
Kai menatap papanya dengan tatapan nyalang. Tidak menyangka laki-laki itu akan membawa nama Senja dalam percakapan mereka. Tidak cukup dengan menghina profesinya saja. Tidak cukup hanya dengan merendahkan usahanya untuk hidup dari keringat sendiri selama ini. Kali ini papanya malah menyeret nama Senja, gadis yang sangat dicintainya. Entah apa maksudnya.
“Papa jangan sembarangan. Senja menjauh karena aku nggak jujur sama dia dari awal, dia cuma kecewa. Papa jangan asal tuduh. Dia nggak sama dengan cewek-cewek di luar sana.” Emosi Kai mulai terpancing mendengar Papanya menjelek-jelekkan Senja.
“Oh ya? Kamu yakin? Trus yang tadi malam itu apa? Gadis itu bilang apa? Mau memberi kesempatan pada hati kalian untuk merasakan cinta yang lain? Kamu itu lulusan Sastra Indonesia. Apa kamu nggak paham artinya apa? Itu artinya dia jelas-jelas lebih memilih untuk bersama orang yang dekat dengan dia sekarang, yang punya materi lebih dari kamu. Gadis itu pasti cukup paham betapa bodohnya kamu.”
Mata Kai melotot mendengar kalimat panjang ayahnya itu. Bukan karena dia punya pikiran yang sama.
“Gimana Papa bisa tahu semua detail percakapan itu? Papa kirim orang buat mata-matain aku? Atau Papa suruh orang pasang alat pelacak di barang-barang aku, iya?” Kai akhirnya meluapkan kemarahannya.
“Apa itu penting sekarang? Justru kamu harus berterima kasih dong sama Papa. Berkat itu Papa tahu masalah kamu. Dan Papa berbaik hati untuk langsung kasih solusinya.”
“Papa benar-benar keterlaluan. tidak pernah berubah sama sekali. Aku capek selalu ngikutin paksaan Papa. Mulai sekarang ….”
“Kalian itu sama aja. Ayah dan anak sama-sama keras kepala. Nggak pernah mau bicara baik-baik, selalu mengedepankan ego masing-masing. Mama yang selalu capek hati harus terjepit di antara kalian.” Indira sengaja memotong kata-kata yang akan diucapkan oleh Kai. Kemudian berlalu meninggalkan meja makan.
“Mama mau kemana?” Ayah dan anak yang sedang bersitegang itu malah kompak bertanya.
Indira tidak menjawab. Gegas mengayunkan langkah menjauh dari meja makan.
“Kejar Mama kamu,” perintah Bachtiar pada anaknya, dan langsung dipatuhi oleh si anak. Memang dari dulu semua perkara tentang wanita itu selalu menyatukan mereka.
__ADS_1
...****************...
Kai melangkahkan kaki menuju taman di samping rumah. Taman dengan luas lebih dari lima puluh meter persegi itu ditanami dengan berbagai macam jenis bunga. Taman ini adalah kesukaan mamanya. Waktu kecil Kai sangat senang menemani dan membantu merawat semua tanaman itu. Hati anak-anaknya akan sangat bahagia bisa menghabiskan waktu berdua dengan mamanya. Meskipun harus melakukan kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu dia suka.
Terkadang terselip kecemburuan di hati melihat anak-anak yang seusia dengannya datang ke sekolah dibonceng dengan sepeda motor oleh ayahnya. Berboncengan dan memeluk pinggang ayahnya dari belakang sambil berceloteh tentang banyak hal.
Kai kecil juga sering iri melihat teman-temannya yang menghabiskan hari minggu dengan orangtuanya. Entah dengan piknik di taman, atau duduk di pundak ayahnya berkeliling menikmati jajanan sepanjang area car free day. Bahkan sesederhana menghabiskan akhir pekan dengan bermain game konsol dan bercengkrama seharian, juga membuatnya iri.
Hatinya berdenyut, nyeri. Mengingat kembali apa yang tidak didapatkan di masa kanak-kanaknya. Orang tuanya lebih sering sibuk dengan urusan bisnis, ketimbang meluangkan waktu untuknya. Selalu begitu. Terlebih papanya, yang seolah selalu mendahulukan bisnis di atas segalanya, bahkan anaknya sekalipun.
