RANJANG BASAH SANG PERAWAN

RANJANG BASAH SANG PERAWAN
SEMAKIN LIAR


__ADS_3

"Kau berani menci umi ku, lalu pergi tanpa bertanggung jawab" ucap suara serak sperti orang yang baru bangun dari tidurnya.


Neha melotot kaget, mendengar suara itu, sehingga tidak berani melanjut kan langkah untuk beranjak dari sana.


"Kenapa..??, Kamu malu,?? Takut??, Atau begitu kaget saat tau jika aku sadar dan menyadari ulah mu ketika aku tidak sadar diri. kamu mengira aku begitu lama tak sadar kan diri akibat obat bius itu??" pertanyaan Exsel membuat Perasaan Neha campur aduk. memang malu saat Exsel tahu dan juga takut Exsel marah ketika mengetahui ulah dia saat Exsel tak sadar kan diri.


"Ke sini, dan menghadap ke arah ku, Atau kamu butuh hukuman??" ucap Exsel yang masih berbaring dan belum berniat menggerak kan tubuh nya karena luka yang baru saja terjahit dan takut tebuka kembali jika bergerak.


Neha mendengar itu. perlahan membalik kan Tubuh nya sambil menunduk kan kepala.


Hanya membalik kan tubuh, tak berniat intuk mendekat dsn lebih dekat ke arah Exsel.


"Mendekat ke arah ku, bukan hanya berbalik" ucap Exsel kembali mengeluar kan suara serak tersebut.


Neha mengeser sedikit demi sedikit kaki nya, dsn itu pun dia seret, seperti anak-anak yang sedang mendapat hukuman dari orang tuanya.


"Jangan membuat ku marah Neha, karena sikap mu yang membuat ku mulai emosi ini" ucap Exsel, Dan Neha pun melangkah lebar dan pasti.


"Angkat kepala mu dan tatap aku, dsn jangan bersembuyi di belakang sikap mu yang berani tadi, bukan nya tadi kamu begitu sangat berani menyentuh dan menci umi ku" ucap Exsel, Namun belum ada satu kata pun yang terucap dari bi bit Neha yang indah itu.


"Duduk di kursi mu dan tatap aku seperti tadi" ucap Exsel kembali, Dan Neha mengakat kepala nya dan duduk kembali di kursih tadi. lalu menatap Exsel dengan lekat seperti tadi.


Yang membuat Neha Gugup, Exsel juga menatap dia lekat dan tak berkedip dan mulai menampak kan senyum indah dari wajah tampan nya.


"Owchhh" begitu indah dan tampan nya wajah pria ini jika tersenyum seperti itu" ucap hati Neha menatap sekilas senyum milik Exsel laku kembali menunduk kan kepala, tak sanggup bertatapan langsung dengan Exsel.


Hal yang di lakukan Neha membuat Exsel gemas dan berpikir segerah ingin menin dih tubuh Neha Hingga lem as.

__ADS_1


Walau pun belum sanggup melakukan itu. Namun Exsel tak akan menyia-nyia kan waktu nya untuk tidak melakukan sesuatu hal untuk dia Dan Neha.


Menarik tengkuk Neha lalu menyambar Bib ir Neha yang merah seperti cerry itu dan melum at nya pasti.


Yang membuat Neha Memejam kan mata dsn tak menolak lum atan itu, Exsel melakukan nya dengan lembut.


Ntah keberanian dari mana, Neha mendekat ke arah Exsel dan membalas lum atan itu dan mema suki lid ah milik nya kedalam mul lut Exsel.


Exsel yang mendapat kan sikap Neha yang berani itu, Dia pun tak kalah gesit. terus berlombah dan saling mel umat. hingga merwka merasa mulai kekurangan oksigen saat mereka begitu tak mau mengalah.


Nha yqng kekurangan nafas pun mengehentikan itu, dan Exsel memberi waktu sejenak saat mengetahui Neha butuh pasokan Oksigen.


Namun hanya sejenak, Dan Exsel kembali melakukan nya hingga di merasa cukup puas.


