Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 36 Kamu Dengannya


__ADS_3

"Ikut mobil Papa aja, Kai," Bachtiar berdiri dari sofa yang didudukinya begitu Kai sudah turun dari kamarnya di lantai dua.


"Nggak ah, Pa. Kai nyetir sendiri aja."


"Tapi beneran datang loh Kai, jangan kemana-mana dulu." Kali ini Indira yang memperingatkan anaknya.


"Udah pakai baju ginian mau melipir kemana lagi Kai, Ma. Ada-ada aja deh. Kai ikutin mobil Papa di belakang deh, biar Papa sama Mama yakin."


"Ya udah. Ayo berangkat." Bachtiar berjalan mendahului menuju garasi.


Sudah enam bulan berlalu sejak Kai memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan media papanya. Dia mulai terbiasa dengan rutinitas baru. Mulai terbiasa juga mengikuti papanya bertemu dengan rekan-rekan bisnisnya.


Bahkan Kai mulai terbiasa mengikuti orang tuanya datang ke pesta pernikahan anak relasi bisnis mereka. Hal yang dari dulu selalu dia hindari. Hal yang dari dulu sangat dia benci.


Resepsi pernikahan anak relasi papanya yang harus didatangi kali ini berlokasi di ballroom sebuah hotel berbintang lima di kota ini. Kai tidak terlalu peduli relasi yang mana, atau anaknya yang mana yang mengadakan resepsi.


Dia hanya sekedar mengikuti keinginan orang tuanya untuk ikut. Karena papa dan mamanya terlihat sangat bahagia bisa mengenalkan anak satu-satunya itu kepada semua kenalannya. Laki-laki itu hanya ingin membahagiakan kedua orang tuanya.


"Kenalin Kai, ini teman Mama, Tante Anita. Dan ini anaknya, Valerie. Valerie ini model loh, Kai." Indira yang paling semangat memperkenalkan Kai sana-sini.


Bertahun-tahun pertanyaan tentang anaknya hanya bisa dijawab dengan basa-basi. 'Anak tunggalnya sedang menuntut ilmu. Lebih menyukai belajar sastra daripada bisnis. Tidak suka tersorot media. Tidak menyukai keramaian.' Itulah jawaban yang selalu diberikan oleh suami istri itu jika ada yang bertanya tentang anaknya.


Mereka harus menebalkan muka dan telinga, menahan perasaan jika ada yang membicarakan mereka di belakang. Tapi sekarang tidak lagi. Kai, anak kesayangannya sudah kembali ke pelukan. Mereka bisa membanggakan anak itu sekarang.


Kai mengulurkan tangan menyalami Tante Anita dan Valerie anaknya. Tersenyum ramah atas nama sopan santun.


"Valerie tadi ke toilet dulu pas baru nyampe. Belum ambil minuman sama makanan. Temani boleh ya, Kai?" tanya Anita pada Kai. Mendorong dengan tidak kentara agar Valerie mendekat ke arah Kai.


"Ayo," angguk Kai pada Vallerie.


Sebenarnya Kai tahu kemana arah permintaan itu. Hanya saja dia tidak punya kuasa untuk menolak. Karena dia harus menjaga nama baik mama dan papanya di depan umum.


Valerie berjalan ke arah meja prasmanan panjang dengan Kai berjalan di sampingnya. Wanita tinggi semampai dengan tubuh ideal itu meneliti deretan makanan yang ada di sana. Kemudian mengambil sepotong puding buah dan segelas minuman berwarna merah.

__ADS_1


"Udah? Itu aja makanannya?" tanya Kai. Heran karena Valerie sudah membelakangi meja panjang, sepertinya tidak berniat menambah makanan di piring kecil yang dipegangnya.


"Udah, ini aja," jawab Valerie dengan senyum terkembang di wajahnya yang cantik berpoles make up ala korea.


"Emang kenyang?"


"Ini cukup kok. Lagian cuma ini makanan yang kalorinya rendah."


Kai hanya membulatkan bibirnya sebagai tanggapan. Dia tidak pernah terbiasa dengan perempuan yang rela perutnya kelaparan hanya karena ingin bentuk badannya terjaga.


Kalau saja yang ada di sini adalah Senja, gadis itu tidak akan pilih-pilih makanan. Apapun jenis makanan yang menarik perhatiannya, akan dilahap tanpa memikirkan kalori dan ***** bengeknya.


Ah, lagi-lagi aku mikirin kamu, Jha. Apa selama enam bulan ini kamu pernah sekali aja mikirin aku?


