
Kuliah hari ini benar-benar seperti siksaan. Bukan karena dosennya yang killer atau mata kuliah yang berat. Tapi karena perkuliahan dipindahkan ke kelas sementara yang hanya menggunakan kipas angin kecil di tengah teriknya matahari jam dua siang. Apalagi lokasi kampus yang terletak di sepanjang garis pantai membuat panas teriknya matahri semakin menyiksa. Seharusnya kelas hari ini diadakan di lantai tiga gedung utama. Tapi karena sedang ada perbaikan gedung, mahasiswa terpaksa harus merelakan kenyamanan ruang kuliah berpendingin ruangan itu demi tetap mendapat ilmu.
“Saya tau perkuliahan hari ini tidak nyaman, tapi saya mau saudara-saudara tetap konsentrasi dengan apa yang nanti akan saya sampaikan.” Dosen memulai perkuliahan dengan mengabsen satu persatu nama mahasiswa.
“Kai Sakha Caniago.” Mata elang dosen menyapu seluruh kelas tapi tidak mendapat jawaban.
Pintu kelas tiba-tiba terbuka dari luar dan masuk seorang mahasiswa dengan rambut gondrong dan penampilan agak sedikit urakan. Sebenarnya hal biasa mendapati mahasiswa jurusan Sastra yang berpenampilan tidak rapi dan agak urakan, tapi di kelas ini belum ada yang berani berpenampilan seperti itu, karena mereka masih mahasiswa semester satu.
“Untuk selanjutnya saya tidak mau lagi ada yang masuk kelas setelah saya mengabsen saudara. Saya hanya toleransi keterlambatan sampai sebelum saya mengambil absen. Kalau saudara terlambat dan nama saudara sudah saya sebut, berarti hari itu saudara tidak hadir. Boleh tidak usah saja masuk kelas, atau mau tetap di dalam kelas silahkan, tapi tetap saya anggap tidak hadir.” Dosen memberitahukan peraturan kelas yang harus diikuti oleh mahasiswa, karena memang hari ini baru pertemuan pertama.
“Saya hadir, Pak.” Mahasiswa yang baru saja datang terlambat tunjuk tangan sambil cengengesan.
“Hanya kali ini, Kai. Lain kali jangan diulangi. Mau berapa kali lagi saudara mengulang mata kuliah saya,” ujar sang dosen sambil menatap mahasiswa tersebut.
“He he, maaf, Pak.” Si mahasiswa malah makin cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
“Untuk kalian semua, saya harap jangan mencontoh senior kalian yang satu ini. Ini ketiga kalinya dia mengulang mata kuliah saya. Alasan senior kalian ini gagal di kelas saya bukan karena nilainya jelek. Tapi karena saya memang tidak memberi nilai, sebab kehadiran saudara Kai tidak mencapai 20%. Kalau kalian tidak ingin gagal di kelas saya, jangan coba-coba untuk absen lebih dari tiga kali.”
Senja memperhatikan mahasiswa yang tadi datang terlambat dan duduk di depan yang ternyata adalah seniornya. Namanya disebut sebagai percontohan yang tidak baik oleh dosen, tapi pemuda itu terlihat cuek dan malah lebih sering cengengesan. Senja sedikit penasaran, entah bagaimana kepribadian seniornya itu, sampai bisa cengengesan di situasi yang akan terasa memalukan bagi sebagian orang.
Saat Senja masih memperhatikan, tiba-tiba seniornya itu menoleh ke belakang dan tepat memandang wajah Senja. Senja langsung mengalihkan tatapan matanya, malu karena baru saja ketahuan sedang memperhatikan. Berpura-pura sedang asik menyimak kuliah dosen di depan.
****
__ADS_1
Kai hanya cengengesan saat namanya disebut sebagai percontohan yang kurang baik oleh dosen di depannya. Tidak masalah, karena dia sudah terbiasa. Apalagi ini kelas mahasiswa semester satu. Kelas junior yang tahunnya jauh di bawahnya. Jadi Kai tidak peduli kalau para juniornya ini akan menilainya buruk. Toh, tidak ada yang harus dibuatnya terkesan. Dia tidak harus membuat mereka mempunyai penilaian baik terhadapnya.
