Rumah Di Tepi Kuburan

Rumah Di Tepi Kuburan
Saat Melani pergi


__ADS_3

Chandra nampak begitu sedih menghadapi putrinya yg kembali kritis padahal beberapa hari yg lalu berhasil melewati masa kritisnya dan sudah sempat bermain main dan. Tertawa.


"Kamu darimana saja Kirana,sungguh kau seorang ibu yg tak memiliki hati nurani", rutuk Chandra dalam hatinya.


Sementara itu Kirana yg sedang bersama dokter Fadli,belum siuman,ia juga mendapat perawatan yg intensif,sementara Chandra yg mengetahui hal itu,bersikap tak peduli lagi,hatinya menjadi beku oleh kelakuan Kirana yg sedikitpun tidak menunjukkan rasa keibuan pada anaknya


Chandra lebih fokus pada kondisi Melani yg kian melemah,alat pernafasan yg terpasang di hidungnya,membuat Melani sedikit bisa terbantu tapi pendarahan dikepalanya yg mengakibatkan pembekuan darah di otak Melani membuat Melani tak bisa terselamatkan jiwanya lagi.


"Maafkan kami pak,kamu sudah berupaya semaksimal mungkin tapi tuhan berkehendak lain" ,ucap dokter yg menangani Melani dengan penuh duka yg mendalam.


Chandra terjatuh dan ambruk memeluk putrinya yg tak bernyawa lagi,hatinya yg perih membuatnya makin terluka.


"Melani anakku,secepat itu kau pergi nak,maafkan ayah yg tak bisa sempurna menjadi ayah,maafkan ayahmu nak yg telah lalai menjagamu", Chandra terus menyesali dirinya sendiri,dan memukuli tubuhnya sendiri


"Sabarlah pak,Allah lebih menyayangi putri bapak,biarkan ia pergi dengan tenang", hibur seorang dokter mengusap punggung Chandra.


Sementara dokter zalimah dan pak arya,yg berdiri di samping Chandra nampak berdiri mematung seperti kehilangan roh,hanya air mata yg terus mengalir di pipi mereka.


"Melani,bangunlah nak,ini kakek dan nenekmu,ayo ke taman safari cucuku,bukannya kamu ingin beli lollipop,bangunlah nak", dokter zalimah mulai terlihat seperti orang tak waras yg terus bicara sendiri


"Bunda istighfar lah,cucu kita telah meninggal dunia", ucap pak Arya.


"Melaniiii!!", teriak dokter zalimah jatuh menubruk cucunya yg sudah kehilangan kehidupan,ia telah melangkah menuju tempat peristirahatan yang terakhir,ia telah meninggalkan rasa sakitnya.


Pak Arya mendekati cucunya dan meraih cucunya ke dalam gendongannya,ia juga bertindak seperti orang kehilangan ingatan,ditimang timangnya Melani dan dinyanyikan lagi Nina bobo, membuat yg melihatnya berurai air mata karena rasa sedih.


Jenazah Melani dibawa pulang kerumah,nampak pelayat sudah mulai datang memenuhi rumah dan halaman rumah yg mendadak dipasangi tenda terowongan karena rumah tak mampu lagi menampung pelayat yg tumpah ruah.


"Melani!", pekiki dokter kirana yg baru datang hendak memeluk putrinya,namun pak Arya tiba tiba berdiri menghalangi Kirana yg hendak memeluk putrinya.


"Jangan dekati Melani,tanganmu sudah sedemikian kotornya menyentuh ya lagi", ucap pak Arya dengan geram


Pak Arya yg selama ini terlihat paling penyabar dan bijaksana,entah kenapa hari ini terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Ayah,apa maksud ayah,Melani putriku", sanggah kirana yg berusaha mendorong tubuh pak Arya yg menghalanginya.


Plakk!!


Pak Arya tiba tiba menampar dokter kirana yg melawan,membuat para pelayat menjadi keheranan melihat situasi yg tiba tiba berubah jadi pertengkaran.


"Kamu bukan manusia Kirana,saat anakmu tengah berjuang melawan sakitnya,lalu kamu dimana?", dokter Arya tak kuasa lagi menahan emosi dan tangisnya


Beberapa hari ini,ia selalu mencoba bersabar menghadapi tingkah Kirana yg keterlaluan.tapi hari ini pak Arya mulai kehilangan kontrolnya,Kirana bahkan tak ada saat Melani menghembuskan nafas terakhirnya membuatnya menjadi meradang.


