
Lautan di saat senja menjelang membawa beragam makna bagi setiap orang. Warna jingga yang perlahan datang, membayang dan semakin temaram membawa nuansa berbeda tergantung siapa yang memandang. Begitu indah bagi mereka yang sedang bahagia, berbunga dan jatuh cinta. Tapi akan suram dan kelabu jika hati yang memandang tengah kecewa dan terluka.
Seringkali mereka yang sedang jatuh cinta datang sekedar untuk bisa menikmati pemandangan matahari tenggelam yang menggantung indah di atas lautan. Sembari berpegangan tangan, berbagi memori indah dan saling menikmati kehadiran. Mengukir kenangan dalam benak masing-masing.
Sebaliknya, sebanyak yang bersuka cita datang, sebanyak itu pula yang berduka dan kecewa hadir memandang lautan. Sekedar mencari tempat untuk menyendiri dan merenung. Atau sekedar membuang kesah yang tak terungkapkan. Ada juga yang datang untuk berteriak melepaskan beban yang teramat berat.
Bagi Senja, Kai adalah lautnya. Seperti laut, Kai adalah tempat dia datang dan berkeluh kesah ketika hidup dirasa terlalu berat. Tempat berbagi suka dan duka yang kerap datang silih berganti. Tempat bersandar ketika merasa gamang dan tak punya pegangan. Senja mencintai Kai dengan segenap hati dan jiwanya. Namun seperti malam yang datang setelah matahari tenggelam, Kai juga mendatangkan gulita teramat kelam.
Jalan hidup memang kadang jauh di luar kendali kita. Tiga tahun perjalanan kisah cinta mereka, berubah menjadi cerita yang begitu ingin dikubur dalam-dalam oleh Senja di hatinya.
__ADS_1
Kecewanya teramat besar begitu tahu bahwa Kai menyimpan rahasia yang begitu besar. Hatinya berkali lipat lebih sakit karena mengetahui rahasia itu bukan dari mulut pemuda itu sendiri.
Kebohongan Kai membuat seolah kebersamaan mereka sama sekali tidak ada artinya. Senja berharap tidak akan pernah lagi berjumpa dengan Kai sepanjang sisa hidupnya.
Tapi hidup kadang memang suka bercanda. Ataukah hidup memang sengaja menertawainya?
Mempertemukannya dengan Kai yang seolah akan menjadi teman hidupnya. Lalu menghempaskannya pada kenyataan bahwa semua hanyalah kebohongan belaka.
Senja ingin semua selesai dengan dia mengubur kenangan bersama Kai beserta rasa sakit dan kecewanya dalam-dalam. Tapi ternyata tidak bagi Kai.
__ADS_1
Bagi pria itu Senja tetaplah gadisnya, Senjanya. Gadis yang membantunya menemukan jalan di saat dia kehilangan arah. Senja adalah cahaya dalam temaramnya. Kai akan memperjuangkan lagi hati Senja yang dulu pernah jadi miliknya.
Satu tahun menghilang dari hidup Senja, bukan berarti Kai ingin menghapus Senja dari kenangannya. Bukan berarti dia ingin Senja melupakannya. Dia hanya memberi ruang untuk Senja.
Memberi Senja kesempatan untuk merawat luka yang ditimbulkannya. Berharap seiring berjalannya waktu, Senja bisa melupakan sakit hatinya. Berharap gadis itu mau membuka hati untuk menerima penjelasannya.
Kai menunggu waktu yang tepat untuk kembali masuk ke kehidupan Senja. Tiga ratus enam puluh lima hari bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi bagi Kai, bukan masalah berapa lama pun waktu berlalu. Selama dia bisa kembali ke dalam hidup Senja, selama dia bisa merebut kembali hati gadisnya, dia rela.
Selama satu tahun ini Kai hanya mengamati Senja dari jauh. Memberi ruang pada gadis itu. Tapi rindunya sudah menggunung. Seakan-akan rindu itu akan segera tumpah jika tidak menemukan muaranya.
__ADS_1
Mentari Senja adalah muara rindunya. Kai akan kembali berjuang untuk gadisnya. Dia akan membuktikan bahwa menyimpan rahasia dari Senja bukan berarti gadis itu tidak berarti dalam hidupnya. Justru dia tidak berani membuka rahasianya karena takut Senja akan meninggalkannya.
Pada akhirnya, ternyata Senja benar-benar memutuskan pergi begitu tahu rahasianya. Ah, entahlah. Entah akan seperti apa kisah mereka pada akhirnya.