Rumah Di Tepi Kuburan

Rumah Di Tepi Kuburan
Saat menyesali perbuatan


__ADS_3

Dokter kirana dihadapi lagi dengan permasalahan yg baru,yaitu keluarnya dokter erwin dari penjara yg rupanya makin mengejar cinta Kirana,dimana Kirana tetap waspada oleh pembalasan dendam dokter erwin yg bisa saja ingin membalaskan sakit hatinya.


Disisi lain,Chandra terlihat sangat sibuk mondar mandir antara kontrakannya dan rumah sakit jiwa untuk menengok Nania,Chandra yg merasa jadi biang keladi depresi Nania,ingin menebus kesalahannya dengan membayar biaya biaya Nania selama di rumah sakit jiwa.


"Nania,kamu harus patuhi dokter ya,minum obatnya secara rutin,jangan telat makan", ucap Chandra pada Nania yg sementara duduk bersimpuh, pandangannya lurus kedepan,seperti tak melihat apapun,bahkan mengindahkan Chandra yg tengah berbicara dengannya.


"Nania,kamu masih ingat aku kan?", ucap Chandra menggoncang bahu Nania yg tetap terdiam.


Chandra kehabisan kata lagi untuk membuat Nania menjadi ingat yg bahkan melupakan dirinya sendiri.


"Pasien sepertinya sudah sangat sulit dipulihkan ingatannya lagi pak",Ucap dokter yg menangani Nania.


Chandra tertegun mendengar ucapan dokter itu,baginya semua bencana yg telah menimpa dirinya berasal dari kesalahannya yg telah menolak cintanya Nania.


"Tolonglah dokter diupayakan lagi,kasian jika ia terus kehilangan ingatan", Chandra dengan sungguh sungguh meminta pertolongan dokter untuk kesalahan yg telah Ia lakukan pada Nania.


*********


Kirana merasa tak tega melihat dokter erwin yg terkapar tak sadarkan diri,ia berteriak teriak memanggil Bagas yg kebetulan sedang cuti.


"Masya Allah,kenapa bisa begini", pekik Bagas saat melihat darah mengucur dari kepala dokter erwin.


Karena panik,Bagas langsung mengangkat tubuh dokter erwin dibawa masuk ke kliniknya dokter zalimah untuk diberi perawatan.

__ADS_1


"Tolong secepatnya dirawat suster, sepertinya dokter erwin sedang terluka parah", ujar bagas dengan paniknya.


Ia membantu suster itu,membuka baju dokter erwin yg penuh darah,dan membantu membersihkan darah yg memenuhi dadanya.


Kirana yg sedari tadi terdiam menyiapkan peralatan untuk menjahit luka di kepala dokter erwin.dokter Kirana begitu serius merawat dokter erwin,entah kenapa ia tiba tiba mengambil alih kerjaan yg semestinya dilakukan suster Rini,asisten dokter zalimah.


"Kirana", tiba tiba dokter erwin siuman,ia tak menyangka jika kiranalah yg telah merawatnya.


Melihat dokter erwin siuman,dokter kirana cepat cepat pergi,ia seolah tak mau jika dokter erwin tahu,jika ialah yg telah merawat dokter erwin..


Kirana segera masuk kamarnya dan menguncinya,ia tidak mau lagi berhubungan dengan Dokter erwin,kalaupun ia tadi merawat dokter erwin,bukan karena masih memiliki rasa cinta,tapi rasa kemanusiaannya yg masih ada.


Sementara itu dokter erwin berusaha ingin menemui dokter kirana,tapi dilarang oleh Bagas,karena takut ketahuan pak Arya,yg pastinya marah besar jika tahu,dokter erwin berada ditempat ini


"Maafkan saya dokter,bukan maksudku melarang pak dokter menemui dokter kirana tapi,kami takut ketahuan pak Arya,apalagi sekarang keluarga dokter zalimah sedang menghadapi berbagai masalah", ucap bagas dengan mata berkaca kaca.


"Baiklah kalau begitu gas,titip salam buat Kirana ya", ucap dokter erwin.ia sepertinya merasa menyesal terhadap kesalahan yg pernah dilakukannya


Dokter erwin segera pamit ke Bagas dengan air mata yg menggenang dipipinya,dokter kirana yg melihatnya dari celah celah jendela ikut merasa terharu.


Entah kenapa,Kirana merasakan hatinya kosong melompong,serasa tak ada apa apa disana,yg membuatnya bagai berada di dunia lain.


Gerimis diluar membuat Kirana makin betah berlama lama,dingin yg mencekam membuat suasana hati Kirana makin sunyi.

__ADS_1


Kirana teringat Melani yg telah pergi menjauh,teringat Chandra yg tak pernah menghubunginya lagi,juga teringat dokter Fadli yg saat ini menjalin hubungan special dengannya.


"Kirana, istirahatlah, bunda perhatikan kamu sudah Berjam jam berdiri disitu",tegur dokter zalimah yg sangat mirip hatinya melihat kondisi Kirana yg mengalami depresi.


Mendengar teguran itu,Kirana kembali kekamarnya dan berbaring menatap langit langit kamarnya,rentetan peristiwa yang terjadi pada dirinya kembali hadir seperti sebuah pertunjukan yg kembali ia putar.


Sementara itu Chandra yg tengah sibuk dikantornya mendadak menjadi pucat pasi saat dilihatnya Melani tengah berdiri disudut memeluk bonekanya,ia tampak sedih menatap ayahnya.


"Melani,anakku", gumam Chandra,ia baru teringat jika sudah lebih 10 hari tak mengunjungi makam anaknya.


"Iya nak,ayah janji esok ayah akan datang menabur bunga di makam mu", janji Chandra pada roh anaknya,mendadak sosok itu menghilang dari pandangan Chandra.


***************


Esoknya Chandra betul betul datang mengunjungi makam Melani,ia menabur bunga dan membacakan surat Yasin.


"Chandra,maafkan aku", ucap Kirana yg tiba tiba berdiri dibelakang Chandra, membuat Chandra terperanjat,tak menyangka Kirana yg sombong akan meminta maaf.


"Tak ada yg perlu dibicarakan lagi Kirana,aku sudah memaafkanmu,lagian apalah artinya diriku ini bagimu,yg tak pernah kau anggap ada", jawab Chandra,hatinya telah beku untuk Kirana .


Kirana tak bicara apa apa lagi,ia ikut duduk terpekur depan makam anaknya yg telah tiada,bulir bulir air matanya jatuh membasahi pipinya.baik Chandra maupun Kirana tak bicara lagi,masing masing tenggelam dalam pikirannya.


Dokter zalimah dan pak Arya tiba tiba datang bergabung dengan mereka,melihat kedua orang yg dihormatinya datang,Chandra beranjak dari tempat duduknya menyalami kedua orang yg masih berstatus mertuanya itu.

__ADS_1


"Nak Chandra,mampirlah ke rumah", ucap pak Arya.


Chandra hanya tersenyum,ia sesungguhnya tak pernah membenci Kirana,hanya ia merasa hatinya sudah semakin jauh,seiring waktu yg membuatnya sibuk dengan dunianya masing masing.


__ADS_2