"Ayah,tenanglah", Chandra berhasil membujuk ayah mertuany,ia sebenarnya sudah tahu kelakuan isterinya tapi ia selalu berusaha mengabarkan.


Dokter Fadli sendiri duduk terpekur yg sedang duduk bergabung dengan para dokter yg datang melayat.


Suasana makin mengharukan saat jenazah Melani dimakamkan,riuh tangisan terdengar mengiringi pemakaman Melani,dokter zalimah sendiri jatuh pingsan saat melihat jenazah cucunya diturunkan ke liang lahat.


Melani dimakamkan disamping kuburan januar kakeknya.nampak dokter kirana duduk tak mau beranjak di depan pusara anaknya,air matanya jatuh membasahi dadanya,ia nampak sendiri saja,sementara Chandra dan keluarga lainnya telah beranjak masuk ke dalam rumah karena gerimis yg mulai turun membasahi bumi


Kirana menatap dokter Fadli dengan tatapan yg sendu,nampak jelas diwajah kirana duka mendalam oleh berbagai peristiwa yg datang silih berganti di kehidupan Kirana.


Kirana menjadi yg tersalahkan di kematian Melani,padahal kematian adalah takdir yg tak bisa di tunda.kematian rahasia Allah.


*********


Seminggu setelah kematian Melani,chandrapun pamit ke mertuanya untuk pindah ke kontrakan lagi.sekalipun berkali kali dinasehati.


"Tinggallah disini nak", pak Arya yg sudah menganggapnya anak sendiri berusaha menahan Chandra tapi Chandra yg merasa hatinya telah mati tetap bersikukuh untuk pergi.


"Biarlah saya keluar ayah,insya Allah saya akan selalu kesini", ucap Chandra,matanya sembab saat memeluk pak Arya.


Dokter zalimah terlihat duduk terpekur sambil menangis,ia merasa dirinya tak berguna lagi,karena tak bisa mengendalikan lagi Kirana yg hidupnya makin bebas.


"Maafkan bunda nak", ucap Kirana sambil memeluk Chandra saat pamitan.

__ADS_1


Dokter zalimah dan pak Arya melepas Chandra dengan perasaan yg campur aduk.


Sementara Chandra pergi dengan hati yg hancur,air matanya tak bisa terbendung lagi.ia mengingat Melani yg telah pergi untuk selama lamanya.


Ia terus melajukan mobilnya menyusuri jalanan yg basah oleh sisa sisa hujan semalam,dan membelokkan mobilnya menuju wilayah kontrakan yg pernah dihuninya,siapa tau masih ada yg kosong


"Eeh nak Chandra,tumben datang", sambut pemilik kontrakan dengan ramahnya.


"Iya pak,saya kesini mau ngontrak lagi,masih ada yg kosong gak?", tanya Chandra sambil melihat kontrakan kontrakan yang makin ramai saja.


"Kebetulan masih ada 3 petak,nak Chandra boleh lihat sekarang", ujar pemilik kontrakan itu sambil mengantar Chandra melihat lihat kontrakan yg masih kosong.


"Baiklah pak,saya pilih yg ini saja,sewanya masih seperti yg dulu kan?", tanya. Chandra.


"Iya nak,masih seperti yg dulu", ujar pemilik kontrakan.


"Nih sewanya pak", Chandra menyerahkan sejumlah uang yang membuat bapak tua itu tersenyum simpul.


Chandra memasukkan semua barang barangnya yg tadi dibelinya di pasar saat menuju kesini.hanya sehelai kasur tipis,bantal dan alat alat masak seperlunya saja.


Dilain tempat,dokter kirana yg terusir dari rumahnya untuk sementara menempati salah satu ruangan kosong dirumah sakit tempatnya bekerja.ia merasa kurang enak badan,dari kamarin ia terus merasakan mual dan muntah muntah yg membuatnya menjadi lemas.


"Kok belum bangun Kirana,nih da siang loh", tegur atasan kirana yg mencarinya tadi diruang kerjanya Kirana.


"Saya kurang enak badan dokter,tubuhku lemas", sahut Kirana membetulkan posisi selimutnya.


Dokter Nara,atasan kirana menyentuh pelipis Kirana.


"Ya Allah,badanmu sangat panas!", pekik dokter Nara.


Ia segera pergi,tak lama ia kembali membawa obat penurun panas.


"Kirana,minum obat ini,setelah itu istirahat,kamu boleh gak masuk kerja dulu", ucap dokter Nara.

__ADS_1


__ADS_2