RANJANG BASAH SANG PERAWAN

RANJANG BASAH SANG PERAWAN
ULAH NEHA


__ADS_3

Punggung yang terluka, yang Exsel perlihat kan Kepada Neha itu terlihat terus mengeluar kan darah segar walau tidak banyak.


Namun terlihat. jika Exsel mulai memucat.


Merasakan Neha tang tak begerak utuk membantu dia.


Exsel membalik kan tubuh nya.


"Jika kamu tidak segerah bertidak. mungkin detik ini juga aku akan tiada" ucap Exsel kepada Neha yang masih membeku bodoh menatap punggung Exsel yang penuh darah tersebut.


"Ap..apa yang harus aku lakukan, aku belum pernah melakukan hal semacam ini" ucap Neha gementar.


saat Mulai ingin menyentuh pungggung itu.


satu ketukan pintu terdengar di kamar tersebut.


"Cepat bukak Pintu itu" Ucap Exsel kepada Neha yang hampir menyentuh punggung lebar Exsel.


Neha tutun dari ranjang menuju pintu, untuk mempersilakan seseorang tersebut masuk ke kamar tersebut.


Saat di buka, satu orang oria dengan tas di tangan nya lansung masuk tanpa di perintah menuju Exsel yang sedang duduk dengan menahan luka tembakan.


Ntah dari mana asalnya, satu ruangan rahasia langsung di buka oleh pria tersebut dan langsung membopong Exsel menuju ruang tersebut. Exsel yang mulai terlihat pucat, hanya mengikuti kemana oria itu membawanya.


Neha yang masih betah melongo keheranan dengan ada nya ruang yang tidak pernah di ketahui itu, masih mematung seperti patung di dekat pintu dan tangan masih menyentuh gagang pintu.


"Apa yang kamu lakukan di sana bodoh, cepat kemari bantu aku" ucap pria itu membuyar kan lamunan Neha dan Neha pun kaget dengan suara pria tersebut...


"Tpakkkkkk" satu geplakan mendarat di kepala pria itu, karena mengatakan Neha bodoh di depan Exsel.


"Apaan sih loh sel, masih kuat aja geplak pala gue, padahal sudah mendekati ajal" ucap pria itu tanpa takut.


"Plakkkk...!!!" Dan satu geplakan lagi mendarat.

__ADS_1


"Iya..iya..iya...gue diam" ucap sang oria menatap Exsel yang masih melotot tajam padanya saat sedang terluka.


"Cuma gue yang boleh ngomong kasar pada wanita itu,dan jangan ngomong sembarangan pada ku, dan tutup mulut mu segerah sembuh kan aku" ucap Exsel.


"Hehhhh" jawab pria itu acuh lalu mendorong sedikit tubuh gagah Exsel ke ranjang perawatan.


Lalu mengeluar kan bahan-bahan dari dslam tas miliknya.


Neha yang sudah berada di sana, berdiri dengan sigap jika di butuh kan.


"Kesini..!!" ucap Exsel kepada Neha, menyuruh Neha mendekat ke arah dia..


Exsel memunggung agar leluada bisa melihat kuka tembakan tersebut.


Satu ksin kasa mulai di gigit oleh Exsel dan dia memegang tangat Neha.


Tak mengatakan apa pun pria itu mulai melakukan operasi kecil di punggung Exsel. tanpa bius luka itu mulai di buka pelan lalu mengeluarbkan satu peluru yang bersarang menyakit kan di punggung Exsel.


"Kamu berikan ininkepada Exsel dengan rutin, karena saat ini kondisi Exsel sedikit lemah, bersih kan luka Exsel dengan air hangat agar tidsk inveksi dan berikan ini pada lukanya." ucap pria itu, sahabat sekaligus dokter pribadi Exsel yang selalu datang saat Exsel terluka.


Saat ini Exsel di berikan obat bius agar bisa istirahat untuk memulih kan tenaga yang terkuras oleh operasi kecil di punggungnya.


