Rumah Di Tepi Kuburan

Rumah Di Tepi Kuburan
Pertunangan.


__ADS_3

Dokter zalimah tersenyum melihatku datang,Ia yg masih disibuk melayani para pasiennya,menyuruhku duduk.


"Masuklah kerumah nak,didalam ada kirana kok", ujarnya.


"Disini aja lah bu,biar saya tunggu ibu saja", sahutku.


Kuperhatikan dengan seksama,dokter zalimah melayani para pasien dengan lincah,meskipun punya beberapa asisten,tapi ia sendiri yg turun tangan.


"Mau berobat juga ya mas?", tanya seorang ibu muda yg kebetulan duduk di sampingku.


"Tidak bu,saya hanya ada perlu dengan bu dokter", jawabku.


Ia tersenyum melihatku,mungkin merasa aneh melihatku,karena saya satu satunya laki laki disini.


"Bu Anisa,silahkan masuk", seorang asisten dokter zalimah mendatangi wanita yg duduk disampingku,yg rupanya bernama anisa.


Sekitar 5 menit,dokter zalimah keluar bersama ibu muda itu dan menghampiriku.


"Chandra,apa kamu tak mengenali anisa lagi?", tanya dokter zalimah,yg membuatku menggaruk kepala karna bingung.


"Chandra sekarang sudah sukses bunda,makanya lupa teman kecilnya dulu", ucap anisa.


Aku tersenyum dan tidak ingat sama sekali lagi,tentang anisa yg dimaksud dokter zalimah.


"Ia anisa temanmu dulu chandra yg rambutnya sering dikuncir 2,bukannya dulu sering kamu tarik rambutnya", kata dokter zalimah.


"Ya Allah,anisa buntel", pekikku dan tertawa terbahak bahak.


"Abisnya sekarang kamu langsing nisa,dulu kan kamu bulat kayak donat", ucapku bercanda.


Anisa meninju lenganku .


"Ayo kita masuk,saya sudah lama tidak ketemu kirana", ucapnya.


Kamipun segera masuk kerumah,bersama dokter zalimah yg langsung kekamar memanggil dokter kirana.


"Kirana", anisa menghambur memeluk kirana yg sepertinya tak begitu menanggapi,malah terdiam saja.


"Maafkan kirana ya nak,ia sedang kurang enak badan", ucap dokter zalimah


Kirana menatap anisa seperti tak pernah mengenalnya,padahal mereka sangat akrab waktu kecil.


"Sejak kapan kirana begitu bunda?", tanya anisa


"Baru seminggu kok nak", jawab dokter zalimah.

__ADS_1


"Kirana,duduklah disini", ucapku,kubimbing kirana duduk di dekatku,dan memberinya air minum,alhamdulillah ia menghabiskan air 1 gelas penuh.


"Kirana,dia itu anisa teman kita dulu,saat bersepeda di sore hari", ucapku,berusaha mengingatkan kirana tentang anisa.


Kirana menatap anisa,lalu tiba tiba mendatangi anisa dan menangis,mungkin ia sudah bisa mengingat anisa.


"Kirana,kamu baik baik ya,jaga kesehatan dan kondisimu,ingat dirimu sendiri,yg telah pergi,biarkan ia pergi,doakan saja,mendapat tempat yg layak di sisinya", ucap anisa.


Kirana menangis mendengar ucapan anisa,dan aku sangat mengerti tentang itu.kirana sebenarnya merasa dihukum perasaannya sendiri,karena bertahun tahun menyimpan dendam dan kebencian pada refly,yg ternyata bukan kesalahannya.


"Kirana,saya kesini ingin mengatakan sesuatu yg sangat penting,tapi menurutku tak baik mengatakannya sekarang,karena pak arya tidak hadir,jadi saya mohon izin ke ibu zalimah,agar pak arya bisa hadir juga disini", ucapku.


Dokter zalimah sejenak berpikir,mungkin menimbang nimbang dulu permintaanku.


"Baiklah nak,kalau begitu,kamu saja yg hubungi ayahnya kirana", ucap dokter zalimah.


"Baiklah bu.kalau begitu saya pergi dulu ya bu", ucapku.


Dokter zalimah mengangguk dan memelukku penuh rasa bahagia,ia memang sudah seperti ibuku sendiri.


