
Ting!
Ting!
Ting!
Denting dari ponsel Senja yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidur terdengar berkali-kali. Menandakan notifikasi yang masuk beruntun.
Gadis itu menggeliat dengan malas. Matanya masih sangat mengantuk. Rasanya baru lima menit dia tertidur.
Ting!
Ting!
Ting!
Benda itu kembali berdenting. Membangunkan Senja yang sudah kembali mengarungi alam mimpi. Ah, sial! Kenapa dia bisa lupa menonaktifkan benda itu sebelum tidur.
Dengan malas diulurkannya tangan untuk mengambil ponsel. Berniat mengecek sebentar notifikasi yang masuk, kemudian mematikan benda itu agar bisa tidur dengan nyenyak.
Mata yang masih sangat mengantuk itu tiba-tiba sempurna terbuka. Kaget, ternyata ada banyak sekali pesan dari aplikasi chat dan beberapa sosial media miliknya. Senja memperhatikan nama-nama pengirim pesan beruntun itu.
Teman-teman dekat dan rekan-rekan kerjanya mengirimkan pesan lewat aplikasi chat berwarna hijau. Sementara pesan masuk di sosial media, rata-rata dikirimkan oleh teman-teman yang sudah jarang berkontak dan juga nama-nama baru yang tidak dia kenal.
Semua pesan itu isinya hampir sama. Ucapan selamat ulang tahun.
Doa dari aku buat kamu, cukup aku dan Tuhan yang tahu. Kamu tau beres aja. Dan aku kirim amin yang banyak buat semua doa yang orang-orang rapalkan untuk kamu hari ini. Selamat ulang tahun, Mentari Senja.
Seulas senyum terukir di bibir Senja. Pesan itu dari Nuta. Dia sendiri lupa kalau hari ini tanggal delapan, hari ulang tahunnya. Tapi Nuta dan teman-teman lainnya malah ingat. Ada rasa hangat yang menyusup di hatinya.
...Suasana...
...Indah dan ceria...
...Membawa suka cita...
...Bersama gembira...
...Menyambut...
...Datang hari bahagia...
...Tak sabar hati ini...
...Tuk berbagi rasa...
...Seiring waktu berjalan usiamu...
...Terucap untuknya selamat ulang tahun...
...Ooh......
...Semoga kita slalu bersama...
...Dalam canda dan tawa...
...Yang masih tersisa...
__ADS_1
Suara merdu bersenandung diiringi petikan gitar mengalun memenuhi kamar begitu Senja membuka sebuah pesan suara. Memasuki rongga telinga dan menelisik jauh ke dalam hatinya.
...****************...
“.... Lagu terakhir kita hari ini, gue puterin khusus buat Arshinta Fam yang lagi berulang tahun. Happy birthday, semoga panjang umur, dan semoga satu tahun ke depan berjalan dengan lancar dan bahagia. Ini dia ada Kahitna dengan Selamat Ulang Tahun Cinta. Gue pamit, see you.” Senja mengakhiri sesi siarannya hari itu dengan perasaan lega.
Setelah meletakkan headphone dan merapikan barang-barang yang ada di tas meja, Senja bergegas menuju pintu. Dia harus segera keluar agar penyiar yang bertugas selanjutnya masuk dan memulai siaran sesi berikutnya.
“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear Senja, happy birthday to you ….”
Begitu keluar dari pintu ruang siaran Senja disambut dengan lagu Happy Birthday yang dinyanyikan oleh rekan-rekannya yang ternyata sudah berkumpul semua di ruangan itu. Sebuah kue ulang tahun besar berwarna ungu dengan lilin yang menyala disodorkan ke depan wajahnya.
“Buruan tiup, udah ngiler liat kuenya nih kita,” seru salah satu rekannya tidak sabaran.
Senja tertawa. Meskipun ritual seperti ini selalu mereka lakukan saat ada salah satu di antara mereka yang berulang tahun, tetap saja hatinya bahagia.
“Yeaayy ….” Sorakan disertai tepuk tangan terdengar begitu Senja meniup lilin angka 25 di atas kue.
Setelah itu? Jangan tanya lagi apa yang terjadi. Semua yang ada di ruangan itu bergegas memotong dan menyantap kue itu tanpa peduli lagi dengan yang berulang tahun. Jangankan dibagi, ditawari saja tidak.
Senja hanya tertawa dan geleng-geleng kepala. Begitulah memang kelakuan mereka setiap kali ada yang berulang tahun.
Begitu kue habis, mereka akan mulai meneror orang yang berulang tahun, apalagi kalau bukan minta traktiran.
“Traktirannya kemana nih, Jha? Kue aja nggak bikin kita kenyang tau.”
Tuh kan, baru aja dipikirin, udah langsung ditodong. Senja geleng-geleng kepala.
