamu cantik.” Gumam Raja membuat Ellena tersenyum merona dalam waktu yang lama.
Detik kemudian Ellena menggelengkan kepala, mengambil kembali kesadarannya. “Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu tetap disini dan bekerja, bagaimana kalau ayah memecatmu? Kita makan apa? Kegantengan kamu nggak bisa buat beli beras.”
“Kamu bahkan belum memakai uang yang aku kasih Ellena, sekarang kamu khawatir kalau aku dipecat mau makan apa.” Ellena tersenyum simpul, Raja mengulurkan tangannya menyentuh pipi sang istri. “Walau aku dipecat di perusahaan ini, uang aku nggak akan habis Ellena. Habiskan dulu uang yang aku kasih baru kamu mikir kita makan apa nanti.”
“Jangan menyesal ya! Aku ahli dalam menghabiskan uang.”
__ADS_1
“Dan suamimu ahli dalam menghasilkan uang.” Balas Raja yang tidak mau kalah