
...Baby listen to me...
...I want you to tell me the truth...
...Stop being an actor...
...Don’t put my love into your game...
...Can’t you see I love you more then you know?...
...Can’t you see I'm trying to be honest?...
Irama lagu Ready to Lose You milik Ten to Five terdengar mengalun dari speaker di sudut sebuah ruangan empat kali empat meter. Ruangan yang isinya tidak terlalu padat. di sisi dinding sebelah kiri yang berseberangan dengan pintu terdapat sebuah tempat tidur ukuran satu orang, yang dilapisi sprei berwarna ungu.
Di ujung tempat tidur ada seperangkat meja rias sederhana berwarna lilac. Di sisi dinding yang berseberangan dengan tempat tidur terdapat lemari dua pintu berwarna ungu tua dan gantungan hanger segitiga berwarna ungu muda. Masih di sisi dinding yang sama, terdapat lemari yang berisi koleksi tas dan sepatu yang disusun dengan rapi. Sementara ruang kosong di tengah dilapisi karpet bulu yang juga berwarna ungu. Keseluruhan barang-barang di kamar ini mengisyaratkan bahwa sang empunya sangat menyukai warna ungu.
...So now I'm ready to loose you...
...And I'm ready to let you go...
...So now I'm ready to leave without you...
...Please don't try to hold me...
...'Cause I'm ready to loose you...
...I'm ready to loose you...
Sebuah pintu yang berada tepat di sebelah meja rias terbuka dan memunculkan si pemilik kamar yang ikut bersenandung mengikuti irama lagu yang mengalun memenuhi kamar itu. Suasana hati Senja, penghuni kamar itu, terlihat sangat baik. Tubuhnya yang memakai pakaian rumah sederhana, celana pendek ungu dan kaos oversize putih polos, ikut bergoyang mengikuti beat lagu. Sementara tangannya sedang mengoleskan masker wajah berwarna hijau seperti lumpur di depan meja rias.
Begitu selesai mengoleskan masker di wajahnya, Senja mengelap tangannya dengan tisu basah, kemudian mengambil ponselnya untuk berswafoto. Foto itu kemudian diunggah ke media.
“Free day and I feel free…
it’s time to me time..
#freeday #bebas #metime #maskeran #mudmask”
Kata-kata itu disematkan Senja sebagai caption fotonya. Hari ini adalah hari bebasnya. Hari libur yang hanya didapatnya satu kali dalam seminggu itu dinikmati dengan memanjakan dan merawat dirinya.
Perasaannya hari ini sedang bahagia. Beban di hatinya yang menggantung selama satu tahun ini sudah hilang. Perasaan Senja menjadi lebih ringan. Mungkin karena dia sudah mengungkapkan semua perasaan yang terpendam di hatinya. Mungkin karena saat di tebing bebatuan itu, dia sudah memutuskan untuk memaafkan dan melepaskan.
Apalagi, ini sudah seminggu sejak Kai mengantarnya pulang malam itu, dan laki-laki itu sama sekali tidak menghubungi atau menemuinya. Senja sangat bersyukur. Mungkin Kai juga sudah menerima semuanya, dan memutuskan untuk melepaskan semua tentang mereka. Pemikiran itu membuatnya merasa bahagia, lepas dan bebas.
Tiing!
Sebuah pesan masuk ke ponsel yang sedang dipegang oleh Senja. Seulas senyum tercetak di bibirnya yang tipis membaca nama si pengirim pesan.
Ciee, yang feel free.. bahagia banget kayaknya nggak harus menapakkan kaki di kantor hari ini yaa..
Senja tergelak membaca isi pesan. Jempolnya terlihat sibuk mengetik, membalas pesan.
Ciee.. yang hari ini masih ada kerjaan. Jangan iri ya, Pak GM.
__ADS_1
Send. Senja merebahkan badannya di tempat tidur setelah pesan balasan yang diketiknya terkirim. Gadis itu senyum-senyum sendiri. Berbicara atau bertukar pesan dengan Nuta memang selalu menyenangkan. Laki-laki itu selalu bisa membuatnya nyaman.
Tiing!
Ponsel yang didekapnya itu kembali berdenting. Senja mengangkat ponsel dan senyumnya langsung hilang begitu membaca pesan yang baru terbuka.
