RANJANG BASAH SANG PERAWAN

RANJANG BASAH SANG PERAWAN
MEMULAI KEHIDUPAN DI KAMPUNG BARU


__ADS_3

Pagi sudah menampak kan sinar cerah dari balik sela-sela jendela papan. di Mana Neha berserta keluarga beristirahat sejak jam tiga tadi malam.


Walau tanpa bantal dan dingin menusuk tulang. Namun Karena rasa lelah mereka. mengalah kan rasa dingin itu.


Mbak Yani yang bangun lebih awal. membersih kan sedikit rumah tersebut. lalu pergi ke kamoung untuk membeli barang. dengan penutup seluruh wajah agar tidak di kenali orang.


Mbak Yani sengaja tidak membangun kan Neha dan keluarga nya.


Karena mbah Yani tau jika mereka sangat kelelahan. apa lagi Neha yang sehari-hari menggendong sang kakak sampai malam tadi tanpa bergantuan dengan siapa pun.


Mbak Yani membeli beberapa bahan untuk makan mereka sehari-hari. Karena mbak Yani mqntan pelayan Exsel yang ikut melari kan diri, Pasti nya Yani juga punya banyak cukup uang untuk dia simpan dan dia bawa kemana-mana untuk jaga-jaga.


"Sudah selesai dengan membeli barang keperluan Mbak Yani tidak berlama-Lama di perkampungan yang rame itu. dan kini dia kembali ke tempat di mana Neha dan keluarga nya masih menikmati istirahat dari rasa lelah dan ketakutan yang melanda hidup mereka.


"Berapa jam. Saat mbak Yani pulang, mbak Yani melihat keluarga Neha sudsh berada di depan rumah dengan ekspresi muka yqng cukup cemas.


Saat melihat mbak Yani tiba dengan barang belanjaan nya, kedua adik Neha dan Neha menghampiri mbak Yani yang masih yerlihat cukup jauh dari rumah.


Namun Karena tiada nya mbak Yani saat mereka membuka mata. membuat Mereka memasang muka cemas tersebut.

__ADS_1


Mbak.. mbak tadi belanja gak bangunin kita sih, Biar bisa bantuin bawak barang" ucap Adik-adik Neha yang mulai membantu Yani untuk membawa semua barang belanjaan itu.


"Bukan tidsk mau mengajak kalian dan membangun kan kalian. Taoi kan kakian baru saja tidur jam tiga. pasti nya kalian masih sangat lelah. jadi mbak pergi saja sendiri. apa lagi mbak mengenali perkampungan ini dengan baik, jadi lebih aman dan lebih bisa mengawas diri jika sendiri apa lagi harus membawa barang makanan kita."


"Besok-besok baru mbak ajak kakian untuk keliling kampung bagar kakian bisa mengenali setiap sudut perkampungan ini dan juga mbak akan ajak kalian belajar Naik kuda. jika kalain bisa, kita bisa membeli kuda-kuda itu untuk kita bawak ke sini untuk kendaraan jika mau kemana-mana dan mbak juga akan belajar. Jakian tau bukan, kita tidak bisa menembah mereka kapan bisa menemukan kita, jika itu terjadi setidak nya kita bisa melari kan diri dengan kuda-kuda itu lalu memasuki setiap sudut kampung utuk bersembunyi dengan aman, Karena kita sudsh mengenali nya" ucap Mbak Yani memberi pencerahan agar mereka mengeri.


Dan kini mereka sudah berada di dalam rumah tersebut dan berbagi tugas. ada yang muali membersih kan rumah agar lebih rapi ads yang memasak dan mereka dapat bagian-bagain masing-masing dari tugas rumah itu.


"Kak.. mbak Yani baik ya, dia mau kita memikir kan cara melindungi diri" ucap sang adik berbisik di dapurr saat mereka sibuk memasak. Sedang kan adik Neha dan ibu nya membersi kan rumah dengan rapi sedang kan mbak Yani membersih kan perkarangan luar rumah hingga memotong dahan-dahan yqng cukup mengagnggu di dekat-dekat rumah, agar terlihat lebih rapi dan lebih luas. dan juga terhidsr dari isi hutan yang akan mendekat dengan cepat ke tempat terpencil rumah itu.


Mbak Yani membakar setiap dahan dan daun-daun kering agar teelihat bersih halaman rumah itu..


"Iya dek. mbak Yani memang sangat baik, tanpa dia mungkin kita sudsh berada di tangan seseorang yang saat ini pasti nya masih mengejar kaakak" ucap Neha menoleh kepada sang adik yang menatap nya.


Neha menatap sedih sang adik yang bertanya seperti itu pada nya.


"Ma'af dek!!. kakak tidak bisa mencerita kan tentang itu pada kalian. karena akan fatal jika kalian mengetahui alasan nya" ucap Neha yang benar-benar tidak bisa mencerita kan alasan kenapa mereka di perlakukan seperti buronan pada saat ini.


"Kita lanjut kan memasak nya ya. agar ibu dan yang lain nya, saat sudah memberes kan rumah. mereka bisa langsung makan. kan kita memang sudah cukup lapar" ucap Neha mengalih kan pembahasan mereka.

__ADS_1


"Ok kak, biar aku yang siapin makanan nya ke meja makan, kakak siapin di dapur biar aku yang angkat ke depan semua nya" ucap sang adik Neha yang memang sudah merasa cukup lapar karena hari sudah mulai siang.


Terasa dingin dan udara yang segar. membuat mereka merasa ketenangan tersendiri tinggal di sana dengan di penuhi hutan yang masih asli dan juga terlihat mata air yang sangat bersih di dekat tempat tinggal mereka.


tidak ada masalah dengan yang nama nya persediaan air bersih. hanya saja mereka sukit dengan lampu yang menerangi mereka.


Bukan tidak ada listrik di perkampungan itu.


Namun tempat tinggal mereka tidak mendapat kan itu, dan mereka memakai lampu yang di carger dari tempat khusus di perkampungan itu.


Jadi memang harus selalu irit untuk pemakian lampu. dan hanya di pakai jika perlu saja walau pun di malam hari.


Saat malam jika ingin makan dan keperluan yang tidak bisa tidak pakai lampu mereka akan guna kan. Namun jika tidak, saat tidur pun akan di mati kan, kadang ruangan itu di terangi langsung oleh sinar bulan jika cuaca mendukung.


Jika tidak benar-benar akan gelap gulita, meraba-raba di malam gelap itu.


Mereka mulai menyantap masakan Neha dan sang adik yang sudah di sedia kan di meja makan itu, lalu memanggil semua anggota untuk istirahat makan.


"Buk ajak yang lain nya makan, makanan sudah siap di meja makan" ucap adik Neha berteriak memanggil sang ibu yang sedang membersih kan tangan na di pancuran mata air bersih di dekat rumah ysng sudah di bersih kan mbak Yani tadi.

__ADS_1


"Ok..." ucap mereka selesai dengan mencuci tangan dan langsung beranjak dari situ untuk menikmati sarapan pagi,Namun waktu sudah cukup siang untuk sarapan..


"Wooowww, enakkk nya dan banyak lagi macam lauk nya." ucap adik Neha yang satu nya, saat mendekat ke meja makan dan melihat lauk yang banyak macam nya.


__ADS_2