Bagi Kai kuliah hari ini terasa membosankan. Karena dia sudah paham dengan materi yang disampaikan dosennya. Ini sudah ketiga kalinya Kai mengulang mata kuliah ini. Kalau saja tadi memilih duduk di bangku barisan belakang, tentu saat ini Kai bisa merebahkan kepalanya. Bisa tidur sampai kuliah hari ini selesai. Ah, ya. Seingatnya saat masuk kelas tadi ada yang menarik di bangku barisan belakang. Terlihat sekilas saat masuk kelas tadi, yang duduk di bagian belakang bukan mahasiswa laki-laki seperti biasa, tapi mahasiswi, ya perempuan.
Karena penasaran, akhirnya Kai menolehkan kepalanya ke arah belakang. Matanya langsung bertatapan dengan mata bulat seorang gadis yang juga sedang menatapnya. Deg! Ada desiran halus menelusup di hatinya.
Kai pensaran dengan si pemilik mata bulat. Tapi dia tidak ingin berlama-lama menatap, tidak ingin nantinya malah jadi pusat perhatian mahasiswa lainnya. Akhirnya Kai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menyapu semua wajah yang duduk di barisan belakang, kemudian kembali menatap ke depan. Mungkin nanti akan ada kesempatan menatap mata bulat itu lagi.
****
“Nah, ini dia yang mau kasih sambutan baru datang. Langsung aja kasih sambutan ya, Bang. Kenalin adik-adik, ini senior yang sudah sangat senior. Senior gaek kita, Abang Kai Sakha. Silahkan, Bang.” Kai yang baru saja sampai di tempat pertemuan itu langsung di dampuk untuk menyampaikan sambutan.
Padahal Kai sengaja datang terlambat ke pertemuan hari ini. Berharap ketika dia sampai pertemuan sudah hampir selesai, jadi dia tidak usah lagi memberikan sambutan. Kai sudah bosan. Ini acara tahunan yang sudah kesekian kalinya diikuti. Acara pertemuan mahasiswa lama sebagai senior dengan mahasiswa baru sebagai junior. Pertemuan ini menjadi semacam tradisi di jurusan mereka. Bukan untuk mempelonco junior, tapi untuk saling berkenalan. Agar nanti bisa akrab dan saling membantu ke depannya.
Begitu Kai mundur lagi ke tempat berdiri semula, gadis bermata bulat itu maju ke depan. Menghampiri Doni yang berdiri di sebelahnya.
“Kak, saya izin keluar duluan.”
“Oh, udah waktunya, ya. Oke silahkan. Nanti kalau ada pertemuan berikutnya, jangan sampai nggak datang, ya.”
“iya, Kak. Permisi kakak-kakak semua, saya izin keluar duluan.” Gadis itu berpamitan kepada senior-senior lainnya, dan juga pamit ke teman-teman satu angkatannya. “Duluan ya, teman-teman.”
“Daah, Senja.” Teman-temannya yang berdiri di barisan belakang melambaikan tangan.
__ADS_1
Ternyata namanya Senja. Semua itu tidak luput dari perhatian Kai. Akhirnya Kai tahu nama gadis pemilik mata bulat itu.
“Siapa, Don? Kenapa dia keluar duluan?” tanya Kai pada Doni yang berdiri di sebelahnya. Kai sedikit penasaran.
“Junior yang barusan, Bang? Dia udah izin dari awal, katanya hari ini cuma bisa ikut pertemuan ini sebentar karena dia ada pertemuan lain juga,” jawab Doni. Doni memanggil Kai dengan abang karena Kai tiga tingkat di atasnya.
“Pertemuan lain? Pertemuan apa emangnya?” Kai makin penasaran.
“Kenapa tanya-tanya, Bang? Naksir, ya? Tumben kepo amat.” Doni iseng menggoda seniornya itu.
“Ya elah, nanya doang gue. Tumben kan ada mahasiswa baru udah sibuk pertemuan sana-sini aja, baru juga dua minggu mulai kuliah.”
“Katanya dia ikut kegiatan radio kampus, Bang. Hari ini pertemuan pertama juga.”
“Namanya siapa?”
“Tuh, kan kepo banget lu, Bang. Tumben banget, sih. Beneran naksir, ya?”
“Nggak jadi nanya deh gue. Ribet lu, Don. Gue cabut dulu, ya. Lanjut aja pertemuannya.”
Kai segera beranjak meninggalkan tempat itu. Hatinya sebenarnya masih penasaran pada gadis itu. Namanya bagus, Senja. Kai ingin tahu siapa nama lengkapnya. Nanti dia akan tahu nama lengkap gadis itu, toh mereka masih akan bertemu di kelas yang sama.
****
__ADS_1