Hari ini free ya, Jha? Maskerannya cuma lima belas menit kan? Dua puluh menit lagi Abang nyampe. Kita jalan, ya.
Pesan dari Kai itu membuat suasana hatinya berubah seketika. Kebahagiaan dan perasaan bebas yang tadi dirasakannya ternyata hanya panas sesaat sebelum badai datang. Dia menyesal sudah menguploload foto barusan. Hari tenang dan bahagianya akan segera hilang.
Nggak usah deh. Aku hari ini mau tiduran aja, lagi mager, nggak mau kemana-mana.
Senja mengetik pesan dengan cepat, kemudian melemparkan ponselnya ke ujung tempat tidur. Gadis itu kemudian menghempaskan dirinya, berniat untuk tidur saja. Nanti saat Kai datang dia akan beralasan ketiduran.
...****************...
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Senja yang tidak dikunci terbuka dari luar. Anggi, teman satu kosan yang menghuni kamar di sebelah masuk ke dalam, menghampiri Senja yang matanya terpejam.
“Jha. Senja. Bangun, woy. Tidur pagi-pagi gini pintunya nggak dikunci lagi, bener-bener deh ni anak.” Anggi menggoyang-goyangkan badan Senja, mencoba membuatnya bangun.
“Apaan sih, Nggi. Ngantuk nih, gue,” jawab Senja begitu membuka mata dan melihat Anggi yang duduk di tepi tempat tidurnya.
“Bangun. Nggak baik tidur pas matahari lagi naik gini. Dapat laki duda ntar.”
Gadis itu kaget mendapati jarum jam menunjuk angka sebelas. Itu berarti dia tertidur satu setengah jam. Notifikasi ponselnya menampilkan beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama, nomor Kai.
“Eh, lo ngapain ke kamar gue, Nggi?” Tanya Senja sebelum membalas pesan-pesan Kai yang masuk dari satu jam yang lalu.
“Oh iya, mau ngasih. Itu di luar ada tamu lo, tuh. Udah sejam lebih nungguin di luar.”
“Serius? Udah sejam lebih? kok lo baru bangunin gue?” Senja yakin tamu itu adalah Kai. Walaupun dia memang berniat beralasan ketiduran, tapi ada perasaan tidak enak di hatinya begitu tau Kai sudah menunggu satu jam lebih.
“Tadi gue lago di luar, dia datang nanyain lo. Gue bilang lo ada di dalam. Telpon aja. Trus gue pergi makan, deh. Pulang-pulang ternyata dia masih di luar. Katanya lo nggak angkat telpon. Makanya gue samperin ke sini.”
“Ya udah, deh. Gue samperin dulu, ya.” Senja bergegas turun dan berjalan menuju pintu.
“Hei, cuci dulu tuh muka. Nyeremin gitu tampang lo, ntar orang-orang pada lari.”
Senja menepuk keningnya, lupa masker di wajahnya belum dicuci.
“Itu yang di luar bukannya pacar lo, Jha? Eh, apa mantan ya? Udah lama banget kayaknya nggak ke sini. Balikan lagi nih ceritanya?” Anggi memberondong Senja dengan pertanyaan begitu keluar dari kamar mandi. Gadis itu ternyata masih duduk di atas tempat tidur.
“Ih, kepo deh, lo. Sana-sana balik ke kamar lo. Gue mau keluar dulu,” jawab Senja sambil mendorong Anggi keluar dari kamarnya.
...****************...
“Bang,” panggil Senja begitu sampai di dekat Kai yang tengah duduk di kursi panjang di teras. Kai terlihat sibuk dengan laptop yang diletakkan di atas meja, sedang mengolah data dari kejadian yang baru saja diliputnya.
__ADS_1
“Hai, Jha. Akhirnya keluar juga,” sapa Kai, menoleh sejenak sambil melempar senyum pada Senja, kemudian melanjutkan lagi mengetik di laptopnya.
“Kalo sibuk ngapain ke sini sih, Bang. Tadi kan aku udah balas pesannya, hari ini mau tiduran aja. Kenapa tetap datang?”
“Oh itu. Aku nggak sempat baca. Lagi di lokasi kejadian. Begitu selesai langsung ke sini,” jawab Kai santai.
