
Dokter zalimah tertunduk sedih di pusara ayahnya,seorang lelaki berstatus bujangan yg menghabiskan masanya demi seorang bayi malang yg dilahirkan dalam kuburan.
"Ayah,semoga kamu mendapatkan tempat yg baik disana,semoga amal kebajikan mu menjadi asbab penyelamat bagimu", doaku disetiap ku ziarah di makam ayah.
Air mataku tak berhentinya mengalir,mengingat masa kecilku bersama ayah dibawah garis kemiskinan,kami bahkan sering berpuasa karena,tak ada yg bisa dimakan.
"Zalimah makanlah nasi ini nak,ini berkat dari tetangga", ucap ayah memberiku satu bungkus nasi campur,yg menjadi makanan terenak bagiku saat itu.
"Makanlah ayah,kita makan berdua", kupanggil ayah makan bersama, tapi ayah menolaknya,alasan sudah kenyang
Ayah yg selalu menahan lapar,asalkan aku bisa makan kenyang.
"Ayah,kenapa engkau terlalu cepat meninggalkan zalimah,zalimah sangat merindukanmu", ucapku seolah sedang berbicara dengan ayah
Tiba tiba angin kencang datang menerpa,seolah ingin menerbangkan ku,membuatku sekuat tenaga bertahan dengan memegang batu nisan yg kokoh.
"Zalimah anakku,jangan terlalu larut dalam kesedihan,ingatlah keluargamu yg sedang mengalami banyak masalah,ayah meminta agar Kirana kamu tunjukkan dengan suaminya nak,Chandra menantu terbaik bagi kalian"Arwah ayahku tiba tiba berdiri tepat didepanku,meskipun berselimut kabut,cukup membuat hatiku terobati oleh kerinduan.
"Ayah,zalimah sudah capek menjalani kehidupan,seandainya bisa,zalimah ingin turut bersamamu", ucapku dengan menangis.
__ADS_1
Entah kenapa,perasaanku demikian lelahnya,seolah tak mampu lagi berpijak ke bumi.
"zalimah,hidup untuk diperjuangkan, tetaplah tabah nak,jadilah zalimah kecilku yg selalu mampu menjalani rintangan seberat apapun", ayahku terus menasehati ku hingga lenyap seketika di depanku.
Kembali ku tertegun mengingat pesan ayahku tentang kirana.membuatku tambah yakin,rujuk lebih baik buat Kirana dan Chandra.
*******
Cukup lama ku duduk termenung di pusara ayah,membuatku enggan berdiri,ku merasa damai saat bersama ayah,walau sebatas batu nisannya yg menjadi saksi bisu kerinduanku.
"Zalimah,sudah sore,mari kita pulang", mas Arya datang menyusul ku.
Setiba dirumah,ku duduk memandang bunga bunga bermekaran di depan rumahku,yg menjadi penghibur hatiku.
"Nenek", Melani datang dan naik kepangkuanku.
Kuelus cucuku dengan penuh kasih sayang,Melani yg menjadi korban perceraian,disaat masih butuh kasih sayang yg lengkap.
"Sakit ya Bun?", mas Arya memegang dahiku
__ADS_1
Aku memang merasa tidak enak badan,hingga beristirahat total dirumah dengan meminta cuti dari kantor.klinik sendiri kuoercayakan pada asistenku.aku ingin meluangkan waktuku untuk keluargaku terutama Melani.
"Entahlah mas,ku merasa ingin menikmati masa Masa lalu yg penuh kedamaian disini,aku ingin duduk berlama lama di teras belakang,seperti kisah lalu yg penuh kenangan", ucapku.
Mas Arya menatapku dengan tatapan yg aneh.ia merasa keinginanku terlalu halu.
******
Chandra datang menemui putri kecilnya yg sangat dirindukannya,Melani sendiri berjingkrat jingkrat kegirangan melihat ayahnya datang
"Ayahh,Melani kangen", Melani bergelayut manja di pundak ayahnya.
Chandrapun mengajak anaknya keluar jalan jalan mencari angin segar,di sebuah taman kota yg banyak arena permainan.
"Melani mau pilih yg mana?", tanya Chandra pada anaknya yg kelihatan bingung memilih
"Melani naik perahu angsa ya", chandrapun menaikkan anaknya ke angsa,Melani nampak sangat gembira ia melambai lambaikan tangan nya.
Chandra merasa bahagia melihat putrinya tertawa penuh kegembiraan.ia membayangkan seandainya saja bisa bersama Kirana,tentu makin bahagia.
__ADS_1