
Saat ini, keluarga Neha. mulai merasa nyaman dengan kehidupan nya setelah pulang dari mengembara di hutan liar.
Walau awal mereka kembali sangat merasa was-was atas kedatangan para penjahat yang sangat mudah menangkap mereka di kediaman lama itu.
Namun cukup lama berada di rumah tersebut, ternyata tak ada hal yang datang atau menganvam mereka satu kali pun.
Wlau pun Mereka masih sangat berharap Neha baik-baik saja dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga, tapi rasa yang begitu membuat mereka takut dan memikir kan kehidupan Neha sudah tak lagi ada di dunia ini, membuat harapan itu Meredup.
Kesedihan... Ya kesedihan atas keselamatan Neha yang kecil kemungkinan itu, membuat mereka terus bersedih.
Mereka yang menyambung Hidup dengan uang yang di titip kan Neha, kadang membuat mereka bertiga tak kauasa menelan sesuap nasi itu.
Uang yang mereka pakai saat ini, adalah hasil jerih payah sang anak walau dengan cara yang salah. Namun penbusan yang sangat tidsk bisa di terimah manusia.
Yaitu penebusan dengan nyawa Neha.
Memang kesedihan yang berlarut tak akan membuat Neha kembali, Tapi sang ibu benar-benar belum bisa menerimah kenyataan itu.
Anak gadis yang dia besar kan dengan tenaga dan diri sendiri itu, sangat di sayangi, apa lagi selama bersama mereka Neha adalah tulang punggung keluarga.
Yang berjuang sendiri untuk keluarga agar bisa hidup cukup dan menyekolah kan kedua adik nya.
Hingga Neha tak lagi bersama mereka pun, Neha masih saja menghidupi mereka dengan uang yang tertinggal banyak.
Ingin Rasa nya mencari keberadaan Neha.
Namun apa daya, dengan apa mereka mencari, dengan Nama. apa kah ada orang yang akan mengenali Neha hanya cukup Dengan Nama, seperti nya tidak, Nama pun sudsh banyak kesamaan nya.
__ADS_1
Ingin mencari dengan foto, jangan kan foto Nha, foto bersama mereka pun tak ada satu pun di rumah sederhana itu.
Atau mencari dengan Ijasah..
Jangan kan ijasah, sekolah pun Neha tak menamat kan satu sekolah pun termasuk SD.
Neha terlahir dari keluarga miskin, dengan Empat saudara dan tidsk lagi mempunyai seorang ayah yang menafkahi mereka.
Sejak kecil Ayah Neha sudsh meninggal kan mereka, Bukan meninggal kan karena mati, Namun pergi Ntah kemana meninggal kan tanggung jawab, kepada sang ibu yang tak berpenghasilan apa-apa dengan menghidup kan Anak yang banyak.
Sejak itu, Neha dang sang kakak yang sudah meningal saat dalam pelarian di kejar oleh penjahat itu. Neha dan sang kakak mencari nafkah untuk sang ibu dan kedua adik yang masih kecil.
Neha terus berjuang dsn berjuang.
Namun saat mereka berjuang bersama mencari nafka bersmaa kakak nya, sang kakak sakit hingga tak lagi bisa menggerak kan tubuh lemah itu.
Hal itu membuat Neha harus memutar otak agar bisa bekerja lebih giat, lebih cepat dan lebih mudah menghasil kan uang yang cukup untuk sekolah dan kehidupan keluarga nya.
Harapan mereka untuk bertemu kembali, seperti nya sudah pupus dan tidak mungkin lagi.
Karena mereka sudah melihat langsung bagai mana orang-orang itu dengan kasar nya membungkus sang kakak dengan sebuah jaring tebal sebelum mereka terjun ke air yang tinggi deras dan dalam itu.
Mereka juga tak menyangka tuhan masih memberi mereka kehidupan selanjut nya, setelah kejadian mencekam menantang nyawa kecil mereka....
Harapan besar ibu Neha dan doa yang selalu dia panjat kan kepada tuhan.
Ialah doa untuk sang putri dimana pun saat ini berada, maupun masih hidup atau pun sudah berada di surga.
__ADS_1
Doa besar yang selalu terucap kan dari mulut sang ibu kepada sang ilahi adalah harapan besar nya. Namun saat ini sang ibu memang tidak menyadari dan mengetahui jika Neha memang masih hidup dan lebih mengejut kan, Neha hidup dengan sangat baik, di tangan pria kejam yang tak mengenal ampun dan membunuh pun tak pilih nyawa.
* DI KEDIAMAN EXSEL*
"Seperti nya menyenang kan jika Tuan rumah ini tidak ada di fumah, dia tidak akan mengganggu ku dan aku bisa tidur, melakukan apapun sesuka ku, dsn juga bisa makan dengan kenyang kapan pun" gumam Neha melahap kembali makanan yang masih tersaji dan bermacam-macam di meja makan tersebut...
Ntah terbuat dari apa perut rata milik Neha itu, Bisa melahap begitu banyak makanan yang tak sampai memuntah kan makanan yang sudah masuk ke dalam perut itu.
"Tang.. tenngg.. tangg ...tenggg" Neha memberes kan meja makan mahal milik Exsel itu dan menumpuk kan piring yang kotor untuk dia bawak kan ke dapur yang cukup dekat dengan ruangan makan saat ini.
Saat Neha mengangkat nya, Suara dari arah dapur menghenti kan ulah Neha yang membawa piring dengan cara di tumpuk cukup tinggi.
"Nona...!!! jangan lakukan itu." ucap suara seorang pelayan mendekat ke arah Neha dan membantu Neha menurun kan pelan piring-piring mahal milik Exsel itu kembali ke meja itu lagi.
"Tidak apa, aku sudah terbiasa membawa piring banyak seperti ini. jika jatuh paling cuma dua atau tiga buah saja" ucap Neha dengan enteng nya saat dia sudah menyelesai kan makanan milik nya tersebut.
"Jangan Nona, biar saya saja, sudah menjadi tugas saya Nona" jawab sang pelayan Menahan piring-piring itu agar tetap berada di meja dan tak terjatuh walau hanya satu buah saja.
"Benar kok, tidak apa-apa, biar Neha saja yang memberes kan meja ini, Kan Neha yqng makan semua ini" ucap Neha dengan semua ketidak tahuan dia.
"Stopp" saya bilang jangan, Ya..!! dengar kan saya Nona ..!!! JANGAN..!!" ucap suara yang pelayan itu mnegeras di depan Neha, dan membuat Neha benar-benar melepas pegangan nya dari piring yang di tahan kuat oleh sang pelayan.
"Nona. Ma'af, bukan maksud saya kasar, Tapi jika piring ini terjatuh, satu nyawa pelayan di rumah ingin akan melayang untuk mengganti kan piring yang pecah, dsn itu berarti kami tidak becus menjadi pelayan di rumah Tuan Exsel" ucap sang pelayan melembut dan menunduk ke arah Neha yang terkejut dengan suara keras Pwlayan tadi.
Mendengar dan melihat itu, Neha hanya mengangguk dengan tubuh yang masih berdiri cukup kaku.
Dan pelayan itu pun membawa piring-piring itu ke dapur sendiri tanpa bantuan Neha, Neha yang tadi nya berdiri kaku.
__ADS_1
Kini mulai menduduk kan pan tat berisi itu di kursi meja makan tersebut.
"Benar kah begitu. satu piring di bayar dengan satu nyawa pelayan di rumah ini. Astaga begitu kejam dan berani kah Exsel bermain-main dengan nyawa manusia yang tak berdosa" gumam Neha dengan muka sedikit memucat.