Kai mengedarkan pandangan. Tepat di tengah taman ada bangku panjang yang terbuat dari besi, hanya satu, seperti kapal yang sendirian di tengah lautan bunga beraneka warna. Mamanya duduk di sana dengan pandangan jauh ke depan.
“Ma ….” sapa Kai begitu mendudukkan diri di sebelah Indira.
Kai hanya mengangguk. Memorinya memang menyimpan semua kenangan itu.
“Dan kamu tahu, dulu waktu kamu lulus SMA dan memutuskan nggak tinggal lagi di rumah, Mama marah dan kecewa banget. Kalau mengikuti keinginan hati Mama, Mama akan kirim orang untuk menyeret kamu pulang. Tapi Papa justru melarang dan malah membela kamu. Papa bilang kami harus memberimu waktu untuk menjalani hidup sesuai keinginan kamu. Kata Papa itu juga bisa jadi pelajaran yang akan membantu kamu tumbuh dewasa.”
Kai diam mendengar semua ucapan Indira. Sedikit kaget, ternyata ada cerita seperti itu dibalik kepergiannya dari rumah sembilan tahun lalu.
“Apa kamu nggak pernah bertanya-tanya, kenapa hidup kamu bisa lancar. Tidak banyak masalah, tidak banyak gangguan. Bahkan saat kamu kerja, seberapapun kamu mencoba menguak kasus-kasus yang nggak seharusnya kamu terlibat, sama sekali nggak ada yang ganggu kamu. Kamu pernah mikirin itu, Kai? Apa kamu pikir semuanya lancar sendiri? Nggak, Nak. Itu karena Papa selalu mendukung kamu dari belakang.” Indira kali ini menatap anaknya, tepat di matanya.
__ADS_1
“Papa mungkin bukan ayah yang hangat, yang biasa bilang ‘i love you, Nak’. Bukan ayah yang bisa diajak main game saat senggang. Bukan ayah yang bisa diajak berdebat soal olahraga. Tapi Papa selalu menyayangi kamu dengan sepenuh hatinya. Menyayangi kamu dengan caranya.”
Kai terdiam mendengar penjelasan mamanya. Egonya sedikit tersentil dengan semua cerita yang tidak pernah terungkap selama ini. Dia pikir sudah bisa hidup mandiri. Dia pikir sudah hebat bisa punya penghasilan dari kerja kerasnya sendiri. Tapi ternyata, tetap ada peran papanya di sana.
“Jangan terus melarikan diri, Nak. Jangan terus berusaha membuang nama belakang kamu. Nggak akan bisa. Dan nggak ada salahnya berteman dengan orang-orang yang mendekat karena kamu anak Bachtiar Caniago. Toh, hidup ini memang selalu tentang hubungan timbal balik, tentang memberi dan menerima.”
Kai masih diam. Tidak ingin menjawab, karena hati dan pikirannya menolak semua kata-kata mamanya. Dia yang selama ini menjalani hidup sebagai anak tunggal pasangan pengusaha kaya-raya. Dia yang tahu bagaimana rasanya didekati hanya karena orang-orang itu memandang apa yang dia punya. Mama nggak akan paham apa yang aku rasain, batinnya.
“Pertimbangakan keinginan Papa sama Mama ya, Nak. Kamu tetap boleh tinggal sendiri, kalau memang kamu nggak nyaman tinggal di rumah ini. Kamu hanya perlu belajar mengelola perusahaan media kita di kota ini. Mama dan Papa nggak akan hidup selamanya, Kai. Jangan sampai kamu menyesal nanti.”
“Jangan menyudutkan Kai dengan bicara soal umur terus, Ma. Kai selalu mendoakan kesehatan dan umur panjang untuk Mama dan Papa. Tapi untuk saat ini jawaban Kai tetap nggak, Ma.” Kai menatap mata Mamanya. Berharap wanita yang melahirkannya itu mengerti keputusannya.
“Setidaknya pertimbangkan dulu, Nak. Jangan langsung menolak.”
“Iya, Kai akan pertimbangkan, Ma,” jawab Kai akhirnya, hanya untuk menenangkan perasaan mamanya. Di dalam hati, dia tetap tidak ingin menerima keinginan orang tuanya.
...****************...
...Kasian Kai kecil, ya... 😢...
...Ada yang punya pengalaman sama?...
__ADS_1
...Peluk online dulu kalo ada.. ❤️...