" Kamu sudah mengerti bukan, jangan salah beri, akan fatal akibat nya, saya undur diri" ucap pria itu langsung keluar dari ruangan yang baru Neha ketahui itu. dan menutup pintu kamar dengan rapat.


Neha cukup mengerti, Namun Neha bingung kapan Exsel akan sadar dan apa yang harus dia lakukan saat Exsel sudah sadar Nanti.


Dan satu ketujan kembali terdengar, Neha pun terburu-buru beranjak untuk membuka pintu.


Nyatanya itu seorang peelayan membawa kan makanan di troli yang cukup besar.


"Nona, anda tidak boleh keluar harus terus menjaga Tuan, dan ini makanan untuk Nona, jika butuh yang lain telpon kami lewat telpon di sana" tunjuk sang pelayan ke dekat pintu. dan di sana ada sebuah telpon.


Neha mengangguk mengerti dengan semua itu.

__ADS_1


Saat pelayan ingin masuk ke ruangan tersebut, Neha langsung melarangnya.


"Biar aku saja, karena tadi dokter mengata kan jika tidak di ijin kan orang lain masuk ke kamar ini, semau nya biar aku yang terimah di depan pintu" ucap bohong Neha kepada sang pelayan, Pelayan itu tanpa curiga langsung mempercayai hal tersebut, karena tidak ada yang berani dengan perntah sangbdokter pribadi sekaligus teman Exsel.


Orag yang paling berani memarahi dan memukul Exsel kapan pun itu.


"Baik Nona," ucap sang pelayan yang langsung pergi dan meninggal kan troli makanan didepan pintu yang sedikit terbuka, tapi tidsk memperlihat kan ruang di mana Exsel saat ini masih berbaring dan istirahat, karena pengaruh obat bius yang di beri kan sahabat nya.


"Huhhhh...untung dia peraya, tapi kenapa aku tadi berbohong seperti itu ya" ucap Neha mendorog troly ke dalam kamar lalu mengaruk pelan kepala yang tidak gatal itu.


Dia bingung sendiri depan ucapan yang dia ucap kan tadi, berani berbohong kepada pelayan agar tidak membawa makanan itu sendiri.


Mungkin ada sedikit rasa tak suka jika sang pelayan melihat Exsel yang setengah telan jang di tempat tidur menampak kan tubuh kekar yang di minati setiap wanita yang menatap tubuh itu.


Neha menggeleng kan kepala nya sambil tetsenyum memikir kan hal yang tak dia sadari itu.


"Huuuhhh" ntah lah...


Neha menaruh troly itu di dekat meja kamar tersebut, lalu kembali ke dekat Exsel untuk melihat kondisi Exsel yang belum terlihat tanda-tanda akan sadar itu.


Saat Exsel belum sadar kan diri dengan wajah yang yang terlihat polos tidur terlentang tanpa selimut itu. Neha merass cukup kasihan. Neha mengambil selimut tipis untuk mnelimuti Exsel yang masih tanpak bingsan.


Dengan punggung yang di ganjal khusus oleh dikter tadi, Neha menyelimuti pelan.


Menarik pelan kursi di dekat ranjang Exsel, lalu Neha duduk sangat dengan denganranjang, di mana Exsel berbaring.


Menatap lekat wajah tampan itu.


"Dia begitu sangat tampan, punya bi bir yang begitu se xi(menyentuh pelan bi bir Exsel dengan lembut). punya alis yang tebal dan menambah tajam mata elang nya. dan juga hidung yang begitu sempurnah. Tapi aku sampai saat ini belum mnegtahiu, siapa pemilik hati mu yang sesungguh nya" ucap Neha dengan pelat dan masih menatap Exsel begitu lekat.


"Ma'af" uca Neha dengan berani menci um kening Exsel tersebut.


Neha dengan memejam kan mata melakukan hal itu. lalu dia beranjak dari kursi dan berniat untuk pergi saat sudah melakukan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2