“Mau makan di mana? Pilih aja tempatnya,” jawab Senja sambil mendudukkan dirinya di sofa.
Pintu ruangan terbuka dan kepala Dodi, customer service kantor muncul di sana.
“Mbak Senja, dipanggil Pak GM. Ditunggu di ruangannya sekarang.” Pintu langsung ditutup lagi tanpa menunggu jawaban.
“Ciee …. Kayaknya ada yang bakalan dapat kado dari Ayang GM nih.”
“Apaan deh, Ayang GM-ayang GM, jangan bikin gosip. Dosa,” jawab Senja sambil berlalu meninggalkan ruangan.
...****************...
Tok!
Tok!
Tok!
“Masuk.” Terdengar suara Nuta menjawab ketukan Senja di pintu ruangannya.
Senja membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya Nuta yang sedang duduk di belakang meja kerjanya dengan posisi membelakangi.
“Mas Nuta panggil aku?”
Mata bulat Senja membelalak begitu Nuta membalikkan badan. Kedua tangan laki-laki itu memegang sebuah kue kecil berwarna ungu yang sangat cantik. Kue itu terlihat simpel, tapi sangat cantik. Di atasnya ada sebuah lilin kecil berbentuk panjang yang sedang menyala.
Nuta berdiri, berjalan ke arah sofa dengan kue masih di tangan. Menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan suara merdu.
“Ayo, tiup lilinnya. Jangan lupa berdoa dulu,” ucap Nuta pada Senja yang masih berdiri mematung di tempat semula.
__ADS_1
Akhirnya gadis itu berjalan menuju sofa tempat Nuta berada. Hatinya menghangat. Benar-benar tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini dari atasannya itu.
“Makasih, Mas. aku nggak nyangka Mas Nuta sampe nyiapin kue segala,” ucap Senja setelah meniup lilin.
“Aku tau, kamu pasti nggak akan kebagian kue yang di dalam. Aku kasian, loh. Makanya aku siapin kue kecil ini buat kamu, biar yang ulang tahun tetap bisa nyicipin kue,” jawab Nuta, menunjuk dengan dagunya ke arah ruangan Radio Arshinta.
“Ha ha ha …. Tau aja Mas kelakuan mereka.”
“Tau lah. Apa sih yang aku nggak tau. Apalagi kalo berhubungan sama kamu.”
Nuta mengucapkan kata-kata itu dengan senyum hangat dan tatapan tepat di mata Senja. Sementara yang ditatap justru mengalihkan tatapan matanya ke arah kue di atas meja.
“Aku cobain kuenya ya, Mas. Enak banget kelihatannya, cantik gini lagi.”
Nuta hanya menjawab dengan senyuman. Menyerahkan pisau dan piring kertas yang sudah disiapkannya ke tangan Senja.
“Ini buat Mas Nuta.” Senja memberikan piring kertas berisi kue yang baru dipotong pada Nuta.
“Potongan pertama buat aku, nih?”
Senja mengangguk dengan wajah serius. “Iya, potongan pertama buat Mas Nuta. Kan harus sopan ke yang lebih tua.”
Nuta tertawa. Hatinya sempat sedikit berharap.
Semoga tahun depan kamu benar-benar akan kasih potongan kue pertama buat aku. Aku akan terus sabar dan berjuang untuk itu. Nuta merangkai harap dalam hatinya.
Kue kecil yang cantik itu mereka habiskan berdua dalam sekejap mata.
“Gagal diet nih, Mas. Kuenya enak banget,” puji Senja sambil mengelus perutnya.
“Lebih ke doyan sih kayaknya.” Jawaban Nuta membuat mereka berdua tertawa.
Nuta berdiri menuju ke meja kerjanya. Mengambil sesuatu dari dalam laci meja, sesuatu yang sudah disiapkannya dari jauh-jauh hari.
“Buat kamu.”
“Nggak usah repot-repot harusnya, Mas.” Senja menerima uluran kado kecil yang dibungkus dengan kertas berwarna ungu muda dan pita warna ungu tua sebagai pengikatnya.
“Buka dong.”
“Sekarang?”
Nuta menganggukkan kepala menjawab pertanyaan bernada ragu dari mulut Senja. Senyum hangat mengulas dibibirnya melihat gadis di depannya yang sibuk membuka kado yang dia berikan.
“Mas?” Senja menatap Nuta meminta jawaban. Ada keraguan menyergap begitu melihat apa yang ada dalam kotak kecil di tangannya.
...****************...
......Senja dapat kado apa ya dari Nuta??......
...Ada yang bisa nebak??...
...🤭...
...Terima kasih udah baca Samudera Kala Senja ya, guys.. 🤗...
...Jangan lupa tinggalin jejak, pencet like dan komen yaa.. 😘...
__ADS_1