Raja Untuk Ellena

Raja Untuk Ellena
Bab 29


__ADS_3

Ellena menuruni tangga sambil mencepol rambutnya, padangannya langsung tertuju pada suami juga sekertarisnya yang sedang berbincang serius.


“Selamat pagi nona.” Sapa Leo, membuat Raja menoleh.


“Pagi, lanjutkan saja pembicaraan kalian. Jangan hiraukan aku disini.” Ucapnya sambil menuju kemeja patri, dia meraih sebuah gelas lalu menuangkan air kedalamnya


“Jadi sarapannya?”


“Hemm?” Ellena meletakkan kembali gelas lalu meraih ponselnya di dalam saku. “Kamu belum pesan apa-apa?”


“Belum, kan nunggu lo.”


“Ya udah aku pesan, kamu mau apa?”


Raja mengambil posisi duduk tepat disamping Ellena, sentara gadis itu masih menatap layar ponselnya. Memilih makanan apa yang ingin dia makan pagi ini. “Ada yang mau kamu makan?” Tanyanya sambil menoleh pada sang suami. “Bubur mau?”


“Gue mau…”


Ellena mengenyerit ketika Raja tidak melanjutkan kalimatnya. Laki-laki itu malah diam merhatikan dengan alis menyatu, seolah tengah menyelidik sesuatu. “Kenapa?” Sontak Ellena menyentuh kedua pipinya


“Bibir lo pucet? Sakit?”


Ellena mengerjab, memang saat ini wajahnya terasa hanga. Tangannya lalu menyentuh bibirnya. “Padahal aku udah pake lipblams, masih kelihatan ya?”


Tatapan Raja menajam. “Jawab pernyaan gue! Lo sakit?”


“Cuman deman, sedikit pusing. Mungkin masuk angin.”


Tanpa aba-aba atau kesiapan Ellena, laki-laki itu lagi-lagi mengendongnya menju kursi didepan tv.

__ADS_1


“Leo, pergi ke hotel bawakan semua makanan yang sehat dan obat penurun demam.”


“Baik tuan.”


Raja kembali duduk disisi Ellena. “Kapan sakitnya?”


“Nggak tau, mungkin tadi pagi.” Benar dugaan Raja, semalam ia memeluk istrinya saat tidur semua masih baik-baik saja. “Aku cuman ngantuk mau tidur, kalau mau susuatu bilang aku aja ya. Kita pesan dulu.”


Raja menghelai nafas, untuk pertama kalinya dia merasakan hal ini, kekawatiran yang tidak ia mengerti, melihat Ellena tampak menahan kantuk Raja kemudian menggeleng. “Nggak usah, gue udah nyuruh Leo tadi. Sepuluh menit lagi dia bakal sampai. Kamu tidur aja! Hari ini nggak ada kuliah kan?”


“Ada, jam lima soreh.”


“Bolos aja.”


“Nggak, aku udah pernah nggak masuk matak kuliah ini.” Raja berdecak kesal. “Terus mau kuliah dalam keadaan sakit?”


“Kalau istriahat bentar, nanti juga sembuh.”


“Ya udah aku tidur ya! Disini aja, soalnya kamar aku juga belum tau yang mana.”


Kemudian, gadis itu hendak membaringkan tubuh diatas sofa yang panjang, merebahkan kepalanya diujing. Tiba-tiba Raja menahan lengannya, kemudian menarik tubuh Ellena kedada bidangnya. Memeluknya dari belakang, gadis itu sontak diam dan kaku, terkejud bahkan kini jantungnya memompa lebih kecang, seakan ingin keluar dari tempatnya


“Raja.”


“Badan lo anget. Nggak usah kuliah dirumah aja ya!”


Ellena benara-benar tidak bisa bergerak ketika Raja menyentuh dahinya. “Nafas El, lo bisa mati kalau nahan nafas” Dia langsung mengehelai nafasnya panjang


“Aku tetap mau kuliah Raja, lagian ini cuman demam biasa. Kalau aku istirahat sebentar nanti juga sembuh.”

__ADS_1


“Kenapa ngeyel sih?”


Ellena tidak mampu bahkan untuk sekedar menggelang, dalam posisi seperti ini gadis itu bisa mencium aroma maskulin dari tubuh suaminya. Menenangkan sekaligus membuatnya berdebar. Mengapa Raja sangat gemar membuat jantungnya berdetak kencang tidak karuan?


“Aku tidur dikamar aja ya.” Cicit Ellena kemudian.


Raja mengerutkan dahi. “Kenapa emang?”


“Masih nanya? Jantung aku udah mau copot.” Batinnya. Namun laki-laki itu memeluknya tanpa dosa.


“Nggak pegel apa?”


“Nggak apa-apa, tidur aja! Nggak usah banyak protes.”


Untuk sesaat hening kembali bergelantungan, tatapan Raja masih fokus pada televisi yang menampilkan pasar saham terkini sambil memeluk istrinya sementara gadis itu masih berusaha menutup mata namun sangat sulit.


“Kenapa Baju-baju aku ada dikamar kamu? Kebapa nggak dimasukkin dikamar lain? “ Tanya Ellena tiba-tiba, sesaat Raja langsung menunduk melihat wajah istrinya.


“Biarin disana, lagian kamar lo belum beres”


“Tapi kan masih ad ka…”


“Udah diem, lo protes gue cium.” Lagi-lagi ancaman itu, namun berhasil membuat Ellena bungkam. Ellena sedikit menggeser posisinya hingga sedikit miring, hingga dia dengan jelas bisa melihat ewajah suaminya. “Udah tidur! Katanya mau kuliah nanti.” Pintanya sambil mengelus pipi Ellena, perlahan matanya mulai terpejam begitupun dengan Raja. Mereka terlelap saling berpelukan, begitu nyaman dalam dekapan Raja.


Arabella yang baru tiba langsung mumutar badan, mata sucinya benar-benar ternoda mulai sekarang.


“Ada apa nona?” Tanya sekertaris Leo yang baru juga tiba setelah Arabellea


“Husst…” Arabella menarik tangan Leo untuk keluar dari sana. “Jangan di ganggu, mereka sedang tidur.”

__ADS_1


“Tapi ini makanan dan obat nona Ellena.”


Arabella kemudian mengambilnya, menaruh backpaper itu diatas meja begitu hati-hati agar tidak menimbulkan suara apapun lalu kembali keluar dari rumah kakaknya.


__ADS_2