Senja menarik nafas panjang. Dari dulu Kai memang selalu begitu. Saat dia bilang akan datang, walaupun Senja menolak, laki-laki itu tetap akan datang.
“Tadi kan nunggu lama, aku ketiduran. Kenapa nggak pulang aja?” Senja bertanya lagi. Masih merasa tidak enak karena membuat Kai menunggu begitu lama.
“Nggak pa-pa, Jha. Kan bisa sekalian kerja. Enak sih di sini, adem.”
“Tapi aku yang nggak enak bikin kamu nunggu lama.”
Kai tersenyum, mengalihkan tatapan dari laptop dan menatap Senja, kemudian berkata dengan lembut, “nggak masalah, Jha. Sejam atau dua jam lagi juga Abang tunggu, kok.”
Senja tidak menjawab. Tepatnya tidak tahu lagi harus menjawab seperti apa. Sementara Kai terlihat sudah mematikan laptop dan mengemasnya ke dalam ransel.
“Jalan yuk, Jha. Cari makan atau kemana, kek.”
Kai menatap Senja. Mengulas senyum di bibirnya. Rutinitas seperti ini biasa mereka lakukan dulu, saat Senja masih berstatus kekasihnya. Dia lebih suka datang cepat saat ada janji dengan Senja. Menunggu gadis itu berdandan sambil mengerjakan pekerjaannya. Masa-masa indah dalam perjalanan kisah mereka.
“Aku kan udah bilang, Bang. Hari ini lagi mager. Pengen di rumah aja.”
“Kalo gitu tunggu di sini ya, aku beli cemilan sama minuman dulu. Sekalian makan siang juga.”
“Loh, buat apa?”
“Kan katanya kamu lagi mager. Ya udah kita ngobrol di sini aja. Ini juga udah hampir jam makan siang. Sekalian aja, kamu pasti ntar bakalan males keluar beli makanan.”
Senja terdiam. Dari dulu Kai memang selalu seperti itu. Selalu memperhatikan makanan dan segalanya tentang Senja. Perhatian itu ternyata belum berubah sama sekali.
“Kita makan di luar aja. Kasih sepuluh menit. Aku siap-siap dulu.” Senja berlari ke dalam, tanpa menunggu jawaban. Setidaknya untuk kali ini, dia akan mengikuti keinginan Kai untuk bertemu. Hitung-hitung menebus rasa bersalah karena sudah membuat laki-laki itu menunggu lama.
Kai tersenyum menatap punggung Senja yang menghilang di balik pintu. Gadis itu masih sama, sama sekali tidak berubah. Senja yang dia kenal tidak akan pernah tega mengabaikan orang yang sudah menghabiskan waktu untuk menunggunya.
...****************...
Restoran dengan menu spesialis ikan bakar yang terletak di pinggir pantai menjadi pilihan Kai dan Senja untuk menikmati santap siang. Mereka menempati meja dengan kursi di balkon lantai dua, spot yang memang selalu jadi favorit mereka. Beruntung tempat ini masih kosong saat mereka masuk.
Setelah menyebutkan pesanan, Senja mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang terletak di pangkuannya. Berniat membalas pesan Nuta yang belum sempat dibuka.
“Kai ….” Sebuah suara terdengar berteriak memanggil nama Kai di tengah suara pengunjung restoran yang sangat ramai. di jam makan siang seperti ini, restoran ini memang selalu penuh.
Senja menoleh mencari pemilik suara. Terlihat seorang cewek dengan make up ala Tasya Farasya melambaikan tangan. Cewek dengan barang serba branded yang melekat di tubuhnya itu terlihat berjalan melenggok menuju ke arah meja mereka, ke arah Kai lebih tepatnya.
“Kai, apa kabar? Lama banget nggak ketemu.” Cewek itu langsung memeluk Kai, menggelayut manja di lehernya, tak lupa meninggalkan kecupan di pipi kiri dan kanan.
Senja memperhatikan semua itu dalam diam. Ada perasaan tidak suka di hatinya.
^^^****************^^^
...Waaah.. Ada yang cemburu nii🤭 ......
__ADS_1
...Kira-kira yang datang siapa, ya??...