
Neha yang sudah tenang mendengar ucapan dari bapak pemandu kuda itu. kini melanjut kan perjalanan menuju perkampungan dan langsung ke rumah duka dengan di pandu sang bapak itu lansung agar tidak sibuk dengar bertannya kepada orang kain lagi.
Tidak berpikir untuk mencari penginapan untuk Mereka, Neha langsung mengajak keluarga bersama Yani langsung ke rumah duka untuk langsung mengubur kan sang kakak. yang sudah lama dalam gendongan Neha.
Sungguh kasihan bukan Meninggalndalam perjalanan dalam pelarian lalu di gendong dalam keadan tubuh yang sudah kaku dan tak pasti akan di kubur kan di mana.
Namun Neha begitu bersukur saat ini jasad yang sudah kaku dan dengan hitungan jam juga akan mulainhancur itu. akan segerah di makam kan di tempat yang layak. Dan Neha begitu berterima kasih kepada bapak-bapak yang membantu diri nya.
"Sungguh trimakasih pak. berkat bapak kakak ku bisa di kubur dengan layak di kamoung ini. saya tidak akan melupa kan pertolongan yang bapak beri kan pada saya" ucap Neha saat sudah mendekati rumah duka yang terlihat begitu koko bangunan itu, walau pun kampung ini pelosok kampung yang teramat jauh dari kota dan kemerlip lampu kota.
"Ini lah bangunan nya, di dalam ada penjaga yang akan menerimah kalian. dan juga ada tempat penginapan jika kalian ingin" ucap bapak itu. lalu pergi meninggal kan Neha dan rombonan nya itu.
Neha tak Henti-henti nya terharu dan menangis karena sang kakak akan segerah di kubur kan hari itu juga walau waktu sudah cukup sore untuk di lakukan.
Namun menurut informasih. kuburan dan yang akan membawa jasad punya petugas dan orang nya masing-masing. jadi tidak perlu takut. Dan setiap jasad yang di kubur tidak akan di kena kan biaya apa pun. Karena mereka iklas dengam pekerjaan mereka.
Mereka selalu tolong menolong dalam hal apa pun. itu lah desa itu makmur.
satu hari satu malam pun berlalu. Kini Neha dan keluarga. belum berpikir untuk mencari penginapan untuk mereka tinggal selanjut nya. Karena di rumah duka tersebut menyediah kan tempat menginap setiap keluarga yang berduka dalam satu ruangan besar untuk mereka merenungi atau berduka.
Neha dan keluarga masih belum mengistirahat kan tubuh lelah mereka. karena belum terbiasa tanpa sang kakak yang selaku ada bersama bereka sebelum nya.
__ADS_1
Namun ini malam pertama Di mana Neha dan keluarga tanpa seorang kakak yang mereka selalu rawat dan jaga.
Tapi ibu lebih kasiahn melihat kondisi Neha yang terus saja bersedih hati dan merutuki diri nya. walau itu tidak di akui nya seperti sebelum nya. Namun Ibu Neha tau, jika Neha mesih memikir kan diri nya yang tidak bisa membuat sang kakak sembuh malah kematian yang menjemput nya..
Sang ibu mendekat Ke arah Neha yang duduk di kasur lantai paling ujung.
"Nak..?? jangan membuat diri mu begitu terpuruk karena tidak bisa menyelamat kan kakak mu, sudah takdir dia. iklas kan. bukan nya kamu sudsh sangat berusaha, Nmaun takdir tidak bisa merubah keinginan mu yang tinggi itu. mari ke depan nya pikir kan kedua adik mu, ibu tua mu ini. untuk ke depan nya. bagai mana cara nya kamu melindungi kami yang masih hidup dan dalam pengejaran dan pencarian dari orang yang kamu maksud." ucap Ibu Neha yang membuat Neha menoleh dan mulai sadar dari rasa keterpurukan itu.
Neha memegang tangan ibu nya. lalu saling menguat kan.
