
Andi sedikit kaget dengan sikap Iza yang tak biasanya. Dia jadi berfikir apakah dirinya bersalah karna mengijinkannya diantar Aan.
Aan pun pamit kepada Andi.
" Saya permisi dulu Om." pamit Aan sambil mencium tangannya.
" Oh iya nak Aan. Hati hati ya.." jawab Paman Iza.
Aan melajukan mobilnya perlahan lahan. Tidak ada pembicaraan disana. Iza terus menatap keluar jendela sedangkan Aan sesekali meliriknya.
"Sayang..." ucap Aan.
tak ada jawaban
"Sayang......" ucapnya lagi
tak ada jawaban lagi...
Aan pun menepikan mobilnya. Iza yang sadar mobilnya berhenti tidak didepan kampus p"un akhirnya membuka suara.
__ADS_1
" Kenapa berhenti??" tanya Iza..
Namu Aan tak menjawabnya. Dia hanya menatap wanita disampingnya dengan sendu. Ada rasa sakit dihatinya karna telah diabaikan oleh iza ingin sekali dia marah namun berusaha dia tahan. karna dia tahu saat ini Iza masih marah kepadanya.
" Kalo kamu gak mau jalan aku akan turun disini." Ancam Iza
"Maaf...Maafin aku sayang.. aku tau aku sudah banyak salah sama kamu... Tolong maafin aku." Mohon Aan.
Iza yang memiliki hati yang sangat lembut pun tak tahan melihat sikap Aan.
" Bukankah tadi malam aku sudah katakan An. Aku sudah memaafkanmu dan aku juga sudah bilang jika aku masih belum ingin bertemu denganmu. Tapi kenapa hari ini kamu tiba tiba datang kerumah Om Andi. kamu tau kan kalo aku paling gak bisa lihat Om Andi khawatir denganku. Om Andi itu sudah terlalu banyak pikiran dikantornya dan aku tidak mau menambah beban pikiran nya." jelas Iza.
" Baiklah aku maafin. sekarang antar aku kekampus." jawab Iza.
" Kita makan dulu ya.... kamu kan tadi belum makan sayang... kamu mau makan apa? tanya Aan.
" aku gak laper. aku cuma mau kekampus nanti aku bisa makan disana kalo laper." jawab Iza.
" Baiklah kalo gitu. tapi nanti kamu beneran makan ya Sampek kampus. ingat kamu punya maag nanti bisa kambuh kalo kamu telat makan." ucap Aan perhatian
__ADS_1
" Iya nanti aku makan." jawab Iza sedikit kaget dengan perhatian Aan. Seolah olah Aan telah kembali menjadi Aan yang dulu. Aan yang selalu perhatian dengannya. Aan yang selalu cerewet mengingatkannya untuk segala hal yang menurutnya sangat sepele. Namun perhatian itulah yang dulu akhirnya membuat Iza menerima Aan sebagai kekasihnya tapi setelah beberapa bulan ini hubungannya menjadi sangat renggang. Aan lebih sering marah dan sikapnya berubah total menjadi sangat posesif pada iza dan itu membuat Iza juga jengah.
Setelah beberapa saat akhirnya Iza sampai dikampusnya. Ketika Iza akan turun dari mobil tiba tiba Aan mencegahnya dengan mengunci pintunya secara otomatis lalu dia berkata..
" Sayang.. Nanti siang aku akan berangkat keluar negeri." ucap Aan dengan menundukkan kepalanya tanpa melihat Iza.
Iza hanya melihat Aan yang menunduk.
"Ada masalah diperusahaan pusat dan aku dipindahkan ke sana"ucapnya lagi
"terus??"
"Mungkin aku akan disana cukup lama dan mungkin aku akan sangat jarang menghubungi kamu. Sebenarnya aku sudah lama ingin bicara tentang ini denganmu tapi karna hubungan kita yang akhir-akhir ini kurang baik aku mengurungkan niatku untuk membicarakan hal ini dan aku memutuskan akan bicara padamu kalo sudah waktunya berangkat." jelas Aan.
" Jadi kamu sudah memutuskan semuanya?" tanya Iza yang mendapat anggukan dari Aan.
"Terus untuk apa kamu memberi tahuku??
An, aku kira kamu benar benar kembali menjadi Aan yang dulu, aku kira kamu tulus ingin minta maaf dan memperbaiki hubungan kita. Tapi ternyata semuanya bohong. kamu begini karna kamu mau pergi?." Jawab Iza yang berusaha menahan air matanya.
__ADS_1