Rumah Di Tepi Kuburan

Rumah Di Tepi Kuburan
Saat ayah pergi


__ADS_3

"Ayahhhhh!", teriakku saat melihat ayahku terkulai jatuh di lantai,hidungnya berdarah


"kenapa zalimah?", tanya kakekku yg berdiri diambang pintu


"Ayah kek", ucapku


Kakek memeriksa nadi ayahku dan memeriksa denyut jantungnya


"Inna lillahi wa inna ilaihi Rojiun,ayahmu sudah tiada zalimah", ucap kakekku dengan nada sedih


"Hiks hiks hiks,ayahh kenapa secepat ini kau pergi".


Tangisku tak tertahan lagi,beberapa tetangga yg mendengar tangisanku datang berbondong bondong kerumah,tak lama rumah makin ramai dikunjungi para pelayat.


Aku terus menangis dan beberapa kali kujatuh pingsan,sungguh berat ku berpisah dengan orang yg tulus menyayangiku


"Ikhlaskan kepergia. Ayahmu zalimah,biarkan ia tenang di sana", hibur kakekku.


"Sabar ya sayang", ucap mas arya


Aku belum beranjak dari pemakaman ayahku,meski pelayat sudah pada pergi semua,teringat kenangan manis bersama ayahku,menari nari di pelupuk mataku.


"Ayah,rupanya kau akan pergi,hingga memintaku menikah secepat mungkin,maafkan anakmu ini ayah,belum sempat membuatmu bahagia", ucapku


Air mataku terus jatuh,ayah yg tak ada hubungan darah denganku,tapi ialah yg telah mengasuhku sejak bayi merah dan ialah yg selalu mrlindungiku dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Zalimah,ayo pulang sayang", ucap suamiku


Ia menuntunku pulang karena tubuhku seolah tak ada tenaga lagi.


Dirumahpun,aku terbaring lemah,rasanya kepergian ayahku yg tiba tiba membuatku shock.


"zalimah,bersabarlah nak,semua yg ada di dunia ini,akan pergi meninggalkan kita", ucap nenekku


"Iya nek,,zalimah ikhlas tapi kesedihanku tak bisa hilang".


Hiks hiks hiks,aku terus menangis,membuat para pelayat menjadi iba.


"Anakku zalimah,biarkan ayah pergi dengan tenang,hentikan tangisanmu nak,arwah ayah akan menangis bila melihstmu dalam kondisi begini", terdengar suara ayah berbisik di telingaku


Seorang Suster,menyuntikkan obat penenang hingga membuatku tertidur cukup lama


Kulihat ayahku mengenakan kain putih putih tersenyum padaku


"Anakku zalimah jangan tangisi kepergianku nak,ayah akan tenang dan bahagia saat melihatmu tersenyum", ucap ayah


Akupun mengucapkan istighfar berulang kali dan bangun mengambil air wudhu,jiwaku terasa sangat tenang dan damai.


"Syukurlah kamu bisa pulih kembali nak", ucap nenek yg memijit mijit betisku.


Aku sangat bahagia hidup di tengah tengah orang yg menyayangiku dengan tulus,meskipun ayah telah pergi,tapi aku harus mengikhlaskan kepergian ayah meskipun rasa sakit itu sangat terasa.

__ADS_1


"Duhh kepalaku pening mas", ucapku


"Istirahat sayang,mungkin karena kebanyakan nangis kemarin", ucap mas arya


Tapi rasa pusing itu makin menjadi jadi,tiba tiba saja aku berasa mau muntah,dan berusaha bangun untuk ke kamar mandi tapi justru membuatku terjatuh


"Sayaaang,gak usah bangun,muntah situ aja,ntar mas yg bersihin", ucap suamiku


Saat melihatku berusaha untuk bangun karena mau muntah.


"Mas arya,tolong panggilan Suster purwati", pintaku


Suzter purwati adalah asistenku yg sangat lihai dalam bekerja.


"Dokter kenapa", tanya suster purwati saat tiba


Ia langsung mengecek tekanan darahku,dan mengambil air seniku


"Alhamdulillah dokter zalimah positif hamil!", pekiknya


Mendengar hal itu mas arya langsung memelukku


"Alhamdulillah sayang,akhirnya kita akan punya bayi", ucap mas arya sangat bahagia.


Ada yg pergi dan ada yg datang,hal itulah yg teejadi pada keluargaku,disaat ayah pergi untuk selama lamanya,ternyata Allah menggantikannya dengan menitip benih di Rahimku.

__ADS_1


__ADS_2