
Chandra tersenyum bahagia melihat Melani tertawa tawa,menaiki berbagai wahana.
"Ayah,Melani mau naik pesawat terbang itu!", teriak Melani kegirangan menunjuk pesawat.
"Melani gak takut?", tanya Chandra tersenyum.
Melani menggeleng,bahkan begitu antusias saat menaiki pesawat itu.
"Ayah,Melani berangkat dulu ya!", Melani melambai lambaikan tangannya.
Menjelang Maghrib,Chandra dan Melani baru pulang dari wahana,Kirana menatap mereka seperti tak suka.
"Anak kecil seusia Melani,gak boleh naik wahana ekstrim begitu,itu bahaya buat jantung", ucap Kirana.
Chandra hanya diam mendengarnya,sementara Melani tetap tak mau jauh dari ayahnya,ia asyik bermain boneka Barbie yg dibelinya.chandra merasa tak enak hati melihat Kirana yang menatapnya sinis
"Ayah pulang dulu ya sayang", ucap Chandra mengelus rambut putrinya.
"Jangan pulang,ayah tidur disini aja", ucap Melani.
Ia menarik narik ujung baju ayahnya,membuat hati Chandra menjadi menangis melihat betapa sebenarnya Melani sangat membutuhkan kehadirannya,sebagai seorang ayah.
"Lihatlah,anakmu itu,ia masih butuh kalian,tolong singkirkan semua egomu,bersatulah demi kabehagiaan putrimu", nasehat pak Arya,yg sedang duduk bersama mereka
__ADS_1
Kirana tertunduk mendengar ucapan ayahnya,lalu masuk ke kamarnya, karena tak tahan mendengar tangisan Melani mau ditingga Chandra.
"Saya hanya mengikut ayah,saya sebenarnya masih sangat menginginkan keutuhan ini,tapi semuanya juga tergantung Kirana,saya tidak bisa memaksa", ucap Chandra.
"Sebaiknya kalian berpikir panjang,anakmu masih kecil,tidak kasian kah kalian mendengar tangisan nya", tambah dokter zalimah.
Chandra duduk terpekur,air matanya mengalir membasahi pipinya,Melani sendiri membaringkan kepalanya di paha ayahnya lalu tertidur.
"Maafkan ayah nak", Chandra membelai lembut rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
Sementara Kirana asyik chatingan dengan dokter Fadli,Kirana makin dekat saja dengan dokter Fadli.
"Dah makan ya?", dokter fadli menelpon Kirana karena merasa kurang sreg,komunikasi lewat chating saja.
Kirana dan dokter Fadli,asyik mengobrol hingga tak menyadari jika bunda zalimah sudah berdiri di depannya.
"Kirana,berhenti berhubungan dengan dokter Fadli", tegas dokter zalimah.
"Bunda kenapa sih,wajar dong saya bebas berhubungan dengan siapa saja,tokh udah bubaran ma si Chandra ", Kirana membantah bunda nya.
Mendengar itu dokter zalimah menghela napas.
"Sebaiknya pikirkan kebahagiaan anakmu juga,jangan egois Kirana,Melani jauh lebih penting dari Fadli", ucap dokter zalimah dengan mimik sangat serius.
__ADS_1
Di matanya sudah mengambang air mata melihat Melani yg begitu tergantung pada Chandra.
"Chandra kan boleh bawa Melani kapan saja bunda,gak ada larangan kan?, bunda,tolong mengertilah sedikit tentang perasaanku", Kirana sepertinya tak ada keinginan lagi buat rujuk.
Sementara itu dirumah dokter Fadli,nampak sedang ada acara khusus,yaitu pertemuan keluarga untuk membahas rencana menikahkan dokter Fadli dengan gadis pilihan Mbah Kakung.
"Ia gadis yg sangat cantik fad,kalau kamu melamar ya,pasti diterima", usul Mbah Kakung.
Dokter Fadli tersenyum,ia tidak tertarik dengan gadis manapun yg dipilih keluarganya.
Ia lebih sibuk memikirkan dokter kirana yg terus menerus hadir dalam benaknya.
"Aku dah punya pilihan Mbah,namanya dokter kirana", ucap dokter Fadli
"Statusnya masih perawan kan?", tanya Mbah Kakung.
"Bukan Mbah,ia Seorang jand8beranak satu, tapi sangat oke", dokter Fadli mengacungkan tangannya.
Mbah Kakung nampak terkejut,ia kurang suka jika cucunya menikahi janda.
"Apa perawan sudah habis Chandra", Mbah kung menolak dengan halus.
"Tidak kehabisan Mbah,hanya dokter kirana, terlalu membuatku jatuh cinta", sahut dokter Fadli,ia tetap bersikukuh ingin menikah dokter kirana
__ADS_1