Rumah Di Tepi Kuburan

Rumah Di Tepi Kuburan
Lika liku kehidupan


__ADS_3

Kirana merenungi nasibnya yang selalu dihadapkan pada kenyataan,hubungan yg rumit,kecelakaan dan perselingkuhan dalam rumah tangga yg terlalu sulit dimaafkan.


"Kirana,bagaimana kondisi Danang", Chandra tiba tiba masuk menerobos,memegang Danang yg penuh balutan perban.


"Seperti yg kau lihat", jawab kirana ketus.


Chandra dan Danang memang temannya semasa SMA yg hingga sekarang masih masuk dalam alur cerita kehidupannya,seperti sebuah skenario yg dirancang khusus untuk mempertemukan mereka.


Chandra terlihat menelpon kedua orang tua Danang mengabari adanya kecelakaan.


Tak lama datanglah kedua orang tua Danang yg begitu panik.


"Anakku,apa yg terjadi denganmu,kenapa kamu sampai begini nak", ibunya Danang memeluk puteranya dengan tangisan yg keras.hingga seorang petugas datang menegurnya.


"Bu tolong dikecilin suaranya sedikit ya,kasian pasien yg lain terganggu", ucap petugas itu


Kirana,melihat hal itu langsung pergi meninggalkan tempat itu.


"Itu pasti ulah Kirana,hingga anakku kecelakaan begini", ibunya Danang menuding Kirana penyebabnya,membuat panas telinga chandra.


"Bude,ngomongnya yg bener aja,jangan salahin Kirana,ia gak punya salah apa apa dalam hal ini,ini murni kecelakaan", Chandra membela mantan isterinya.


"Jelas aja dia penyebabnya,ia kan orang sial", Ibunya Danang terus menggerutu.


"Bude tolong berhenti mengigau,atas dasar apa bude terus menyalahkan isteri saya", Chandra menatap tajam ibunya Chandra,yg ternyata tidak tahu,jika Chandra adala suaminya Kirana,terang aja ia menjadi malu,mukanya merah padam.

__ADS_1


"Tolong maafin bude ya chand,ia memang begitu", bapaknya Chandra ikut menengahi.


Chandra tak menjawab,langsung pergi meninggalkan suami isteri yg begitu menyebalkan.


"Ibu sih,gak bisa jaga lidah,lihatlah itu,seharusnya kita mengucapkan terima kasih ke mereka yg telah menolong anak kita", ucap bapaknya Danang,menyesali kelakuan isterinya


********


Melani mendadak sakit,ia menjerit jerit kesakitan pada kepalanya,membuat dokter zalimah menjadi panik,segera menelpon Ku


"Kirana cepat pulang,Melani sakit", ucap bunda lewat saluran telepon seluler,belum sempat kujawab sudah memutuskan sambungan telepon.


Mendengar bunda yg demikian paniknya,membuatku lupa rasa marah pada Chandra yg kulihat sedang duduk termenung.


Setiba dirumah,aku langsung memeriksa Melani yg terkulai lemah,denyut jantung Melani sangat lemah.begitupun dengan denyut nadinya


Chandra tanpa sepatah kata pun,segera menggendong Melani.


"Kirana,kita kerumah sakit sekarang,kabari ayah", perintah Chandra.


Karena rasa panik bercampur ketakutan,Chandra mengemudikan mobilku sementara aku dan bunda duduk ditengah memangku Melani yg terkulai tak berdaya.


"Melani,bertahanlah nak", ucapku.


Bunda tidak bicara apapun,mulutnya komat kamit,seperti sedang membaca doa yg tak putus putusnya

__ADS_1


"Chandra,cepetan dikit dong", aku mulai tak sadar,jika selama ini Chandra sudah cerai dariku,perasaanku aku masih sepasang suami isteri.


"Sabar Kirana, bentar lagi sampai kok", sahut Chandra,kamipun segera tiba dirumah sakit,dan langsung membawa Melani keruang ICU.


Melani langsung mendapatkan perawatan intensif,kamipun menungguinya dengan harap harap cemas.


"Gimana kabar Melani?", ayah yg baru datang kelihatan sangat cemas,langsung menemui cucunya yg dalam perawatan.


Melani ternyata mengidap kanker otak yg cukup serius,membuatku seperti kehilangan rasa,bagaiman a bisa anak sekecil itu memiliki penyakit mematikan itu, Chandra juga kelihatan shock,ia tak bisa berbicara lagi,air matanya tumpah.


"Kalian berdoa saja semoga Melani bisa sembuh seperti sediakala", ucap bunda yg juga terlihat shock.


Melani terbaring dengan wajah pucat,matanya terlihat sayu memandang kami.


"Ayah,mama", Melani memanggilku juga ayahnya.


Kamipun berdua mendekati dan menciumnya berulang kali.


"Jangan tinggalkan Melani ayah", ucap Melani membuatku jadi menangis.


"Ayah tidakkan meninggalkan Melani lagi,ayah janji.tapi Melani harus sembuh ya", ucap Chandra.


Melani mengangguk,entah kenapa hatiku kian teriris melihat Melani yg sakit,aku mulai sadar jika Melani sangat membutuhkan kehadiranku dan ayahnya.


Aku mulai menyadari keegoisanku sebagai seorang ibu,yg tak pernah meluangkan waktu untuk Melani.

__ADS_1


__ADS_2