Rumah Di Tepi Kuburan

Rumah Di Tepi Kuburan
Hati yg merindu


__ADS_3

Dokter zalimah melihat kondisi rumah tangga anaknya yg nyaris tak ada nuansa apa apa membuatnya bersedih.dilihatnya Kirana Seperti terbebani hidupnya dengan pernikahan yg sebenarnya tidak dikehendaki Kirana.


"Kirana,bunda ingin bicara sebentar", ucap Dokter Zalimah pada anaknya yg juga memiliki profesi yg sama dengannya.


"Silahkan bunda", ucap Kirana duduk di depan bundanya yg sepertinya juga siap siap berangkat kerja.


"Apa kamu betul betul tidak mencintai Chandra?", pertanyaan bunda membuat Kirana terkejut dan Spontan membuat Kirana menangis.


"Walaupun saya tidak mencintai Chandra bunda,tetap kupertahankan rumah tangga ini,demi Melani", ucap Kirana pasrah.


Mendengar hal itu,hati zalimah sedikit merasa iba,pada kondisi Kirana yg sedari kecil selalu ditimpa berbagai masalah.


"Kirana,tak bisakah pertemuan demi pertemuan menumbuhkan rasa cintamu nak,Chandra sahabatmu dari kecil,apa sebenarnya yg kurang darinya?", dokter zalimah bertanya dengan penuh kasih.


"Saya terlalu sulit memaaafkan orang yg pernah bersalah bunda,sekalipun itu ayahku sendiri", ucap Kirana dengan mata berkaca kaca


Ucapan itu kembali mengingatkan dokter zalimah oleh pengkhianatan yg pernah dilakukan suaminya.


"Maafkan Kirana bunda,bukan maksudku untuk menyinggung perasaan bunda", ucap Kirana menyandarkan bahunya di sofa.


Dokter zalimah tak menjawab,ia mengambil kunci mobilnya dan pergi kerumah sakit dengan perasaan yg campur aduk.


"Yg dikatakan Kirana benar,tapi aku tak mampu bisa sekuat Kirana", bathin Dokter Zalimah yg terus menerus berperang dengan perasaannya.


Dokter zalimah memasuki halaman rumah sakit dengan perasaan yg masih dipenuhi masalah oleh rumah tangganya yg datang silih berganti.


Dokter zalimah memasuki ruang kerjanya masih dengan hati gundah gulana,hingga selalu termenung ,ia tak menyadari seorang dokter muda yg sangat gagah berdiri


"Bu dokter", ucap Dokter muda itu

__ADS_1


Dokter zalimah menatapnya dengan mata tak berkedip,ia sepertinya pernah melihat laki laki itu,tapi lupa entah dimana.


"Saya dokter Fadli", ucap dokter muda itu menjabat tangan dokter zalimah sambil tersenyum.


Dokter zalimah tertegun mendengarnya,ia yakin,jika dokter muda yg berdiri di depannya inilah orang ketiga diantara cinta Chandra Kirana.


"Ooh,silahkan duduk nak", ucap dokter zalimah dengan ramah mempersilahkan dokter Fadli duduk.


"Saya pindah tugas kesini dokter,kebetulan saya juga temannya Dokter Kirana", ucap dokter Fadli dengan senyum mengembang dibibirnya.


"Inilah yg membuat hati Kirana ketar ketir,pantas saja Kirana menjadi linglung,karena terpaksa meninggalkan dokter Fadli demi Melani", ucap dokter zalimah dalam hatinya.


"Maaf Bu dokter jika saya mengganggu", ucap dokter Fadli


"Tidak mengganggu kok,malah Saya senang jika ada teman mengobrol", sahut dokter zalimah sambil menyedihkan kopi hitam untuk dokter Fadli.


"Minumlah nak,lumayan jadi teman mengobrol,kurasa gak apa apa minum kopi sekali kali", ujar dokter zalimah sambil menyodorkan Cangkir kopi itu di depan dokter Fadli yg sebenarnya juga merasa kagum pada dokter zalimah yg ternyata juga sangat Cantik.


"Kabar Kirana gimana Bu dokter?", dokter Fadli tiba tiba menanyakan Kirana,yg mungkin memang menjadi tujuan utama nya,hanya sekedar basa basi saja sebelum menanyakan hal itu.


Dokter zalimah sejenak berpikir,ia seperti ingin menutupi yg sebenarnya terjadi,tapi ia bukan orang yg terbiasa menutupi sesuatu.


"Kirana mengalami masalah nak,hidupnya seperti tak bahagia menjalani pernikahan yg sebenarnya bukan keinginannya", jujur dokter zalimah mengatakan itu,yg karena tak mampu lagi membendung perasaannya yg makin berkecamuk dalam jiwanya.


"Bukannya Chandra itu sahabatnya juga?", tanya dokter Fadli seperti ingin menelusuri kehidupan Kirana saja.