*********


Kuhentikan mobilku depan kontrakan pak arya yg asri,kulihat mobilnya terparkir,artinya pak arya ada didalam.


Kuketuk pintu perlahan,takut ia sedang istirahat.


"Iya pak,kirain,bapak ada didalam", ucapku.


"Mari masuk nak,kita ngobrol di dalam saja", ajak pak arya.


Pak arya menyuguhkan secangkir teh dan roti goreng,yang tadi dibelinya diwarung.


"Tak usah repot repot pak", ucapku.


"Hanya secangkir teh nak,mari diminum", ucap pak arya.


kutatap pak arya yg kelihatan lebih kurus sekarang,gurat ketuaan,nampak di wajahnya.


"Kelihatannya,ada sesuatu yg ingin kamu sampaikan nak,katakanlah?", ucap pak arya,tersenyum padaku.


Sayapun tersipu malu,seperti enggan dan takut mengatakannya.


"Katakanlah nak", pinta pak arya.


"Besok saya mau melamar kirana pak,kalau bisa,bapak diharap kerumah besok,maksudku dirumah dokter zalimah pak", ujarku malu malu.

__ADS_1


Pak arya mengembangkan senyumnya,ia memelukku sambil menangis,lantaran rasa bahagia yg mungkin tak bisa diungkapkannya.


********


Suasana rumah dokter zalimah cukup meriah,banyak tamu yg berdatangan dari pihak dokter zalimah.


"Mari pak silahkan masuk", sambut bagas yg jadi penerima tamu.


Pak arya,nampak malu malu,seperti enggan masuk kedalam rumah.


"Ayah,silahkan masuk", ucap kirana yang datang menyambut ayahnya dan memeluk ayahnya.


"Iya nak,terima kasih sudah mengundang ayah kesini,kukira ayah tak berarti lagi bagi kalian", kata pak arya.


"Ayah,sampai kapanpun,ayah tetap menjadi orang tuaku,tanpa ayah,kirana takkan hadir di dunia ini", ucap kirana.


Setelah dirasa semuanya sudah berkumpul,acarapun segera dimulai.dan dibuka oleh pak arya sendiri,selaku orang tua laki laki dari kirana.


"Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,bapak bapak,ibu ibu dan seluruh handai taulan yg hadir.terima kasih telah datang di acara pelamaran putri kami yg tercinta kirana,yg hari ini telah dilamar seorang pria yg bernama Chandra,mohon doa restunya hingga ke acara akad nikah yg akan kami laksanakan bulan depan", papar pak arya dalam sambutannya.


Selanjutnya acara penukaran cincin antara 2 calon mempelai,Chandra dan kirana.


"Terima kasih ya sayang,sudah menerima lamaran saya", ucap Chandra.


"Iya Chand,semoga berjalan lancar,hingga ke pernikahan ya", sahut kirana.


Keduanyapun berdoa untuk kelangsungan hubungan dunia akhirat.


Kirana tak henti hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT.


Ia berharap bisa menjadi pendamping yg baik bagi Chandra kelak,yg tak disangka sangkanya,akan meminangnya.


Sementara itu,Chandra menangis sedih,acara pertunangannya tak dihadiri ibunya yg menentang keras hubungan nya dengan kirana,untung bapaknya selalu mendukungnya dan memberinya semangat hidup.


"Bersabarlah nak,bapak yakin,ibumu suatu saat akan mengerti dan merestui hubunganmu dengan kirana", ucap bapak.


"Maafkan Chandra ya pak", ucapku,tak berhentinya memeluk sosok pahlawanku ini.


Ialah yg selama ini menyayangiku sepenuh hati,bapak jugalah yg selalu menemaniku disaat saat apapun.beda dengan ibu yg lebih galak dan suka memukuliku,walau hanya masalah sepele.


"Nak arya,bapak pulang dulu ya", pamit pak arya.


Ia takut berlama lama disini,mungkin merasa risih oleh pandangan dokter zalimah yg masih belum hilang kebenciannya.


"Iya pak,terima kasih banyak", ucapku.

__ADS_1


Pak arya melangkah gontai keluar,ia sepertinya enggan beranjak dari rumah yg puluhan tahun ia huni bersama keluarganya,lalu badai itu tiba tiba datang menghempas semuanya.


__ADS_2