Dan Aneh nya Neha tak menolak sedikit pun tentang yang mereka lakukan saat ini.


Melepas tau tan dua benda keny al itu, lalu Exsel menatap bi bir Neha yang mulai membengkak karena ulah dia yang begitu rakus.


Kembali menunduk dan menelan saliva nya kasar.


"A...kk..aku ma..makan dulu" Ucap Neha begitu gugup dan sangat terbata-bata.


"Bukan nya kamu habis makan puas barusan" ucap Exsel menambah kegugupan pada Neha seperti anak perawan yang sangat polos akan hal yang dia lakukan tadi.


Dia membalas ucapan Exsel, Neha berlalu menuju tempat di mana dia menarok makanan tadi. dan duduk di sana memunggungi Exsel yang masih menatap Nha yang tak ingin melihat dia karena begitu malu.


Melihat sikap Neha yang tak karuan, Exsel menggigit bi bir nya gemas da.n ingin segerah Melahap Tub uh Neha dengan Candunya..

__ADS_1


"Tungguh aku pulih, tak akan ku biar kan sikap mu itu membuat ku gemas, akan ku kurung kamu di kamar ini bersama ku hingga kamu tak sanggup menuruni kaki jenjang mu ke lantai kamar ini" ucap Exsel penuh Gai rah


Neha yang mulai menyuapi makanan ke mulut nya tanpa berpikir ingin menawar kan itu kepada Exsel yang lebih butuh tenaga.


"Ahhhggg" ucap Exsel mengeluar kan teriakan seperti terdengar kesakitan di telingah Neha..


Neha kaget dan langsung menoleh Melihat Exsel meringkuk seperti menahan sakit itu.


Neha menghentikan makanan nya laku mendekat ke arah Exsel.


"Kenapa??, apa luka mu terasa sakit, apa yang harus aku lakukan" ucap Neha yang terlihat panik saat melihat kondisi exsel, Neha membuka selimut melihat luka Exsel.


Dan benar saja, luka itu terlihat mengeluarbkan darah segar menembus kain kasah yang memperban luka tembak tadi.


"Ohhh.. tuhannn, apa yangbharus aku lakukan. aduhh aku jadi bingung, Ucap Neha saat melihat Exsel memucat dan mengeluar kan keringat dingin saat Neha menyentuh tubuh Exsel yang tak pakai baju itu


Di saat yang bersamaan telpon dari dokter pribadi Exsel menelpon ke Hp Exsel yang ada di dekat mereka.


Tanpa meminta ijin ke Exsel yang sedang kesakitan, Neha langsung mengakat telpon itu dan mengata kan hal yang di alami Exsel saat ini.


"Bukak pintu nya" ucap suara itu, dan Neha pun berlari ke arah pintu untuk membuka pintu tersebut, dan benar saja jika sang dokter sudah ada di depan pintu.


Dokter itu langsung menuju Exsek dsn melihat luka yang kembali berdarah di punggung Exsel..


"loh begitu bodoh Exsel, sudah tau baru saja melakukan operasi kecil, loh dengan berani menggerak kan tubuh ini, kamu tau tubuh mu ini bukan besi, tubuh ini terbuat dari daging yang sangat lunak, jadi jangan mempermain kan itu, walaupun kamu merasa diri mu sudah kuat" ucap Sang dokter sambil menyuntik kan ke tubuh Exsel menahan darah agar tak terlalu banyak keluar.


Neha berdiri dengan perasaan Panik. menatap punggung Exsel yang kembali di obati dan di perban. oleh sang dikter dengan cepat dan tak panik sedikit pun, malah di dengan berani mengomeli Exsel yang pembunuh berdarah dingin itu.

__ADS_1


Neha berpikir, apa kah dokter itu seorang cenayang, yang mengetahui jika Exsel saat ini sedang kesakitan, Tapi sukur lah, Exsel mendapat kan pertolongan dengan cepat, dan Neha kembali bisa benafas lega melihat kondisi Exsel berangsur membaik.


"


__ADS_2