"Tapi bukan berarti Mereka saling mencintai nak, Chandra kami pilih sebagai menantu karena kami merasa jika Chandra bisa mengerti masa lalu Kirana bersama refly, ternyata Kirana tak pernah bisa membuka pintu hatinya untuk suaminya itu", tutur dokter zalimah menyeka airmata nya.


"Maaf Bu dokter saya bukannya berniat ingin membuat Bu dokter sedih", ucap dokter Fadli lalu memohon pamit pada dokter zalimah,ibu dari wanita yg hingga sekarang masih dicintainya itu.

__ADS_1


Dokter Fadli terus terbayang wajah ayu yg pernah hadir dalam kehidupan nya,ia sebenarnya sudah faham jika Kirana tak mencintai Chandra,tapi ia juga Seorang Dokter yg sisi kemanusiaan nya sangat tinggi untuk seorang anak yg terbaring sakit,yg menginginkan cinta yg utuh dari kedua orang tuanya.


Dokter Fadli duduk termenung di sebuah taman kota yg terletak di pinggiran kota kecil yg baru dihuninya,ditangannya sebuah buku diary yg selalu ditempatinya mengadukan keluh kesah nya.


sementara ditempat yg sama berjarak tak terlalu jauh darinya,duduk kirana menyendiri,iapun sedang menulis sesuatu di kertas putih.


(Teruntuk orang yg tak memiliki ragaku tapi pemilik jiwaku,Saat cinta tak bisa menyatukan kita,ada rasa ingin mengejarmu dan hidup bersamamu,tapi ada tangan mungil yg meraih tanganku,untuk disatukan dengan tangan laki laki yg berstatus suamiku, tapi tak ada tempat diruang hatiku.hati yg telah kau miliki yg kuncinya kau bawa pergi bersama luka dihatiku,taukah kau,jika saat ini jiwaku sedang merintih,merindukan dirimu yg meninggalkanku dalam keadaan jiwa yg hampa)


Kirana menghentikan tulisannya,air matanya yg membasahi pipinya,ia biarkan jatuh berderai.sementara itu Chandra yg mulai jenuh menulis berdiri,melangkah mengelilingi taman bunga yg cukup menyejukkan mata, langkahnya terhenti saat dilihatnya sosok yg sangat dicintainya sedang duduk termenung,ia berniat menghampiri Kirana takut ada suaminya disitu, dokter Fadli tak ingin membuat masalah lagi.dari jauh dapat dilihat mendung diwajah kirana,dilihatnya kirana sedang melipat kertas itu lalu diterbangkannya seperti pesawat.keryas itu tepat jatuh di depan dokter Fadli,Kirana sendiri terlihat beranjak dari tempat duduknya.


Dokter Fadli memungut kertas itu dan dibacanya dengan seksama.


"Kirana,segitu menderita kah dirimu,lalu untuk spa kamu bertahan hidup dalam sengsara", bathin dokter Fadli


Dilipatnya kembali kertas itu lalu dimasukkan ke dalam saku bajunya,ia berjalan menuju mobilnya Yg terparkir di bawah pohon mahoni besar .Dokter Fadli yg sedang kacau pikirannya mampir'ke warung kopi yg ternyata sudah banyak pengunjungnya.


Dokter Fadli tertegun melihat beberapa anggota polisi berpangkat perwira sedang asyik menikmati kopi,salah satu diantaranya ia kenali ,itu pak Arya ayahnya kirana.


"Saya agak pusing sebenarnya,putri saya kunikahkan dengan seorang jaksa yg ternyata tidak dicintainya", ucap pak Arya sembari meneguk kopinya.


"Lagian juga sih,anak sudah dewasa begitu,dokter pula,dijodohin segala", sahut seorang polisi temannya pak Arya.


"Saya salah faham,kirain Kirana pacaran juga ma si Chandra ternyata tidak,abis si Chandra tuh ngakunya cinta banget ma Kirana", ucap pak Arya.


"Sekarang pasti kamu juga kan yg repot Arya,mana Kirana dah punya momongan lagi", sambung temannya itu yg terus bercerita tentang keluarga masing masing.


"Masalahnya Kirana mencintai dokter Fadli, sementara dokter Fadli udah mundur gitu aja,setelah tahu Kirana rujuk lagi ma si Chandra", pak Arya menghela napas panjang


"terus Kirana gimana sekarang ,jangan jangan anakmu itu mulai depresi Arya,kemarin kulihat duduk di cafe melamun terus,sayang Lo,anak satu satunya harus tertekan begitu", imbuh seorang teman pak Arya yg kelihatan paling senior disitu.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Dokter fadli sangat tersentuh oleh kondisi kirana yg ternyata sangat mencintainya.


Dokter Fadli merasa iba oleh nasibnya Kirana yg ternyata sedang dilanda kemelut,antara seorang anak dan kekasih hati


__ADS_2