
Perjalanan Neha dan keluarga beserta pelayan yang menolong nya tersebut. sudah semakin jauh dari kota.
di mana Neha harus waspada akan ancaman dan kegilaan Exsel yang akan berusaha semampu nya menyiksa Neha. jika nanti di temukan.
Neha saat ini tidak punya pilihan lain, selain ikut dengan pelayan itu ke daerah yang di maksud oleh sang pelayan. yang di anggap nya akan aman dari kejaran-kejaran Exsel dan anak buah nya.
Sejak perjalanan lebih tepat nya pelarian mereka dari rumah sakit tadi, Neha tak mendengar komentar atau ucapan apa pun yang keluar dari mulut sang adik atau pun ibu nya.
Mereka hanya diam, ntah diam dalam kebingungan akan apa yang mereka lakukan. atau mereka juga merasa takut akan apa yang terjadi pada mereka saat ini.
Hanya kebisuan yang terjadi. hanya Neha dan sang pelayan itu yang sibuk mencari cara dan jalan keluar untuk pelarian agar aman dan nyaman.
" nona anda tidak membawa hp punya anda bukan??" tanya sang pelayan menanya kan tentang Hp milik Neha.
"aku hanya membawa Hp ini, karena yang aku tau hp jadul kayak gini tidak bisa di lacak bukan??" ucap Neha menampak kan Hp jadul yang hanya pake radio jika ingin memutar musik.
Pelayan itu tersenyum dalam ketakutan. melihat Hp yang di tampak kan Oleh Neha pada nya.
"Ternyata anda Pintar juga Nona" ucap sang pelayan memuji Neha.
"kamu bisa aja, tolong untuk ke depan jangan panggil aku Non/nona, panggil nama saja ya..Neha" ucap Neha kembali menyimpan Hp jadul milik nya itu. sambil mengulur kan tangan dan langsung menyebut ,Nama nya. walau pun sang pelayan sudah mengetahui Nama Neha, Namun Neha belum tau sampai sekarang nama pelayan tersebut.
__ADS_1
"Kenal kan nama mu, karena sampai hari ini aku belum tau Nama mu" ucap Neha masih betah mengulur tangan, menunggu untuk di sambut berjabat tangan..
Nama saya yani nona" ucap Sang pelayan yang belum terbiasa itu.
Non.... eh Neha untuk menunju perkampungan yang saya maksud kita seperti nya tidak bisa masuk pakai angkot atau motor, karena jalan nya masih jakan setapak, jakan yang sering di lewati orang untuk pergi ke kebun. Tapi walau pun tidak ada kendaraan satu pun masuk ke sana.
Namun perkampungan itu sangat makmur dan punya banyak perkebunan untuk orang-orang bertahan hidup. masuk ke sana kita akan di bawa pakai kuda dan di atas kuda tersebut sudah di sediah kan tempat duduk yang aman bagi orang yang memesan nya. itu bisa di bilang seperti Ojek kuda" ucap sang pelayan.
Yani... trimakasih banyak, jika saja kamu tidak menolong kami, mungkin Nasib ku dan keluarga ku sekarang sudah ada di tangan Exsel.
Aku yang salah, namun aku tak menyangkah akan separah ini akibat dari ulah ku" ucap Neha merenung kan kesalahan yang dia perbuat.
"Dan pernah juga membu nuh seorang bayi yang tak berdosa di depan kedua orang tua nya, sedang kan orang tua dari bayi tersebut di ikat. hanya perih dan hancur nya hati mereka yang bisa mereka gambar kan akibat ulah dari kakak dari bapak sang bayi. Kejam bukan" ucap sang pelayan bernama Yani itu.
Neha yang mendengar cerita dari Pelayan tersebut menelan saliva kasar karena diri nya semakin ketakutan akan Exsel yang menyimpan Dendam yang belum terbalas pada nya, Ntah kenapa Neha Merasa cepat atau lambat Exsel pasti menemu kan mereka di mana pun mereka bersembunyi.
Sang ibu menatap sedih sang putri nya yang malang, yang harus menerimah hal sekejam itu, walau punn sang ibu tidak tau kesalahan fatal apa yang Neha perbuat kepada orang yang bernama Exsel itu. lebih tepat nya Tempat baru Neha bekerja, yang selama ini memberi Neha pekerjaan dan uang yang banyak tanpa bisa mereka dapat kan seumur hidup mereka.
"Nak.. apa pun yang terjadi, ibu tetap berada di samping mu dan membela mu Nanti Jika tuan tempat mu bekerja itu telah menemu kan kita, nyawa ibu jadi taruhan nya jika mereka menyakiti mu nak" ucap sang ibu sambil mengelus punggung putri nya selama ini menjadi tulang punggung keluarga itu.
Dan sekarang baru lah sang ibu mengeluar kan suara untuk pertama kali sejak mereka meninggal kan rumah sakit tadi.
__ADS_1
" Buk jangan katakan apa pun yang bersangkutan dengan nyawa, Jika hal itu terjadi Neha lah yang harus bertanggung jawab, Karena Neha semua ini terjadi dan keluarga kita di ancam seperti ini" jawab Neha menatap sendu mata sang ibu dan kedua adik nya.
Kedua adik Neha yang seharus nya sekolah, namun karena ulah nya, adik nya tidak bisa lagi menempuh oendidikan, karena jika mereka mendaftar kan nama mereka, pasti akan bisa di lacak di internet dan itu akan menjadi ancaman untuk kedua adik-adik nya yang masih remaja itu.
Hal seperti itu lah yang Sangat Neha hindari, sehingga harus membawa keluarga nya masuk ke pelosok kampung yang jauh dari kota besar.
"Kak.. jangan memandang kami seperti itu. kami iklas kok tidak bersekolah lagi, demi keamanan kita bersama, belajar bisa sendiri tanpa guru dan internet, yang penting kita jauh dari bahaya yang mengintai kita" ucap sang adik yang melihat Neha menatap mereka dengan tatapan yang begitu sangat sedih.
Adik-adik Neha memeluk sang kakak dan begitu juga dengan ibu nya.
Pelayan itu terharu melihat kebersamaan keluarga Neha yang begitu harmonis.
Sang kakak yang masih di kursih roda. ntah bagai mana nasib dia selanjut nya, Neha tajut Tidsk bisa menemu kan obat-obat tersebut agar sang kakka di rawat di rumah saja.
Padahal semau sudsh di rencana kan Neha sebaik mungkin, namun gara-gara kesalahan yang Neha lakukan, Semua jadi beranta kan seperti ini.
"Ma'af kan Neha kak, seharus nya kakkak masih di rawat sangat baik di rumah sakit. Namun sekarang sudsh sangat jauh dari perawatan, Neha akan berusaha Jika kita sudsh sampai nanti untuk mencari kan obat terbaik untuk kakaka" ucap Neha memegang tangan sanga kakkak yang terasa cukup dingin dan tak terlihat pergerakan dari tubuh lemah itu.
Mungkin pikir Neha Sang kakkak memang sudah biasa tidak bisa menggerak kan tubuh nya, namun satu hal yang mereka tidak sadari saat membawa sang kakka dari rumah sakit.
Tabung oksigen... ya tabung Oksigen yang mereka lepas dari pernafasan sang kakaka yang lemah dan tidak ada penanganan dari dokter saat mereka keluar secara diam-diam dari rumah sakit tersebut.
__ADS_1