
pagi ini cuaca begitu dingin, kebetulan diluar lagi hujan yang membuat hawanya begitu dingin, dan pagi ini memang paling enak untuk tidur dan tarik selimut namun itu bukan aku, aku suka memandang hujan, aku suka bau hujan aku sangat suka hujan, menurut ku hujan adalah rahmat tuhan, pagi ini rutinitas seperti biasanya aku membantu bik asih sebelum berangkat kuliah, bik asih selalu melarang ku membantunya namun aku tidak pernah keberatan membantu bik asih......
1 jam berlalu namun hujan tetap belum berhenti, seperti hujan yang di beri formalin..heheh ketawa ku cengenges sendirian, setelah semua selesai aku langsung bersiap-siap untuk pergi kuliah, meskipun hujan aku harus berangkat kuliah karena ini kuliahku di semester akhir, aku tidak boleh meninggalkan jam kuliah ku pagi ini.
loh fir mau kemana, diluar masih hujan apakah kamu mau basah kuyub menerobos hujan" tegur mbak mila yang melihatku sudah rapi
"fira buru-buru mbak, ini sudah jam 7 fira harus berangkat ke kampus, pagi ini fira ada dosen kiler yang sekali absen langsung a 3" sahut ku
"lantas kamu mau menerobos hujan yang derasnya seperti itu, kamu ini sudah dewasa masih suka main hujan, naik apa kamu ke kampus, gak mungkin kan kamu jalan kaki"
"enggak mbak mil aku sama ivan kok, tadi aku sudah menghubunginya kebetulan dia juga ada jam kuliah pagi ini"
ivan adalah sahabat terbaikku dari kecil, dari kecil aku hanya mengenal ivan lelaki selain keluargaku
*****
"ya sudah kalau gitu mbak jadi tenang deh, pulang jam berapa nanti fir?" tanyanya lagi
"fira sih habis kuliah jam 12, tapi fira langsung ke toko buat jaga toko"
disamping kuliahku yang menyibukkan kegiatanku aku juga bekerja jadi penjaga toko di sebuah toko dekat kampus, kebetulan toko itu milik teman kak gilang, jadi aku gampang deh untuk kerja di toko itu, toko ku selalu rame sama pembeli, selain tempatnya yang mudah di jangkau dan juga barang-barangnya yang harga grosir toko ku itu juga ada caffenya, maklum lah toko ku memang sangat dekat dengan kampus jadi banyak pembeli dan penikmat caffe, aku sering pulang jam 9 malam kerumah karena memang toko yang aku jaga itu tutupnya jam 9 malam,kalau caffenya sih 24 jam
*****
"ya sudah kak mil aku berangkat" pamitku
namun ketika aku buru-buru keluar rumah tiba-tiba aku menabrak ayah yang lagi memegang kopi, aku langsung takut gemetaran
"a...a...ayah... maafkan aku" ucapku gugup
"sial" gerutu ayah
"maafkan aku ayah, aku buru-buru"
"kamu memang selalu bikin masalah, bikin nasibku tidak pernah beruntung" teriak ayah marah-marah kepadaku
__ADS_1
aku masih terdiam mematung di depan ayah dengan menundukkan kepala ku, aku takut, aku takut ayah kembali memukulku
"maafkan aku ayah, aku tidak sengaja" tanpa terasa air mataku menetes
ketika ayah marah memang tidak ada yang bisa menolongku, semuanya takut ayah murka, aku langsung mengingat kakak-kakak ku karena biasanya ketika ayah marah kakak-kakak kulah yang membelaku.