Mata Kai tiba-tiba membulat sempurna. Bukan karena pikiran dan hatinya lagi-lagi mengingat Senja. Tapi karena tatapannya menangkap sosok yang sedang dipikirkannya itu berjalan memasuki ballroom. Gadis itu berjalan berdampingan dengan seorang laki-laki. Tangannya melingkar di lengan laki-laki itu. Dan mereka, Senja dan laki-laki itu menggunakan pakaian yang senada.


Kai menggelengkan kepala. Tidak mungkin Senja akan berada di sini. Mungkin ingatannya tentang Senja menciptakan ilusi.


"Liatin siapa, Kai?" tanya Valerie. Matanya ikut melihat ke arah tatapan Kai.


"Maksud kamu apa?" Tanpa sadar Kai bertanya dengan nada kesal dalam suaranya.


"Hmm …. Itu loh, cowok yang barusan masuk. Itu mantan pacar aku. Kayaknya yang bareng sama dia itu pacar barunya. Putus dari aku kok selera ceweknya malah jadi gitu. Jauh banget," jelas Valerie tanpa menyadari perubahan raut wajah Kai mendengar ucapannya.


"Emang cewek di sebelahnya kenapa?"


"Ya, bukan tipe-tipe cewek yang biasa digandeng sama Nuta sih. Biasanya dia suka cewek yang tinggi, cantik, dandanannya tanpa cela. Kira-kira kayak aku lah. Tapi liat tuh, cewek yang di sebelah dia. Manis sih, tapi nggak tinggi. Make upnya juga ala kadarnya. Kelihatannya juga dia dari kalangan biasa."


Kai berjalan mendahului Valerie menuju tempat mamanya berada. Telinganya panas mendengar celaan yang dilontarkan pada Senja. Jika dia mendengar lebih banyak lagi kata-kata buruk tentang Senja, bukan tidak mungkin dia akan berkata atau berbuat sesuatu yang akan mempermalukan dia dan orang tuanya.


Bukan hanya telinga, hatinya pun ikut panas melihat Senja yang benar-benar berada di sana. Berdampingan dengan laki-laki lain, bukan dia.


Langkah Kai melambat, ternyata orang yang sedang dipikirkannya justru sedang berada di hadapan mamanya. Entah bagaimana Senja dan laki-laki itu bisa berakhir di sana.

__ADS_1


Kai mendekat dengan langkah perlahan. Posisinya saat ini berada di belakang Senja dan laki-laki itu. Jadi Senja tidak akan menyadari kehadirannya. Sedangkan Kai bisa mendengar percakapan mereka.


"Loh, ini Nak Senja kan ya? Kita pernah ketemu lo waktu di radio, kamu ingat?" Kai mendengar mamanya menyapa Senja.


"Iya ingat, Bu. Ibu apa kabar?" Suara Senja menjawab, masih semerdu biasanya menyapa telinga Kai.


"Jangan panggil Ibu, ah. Panggil Tante aja. Samain sama Nuta."


"Iya, Tante. Tante apa kabar?" Kai mulai geram, mau-maunya Senja menuruti keinginan mamanya untuk menyamakan panggilan dengan laki-laki yang pernah hampir babak-belur dihajarnya itu.


"Tante kabar baik. Kamu makin cantik, ya. Eh, iya, kok bisa kesini bareng sama Nuta?" Ah, akhirnya mamanya mempertanyakan apa yang ada dalam kepala Kai.


"Mami sama Papi lagi ada urusan yang nggak bisa ditinggal Tante, jadi saya yang gantiin. Senja nemenin, karena saya males datang sendiri." Jawaban pertanyaan itu malah datang dari mulut Nuta.


"Ditemenin pacar nih ceritanya?"


"Maunya gitu, sih. Doain ya Tante."


Telinga Kai panas mendengar jawaban Nuta. Ini tidak bisa dibiarkan. Kai mengepalkan tangannya, kemudian melangkah menuju mamanya, Senja, dan laki-laki tidak jelas itu.


...****************...


...Duh-duh .... Kai mulai emosi lagi nih....


...Apa jangan-jangan ntar Nuta dibikin babak-belur lagi, ya?...


...Tungguin lanjutan kisahnya ya, Guys ... 🤗...


...Jangan lupa tinggalin jejak. Like, share dan komen yang banyak .... 🥰...


...Makasih semuanya udah baca sampai sejauh ini....


...Makasih atas dukungannya....

__ADS_1


...Love you to the moon and back ❤️❤️❤️...


__ADS_2