Ma'af buk, gara-gara Neha yang terus seperti ini, sehingga hampir melupak kan ibu dan adek-adek" ucap Neha masih menggemgam tangan sang ibu yang mulai terasa menua itu.
"Iya nak. jangan begini terus ya. kita butuh menjaga kesehatan kita ke depan nya untuk kita bisa terus bertahan hidup" ucap sang ibu.
"Neha...!!! bangun kan cepat adik-adik mu. tempat ini seperti nya tidak aman bagi kita. tempat ini terlalu luas jika saat ini kita dalam pengejaran, dan tidak bisa di pasti kan bukan jika kita tidak di temu kan di tempat umum yang sangat sering di temu kan.
Aku cukup yakin jika kampung ini aman untuk kita dari pengejaran namun kita juga harus waspada, Karena dia punya jaringan di mana-mana dan ssekarang kita keluar dari sini lewat pintu belakang" ucap Yani kepada keluraga Neha
Benar begitu yan, jika demikian mari kita pergindari sini." ucap sang ibu yang mulai menghampiri kedua adik Neha lalu membangun kan mereka dalam diam.
Dua adik Neha pun terbangun dengan mata yang lelah dan masih sangat mengantuk.
__ADS_1
"Ma'af harus membangun kan kalian berdua dibtengah malam begini. Namun aku takut saja kitabtidak aman di sini. tanpa berkomentar Neha hanya ikut saja.
"Kita akan tidur di mana malam ini mbah Yani" bisik sang adik Neha.
"Nanti mbah yani tunjuk kan tempat beristirahat kita yang baru ya.yang pasti nya lebih aman dari tempat yang kita tiduri malam ini" ucap Mbak Yani yang yang mulai bergegas pergi melewati pintu belakang. untuk segerah pergi dari rumah duka yang di huni oleh para penduka di sana.
Mbak Yani dan keluarga Neha mulai melangkah kan kaki dengan langka cepat menuju tempat yang di ketahui oleh mbak Yani tersebut.
Sedang kan di Setiap sudut kota dan juga pelosok perkampungan, wajah Neha mulai terpampang di setiap kertas yang tertempel dan juga berita, hampir semua tersebar, dengan alasan pembunuhan sadis.
Dengan di imingi Uang. banyak orang yang tergiur untuk menangkap Neha dan menyerah kan ke Exsel.
Namun nasib baik msih berpihak pada Neha yang masuk ke perkampungan yang jauh dari internet tersebut.
Dan beberapa hari ini. msih terbilang aman untuk Neha dan keluarga beserta mbak Yani di kampung tersebut. Ntah jika beberapa minggu lagi.
Satu malam mereka lewati menuju tempat yang di tujuh. Kini suda menunjuk kan jam tiga dan baru lah sampai di tempat tujuan, Dengan Rumah kecil jauh dari rumah warga lain nya. Namun terliht nyamannuntuk mereka tinggali.
Mbak Yani mengajak mereka memasuki rumah kecil itu dengan senter Hp butut yang tak tersambung ke internet....
Mbak Yani mulai menyala kan beberapa lampu rumah kecil itu agar terlihat di mana saja ruangan di dalam nya.
__ADS_1
"Untuk kita mengistirahat tubuh kita sampai pagi, Kita tidur dulu di sini, besok pagi kita mulai berberes dan membersi kan rumah ini agar lebih bersih dan dan rapi" ucap Mbak Yani menunjuk Ke arah sofa yang terdapat di ruang tamu tersebut dan mukai membuka penutup sofa agar debu yang ada di penutup tak terlalu mengotori mereka untuk beristirahat.
Neha, ibu Neha dan kedua adik nya mengikuti ucapan mbak Yani dan mulai membaring kan tubuh lelah dan membiar kan tanah yang masih lengket di kaki mereka terbawa ke tempat tidur. Karena air untuk membersi kan itu belum di ketahui di mana letak keberadaan nya