
Ibu Neha ikut berbaring di pondok kecil beralas kan daun dan juga dinding terbuat dari kayu dengan lapisan daun cukup tebal, sehingga cukup aman untuk mereka beristirahat dan menghadang angin untuk terlalu kencang masuk dalam pondok tersebut..
Walau pun tak punya selimut Namun mereka bisa tidur dengan nyenyak berkat api yang cukup besar yang terus hidup menghangat kan tubuh tiga anak manusia itu...
Krukukkk... krukuuukkk..krukuuukk...Suara penghuni hutan liar itu membangun kan Mereka yang terlelap tidur di pondok sangat sederhana itu...
Sang ibu yang sudah bangun duluan dari kedua anak nya melihat hari sudah menampak kan sinar pagi nya.. Dan sang ibu pun membangun kan mereka untuk bersiap siap menempuh perjalanan selanjut nya...
"Nak... bangun lah.. kita harus melanju kan perjalanan" ucap sang ibu yang mulai membangun kan kedua anak nya yang masih terlelap tersebut...
"Ehhhzzz..." sang anak bungsu mengeliat mantap di pagi itu mengawali bangun pagi di bawah hutan liar tersebut...
"Apa sudah pagi buk" ucap sang anak dengan di Iya kan oleh sang ibu...
bangun dari tidur tanpa berniat mencuci muka mereka mulai berdiri dan keluar dari pondok kecil itu..
"Bukk.. bukan nya kita mau mengambil ubi dulu ya ke kebunnyang kemarin ibu maksud untuk bekal kita di jalan" ucap anak laki-laki nya mengingat kan sang ibu tentang ucapan sang ibu kemarinn..
"Iya..ya nak.. untung kamu ingat kan" ucap sang ibu menatap anak laki-laki tersenyum kecil sambil menatap wajah tampan sang anak laki-laki nya yang sedikit terlihat memar akibat dari Ibu Neha yang menampar nya kemarin itu..
Ibu Neha mengelus lembut wajah sang ibu dan sedikit iba pada anak nya. karena dia tidak perpikir sebelum menampar anak nya kemarin, akibat dari terlalu Emosi...
"Ma'af kan ibu ya nak. ibu bena-benar terlalu emosi pada mu kemarin, hingga tidak berpikir sebelum menampar keras wajah mu" ucap sang ibu sungguh-sungguh dan sedih...
__ADS_1
"Jangan seperti itu bu, memang aku yang salah, tidak berpikir dahulu sebelum meninggal kan adek sendiri di bawah hutan liar ini. yang terpikir di benak ku hanya ingin mencari kan kita makan untuk menambah tenaga karena tak makan dalam beberapa hari" ucap sang anak yang mengerti alasan sang ibu menapar diri nya.
Karena sebelum nya sang ibu tidak pernah kasar kepada anak-anak nya..
"Bukkk. kebutu siang, yang lalu biar la berlalu, hari ini harus kita pikir kan dari pagi, jadi mari kita pergi ke kebun yang ibu maksud untuk mengabil ubi yang kemarin" ucap sang anak bungsu yang menyadar kan mereka dari kesedihan yang tak ada manfaat nya bagi mereka untuk saat ini.
Malah akan membuang-buang waktu mereka untuk hidup lebih baik dan encari jalan keluar dari hutan belantara yang saat ini mereka tinggal kan...
"Ahhhhzz... iya ya nak...Ibu hampir lupa.. ayo kita kesana dan bawah semua peralantan kita, jangan lupa tongkat kayu untuk berjaga-jaga dan juga untuk menopang tubuh saat di jakan yang cukup berbahaya" ucap sang ibu yang berjakan duluan untuk menunjuk kan jalan menuju kebun yang dia maksud itu...
"Bukk kita kan harus kembali ke sini lagi bukan, jika tidak bagai mana kita bisa memasak ubi-ubian itu nanti, tidak mungkin bukan kita memakan mentah ubi tersebut.. bisa-bisa kita tidak bisa menemukan jalan pulang lagi" ucap anak bungsu nya itu..