"ayah maafkan aku ayah" aku tidak henti-hentinya untuk minta maaf kepada ayah
"anak tidak tau diri, mengapa kau harus terlihat olehku pagi ini, aku muak dengan mu"
"Anak sial, kenapa kau terlahir kedua ini, kenapa kau selalu membuatku marah, kenapa kau membuatku menderita, tidak puas kau selama bertahun-tahun ini membuatku sengsara, lebih baik kau mati saja, kau memang anak sial " kata ayah mencaci maki ku dan menamparku
Aku langsung berlari meninggalkan ayah, ucapan ayah tadi bagaikan petir yang menyambarku, aku langsung masuk ke mobil ivan diam seribu bahasa, aku hanya memalingkan wajahku melihat jalan yang hujannya mulai reda namun masih gerimis, ivan selalu menatapku, sesekali dia menegurku namun aku biarkan, hatiku terasa sakit mengingat perkataan ayah yang seperti itu, air mataku terus mengalis tanpa henti.
******
"ayah kenapa ayah setega itu kepada safira ayah, salah safira apa ayah"mbak mila iba mendengarkan kata-kata ayah
" lebih baik kau diam saja, kau tidak tau apa anak pembawa sial itu yang membuat hidupku seperti ini"teriak ayah dengan wajah emosi yang tinggi
"lebih baik seperti itu, aku benci anak itu"
"tapi ayah salah...."
mila tidak sempat meneruskan ucapannya, tiba-tiba suaminya datang dari pintu, spontan mila langsung menghentikan ocehanya, ayahnya langsung pergi meninggalkan mereka
"kenapa sayang, ada apa lagi kenapa pagi-pagi sudah ramai seperti itu, anak-anak kemana" tanya gilang yang penasaran akan kejadian yang membuat rumahnya ramai
tanpa menjawab pertanyaan sang suami mila langsung pergi ke kamarnya, gilang langsung menyusul istrinya masuk ke kamarnya
"adek kenapa, apa yang terjadi, ada apa" gilang masih penasaran melihat tingkah istrinya seperti itu
"mas, adek mau nanyak deh?" tanyanya yang masih menahan tangisnya
"mau nanya apa"
__ADS_1
"sebenarnya safira itu adik kamu bukan, apakah dia anak yang di temukan ayah dan ibu ketika masih kecil"
"lah kenapa kamu bertanya seperti itu" betapa kagetnya gilang ketika mendengar pertanyaan istrinya
"jawab mas"
"tidak, safira adik kandung ku, safira anak kandung ayah dan ibu"
"kalau memang anak kandung kenapa ayah seperti itu mas kepada safira"
apalagi yang ayah lakukan kepada safira, masihkah sifat ayah tidak berubah sampai sekarang membenci safira, lirihnya dalam hati gilang
"mas kita pindah saja dari rumah ini, kita bawa safira jauh agar dia tidak bertemu ayah, baru kemarin ayah memukulnya habis-habisan entah safira salah apa mas, dan barusan cuma gara-gara safira buru-buru dan menabrak ayah, ayah langsung marah dan langsung menampar safira sampai iya terjatuh" aduhnya pada suaminya
"apa....." gilang langsung reflek berdiri dan seakan-akan tak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya
ayah mengapa kau setega itu ayah, safira juga anakmu ayah mengapa kau menghukum safira atas perbuatan yang sama sekali bukan salah dia ayah, mengapa kau seperti itu ayah, safira darah dagingmu, sebenarnya apa yang kau inginkan ayah, kau ingin membunuh darah dagingmu sendiri ayah, tak cukupkah selama ini kau menyiksa safira ayah" gerutu gilang dalam hati dengan tangannya terkepal emosi
"safira kenapa kau masih sekuat ini dengan perlakuan ayah yang seperti itu, mbak mila melihatnya saja sudah gak tega apa lagi kamu yang disiksa bagaimana sakitnya safira" gerutunya sendirian
gilang sudah keluar dari kamarnya mencari ayahnya, namun kelihatannya ayahnya sudah pergi ke kantor
"bik asih"
"iya den gilang ada yang bisa binik bantu"
"enggak cuma mau nangak? apakah ayah sudah berangkat bik?"
"sudah den barusan saja"
"okelah bik, saya lapar bawakan makanan ke kamar saya ya bik"
*********
mohon komentarnya ya maaf jika kurang menarik..🙏🙏
__ADS_1