
Mereka tetap melanjut kan perjalanan tanpa henti, dan ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
Sudah hampir setengah hari perjalanan. mereka mulai merasa kan kelaparan yang menyerang lambung mereka.
Walau pun mereka lari tanpa persiapan apa pun, Namun Neha masih sempat membawa uang yang sudah dia ambil dari Exsel
cukup banyak. untuk persiapan mereka setahun oun masih sangat cukup, Karena Neha tidsk terlalu mengerti dengan ATM jadi dia pernah meminta uang kas saja pada Exsel, dan exsel pun mengerti dan memberi Neha uang dengan tangan ke tangan.
Dan tas cukup besar seperti anak sekolah yang selalu dia bawah itu penuh dengan tunpukan uang yang di beri kan Exsel pada nya.
Terlihat kusam dan jelek memang tas tersebut, namun siapa yang bisa menebak bahwa tas itu tas dengan kualitas bahan yang bagus dan Neha isi dengan uang yang banyak...
"Kita berhenti dulu untuk makan ya" ucap Neha yang membuat mereka semua menoleh kepada Neha.
"Kak kita dalam pengejaran, jika kita keluar dan di kenali banyak orang, akan menjadi ancaman utuk keluarga kita" ucap sang adik yang cukup cerdas dalam hal yang membuat nyawa mereka dalam bahaya.
"Jadi kita harus bagai mana, kakak sudah sangat lapar, kan kakak yakin jika kalian juga sangat lapar bukan??" ucap Neha menoleh kepada mereka yang juga menatap nya.
" Berhubung kami adalah orang yang belum di kenali Oleh tuan kakaka. jadi kami yang akan keluar membeli itu semua dan dengan sembunyi-sembunyi pasti nya, agar tak terlihat oleh orang lain dan kemungkinan akan di kenali orang sekitar. walau saat ini belum ada yang mencari identitas kami" ucap sang adik yang mewanti-wanti identitas mereka.
Laku dengan penyamaran yang cukup Pintar kedua adik Neha keluar dari angkot tersebut untuk mencari makanan dan membeli nya sebanyak mungkin. Untuk stok selama perjalanan Mereka.
__ADS_1
Dan mereka juga membeli benerapa pakaian tertutup dan selimut beserta yang lain nya untuk penyamaran mereka..
Merasa cukup dengan keperluan mereka akhir nya kembali dengan banyak barang.
"pak ini biaya untuk perjalanan kami, Berhenti di gang depan ya pak" ucap Neha memberi sekitar Dua juata lebih untuk ongkos mereka Dan pintar nya memberi uang itu kepada sang sopir, tidak menyentuh langsung uang tersebut. dia memakai kan plastik agar sidik jari Neha tak melekat di uang kertas tersebut.
Kini mereka sudah berada di tempat oemberhentian tersebut dengan tempat yang sepih mujuh jalan setapak dan terlihat begitu banyak hutan yang belum tersentuh manusia di tempat itu.
Kita harus Naik dulu ke sana mencari tempat yang cukup luas dan aman. walau pun sedikit naik gunung dengan kondisi sang kakak yang tak bergerak itu, mereka berusaha mengending nya.
Cepat bantu turun kan kakaka dari kursi roda biar Neha Gendong" ucap Neha kepada kedua adik nya.
"Kak Neha ada apa dengan tubuh kakak" ucap Mereka yang mulai membuat Neha panik lalu meraba tubuh kakak nya yang dingin itu.
"Bukk.." ucap Neha menoleh kepada sang ibu dan ibu Neha juga langsung mendekat dan menyentuh tubuh anak nya yang dingin itu.
Namun dengan segenap Ilmu yang Yani tau, dia meraba urat Nadi dan leher Kakak Neha. bukan ingin membuat mereka sedih, Namun Yani harus berkata jujur. trimah tidak trimah nya, bahwa ini kenyataan yang harus mereka hadapi.
"Neha ma'af.. bukan ingin membuat kalian sedih, tapi kakak mu sudah meninggal, dan jika di lihat dari dingin dan kaku nya tubuh kakak mu, dia sudah meninggal di dalam angkot saat awal kita mulai naik tadi" ucap Yani yang membuat keluarga Neha langsung berteriak histeris mendengar ucapan Yani.
Sebenar nya mereka juga tau akan itu, Namun tidsk siap dengan aoa yang akan mereka hadapi saat ini.
__ADS_1
Sang ibu langsung terduduk di rerumputan liar di sana dan Neha beserat sang adik memeluk tubuh Kaku kakak nya yang sudah tak bernyawa itu.
"Kak ma'af kan Neha gak bisa buat kakak bahagia, Neha nyesal kak, Neha yang salah" ucap Neha meratapi diri di depan jasad kaku sang kakak dan menepuk-nepuk dada nya yang terass sesak, seakan dunia ini runtuh menimpa Hidup nya yang malang.
Yani yang tak bisa berbuat apa-apa hanya mengelus dan ikut sedih dengan apa yang Neha hadapi. kenyataan hidup yang Pahit.
Namun juga Yani tidak bisa membiar kan Neha berlarut sedih takut nya mereka tidak punya tenaga lagi untuk mendaki dan menyelamat kan keluarga yang masih menemani nya.
Dengan berat hati Yani mengekuar kan suara nya.
"Neha ma'af.. jika saat-saat seperti ini aku harus menyampai kan hal yang mungin tidak ingin kamu dengar saat berduka, Namun ini menyangkut nyawa saudara dan ibu mu yang masih menemani mu. kita harus mendaki sekarang sebelum matahari terbenam, kamu juga ingat bukan kita dalam mengejaran. jika kamu terus bersedih begini, kamu nanti tidak punya tenaga lagi untuk beranjak dari tempat ini dan juga menggendong jasad kakak mu. atau kamu berniat ungtuk meninggal kan nya di sini" ucap Yani kasar Namun itu kekuatan besar yang di beri kan Yani Untuk Neha yang berduka.
Sekelbat pikiran tentang Exsel muncul di pikiran Neha dengan begitu banyak ancaman-ancaman. dengan menghaos air mata Neha lansung mengending tubuh sang kakak yang sudah kaku dan dingin itu, di bantu dengan selebar kai untuk mengendong.
Sekarang Neha mengajak sang ibu yang sudah lemah dan kedua adik nya yang masih menagis pilu, meratao kepergian sang kakak dalam keadaan merreka yang sedang menghadapi masalah besar.
Ayok buk" ucap Yani membantu sang ibu Neha berdiri dalam keadaan tubuh yang lemas, dan Adik Neha mengeluar kan air yang tadi mereka beli lalu memberi kan kepada sang ibu agar ada sdikit tenaga untuk mendaki.
Mereka pun memulai itu semua dengan tekad besar, menuju arah tempat yang Yani cerita kan tadi. Namun untuk dapat datang Ke sana, memang harus mendaki lebih dahulu, dan Nanti mereka bisa menemu ksn perkumpulan Ojek kuda yang di maksud oleh yani yang di cerita kan nya tadi kepada Neha.
Dengan semangat untuk mempertahan kan hidup Neha mengending tubuh sang kakak yang cukup berat karena keadaan mereka menanjak atau menaiki tebing yang cukup tinggi.
__ADS_1