"tidak nak, kita tidak kembali ke sini lagi.. ibu sudah mengbungkus kan beberapa ranting kering dan juga batu yang bisa menghidup kan api untuk kita nanti, semoga saja kita bisa menghidup kan nya lagi, agar tidak lagi kembali ke sini, sekalian kita mencari jalan keluar" jawab sang ibu kepada anak bungsu nya.
"Ohh.. begitu ya buk" ucap anak bungsu sambil mengikuti jejak sang ibu yang terus berjalan dengan cukup cepat di depan nya. dengan tongkat kayu yang kuat di tangan nya.
Dan hampir satu jam perjalanan akhir nya mereke tiba di sana..
"Ini nak.. cepat kita cabut dan ambil sebisa yang kita bawah" ucap sang ibu kepada kedua anak nya.
"Wahh.. seperti nya dulu ini memang kebun ubi buk. terlihat cukup luas hingga ke ujung sana" tunjuk sang putri ke arah kebun yang sudah tidak terurus itu namun pohon ubi yang merambat terlihat luas dan banyak...
Mereka pun mulai mencabut ubi itu satu demi satu, sebagian di masuk kan ke tas lusuh milik Neha dan sebagian mereka bungkus dengan baju masing-masing..
__ADS_1
Banyak memang, tapi mereka tidak bisa membawa terlaku banyak karena akibat dari kurang nya tempat untuk menyimpan ubi-ubian tersebut..
Kotor yang menempel pada tubuh mereka tak di hirau kan, dan hal itu bukan masalah lagi untuk ketiga anak manusia itu. untuk melanjut kan hidup di hutan yang tak berpenghuni tersebut...
Masih untung mereka tidak bertemu binatang buas dan tuhan masih cukup menyayangi mereka, hingga hal yang membuat mereka celaka tidak datang menghampiri kehidupan yang saat ini mereka pertahan kan tersebut.
"Sudsh cukup nak, kita lihat ke pondok kebun ini saja siapa tau ada korek atau apa yang tertinggal" ucap sang ibu yang selalu melangka duluan dari kedua anak nya untuk melindungi diri.
Mereka pun beranjak dari kebun ubi itu, lalu mendekat ke arah pondok yang di maksud.
Ibu Neha celingak-celinguk kesana kemari untuk melihat dan memantau keadaan... lalu berusaha naik ke pondok yang masih cukup kuat itu. dengan pintu yang tak lagi terpasang di tempat nya dan beberapa atap yang sudah terbuka... Namun pondok itu punya peralatan yang masih cukup banyak tersediah di sana...
"Nak..Naik lah.. coba lah lihat semua ini, peralatan yang masih sngat lengkap walau sudah ada yang berkarat dan rusak namun masih bisa di guna kan...
Kedua anak nya ikut masuk ke dalam pondok tersebut dan melihat secara langsung peralatan yang sang ibu mereka maksud itu..
"Wahhh....Benar ya buk" ucap sang anak bungsu yang dengan cepat menyambar beberapa lebar baju yang tergantung di paku pondok tersebut...
Buk kita bawak saja karung ini untuk memasuk kan barang, biar bisa kita gendong dan untuk kita bisa guna kan dalam perjalanan nanti" ucap anak bungsu nya dengan penuh semangat...
Tanpa aba-aba anak Bungsu nya mulai memungut semua barang itu ddan memasuk kan kedalam karung, seperti peralatan dapur baju dan juga yang lain nya. sehingga mereka bertiga punya barang yang mereka bawa masing-masing...
"Boleh juga dek.. kita bawah saja ke bawah dulu, dan memasak ubi, lal kita bawak kembali" ucap sang kakak yang ikut memungut dan memasuk kan ke dalam karung juga..
__ADS_1
Ibu yang hanya berdiri tersenyum melihat semangat kedua anak nya untuk mebawa barang-barang tersebut...
Ibu Neha juga senang, karena mereka saat ini tidak melewati hutan liar dengan tangan kosong lagi, mereka punya senjata dan juga peralatan masak beserta baju untuk menutupi dingin nya tubuh mereka dari tiupan angin yang menusuk tulang mereka di bawah hutan tersebut.