Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 6 Kekacauan Tahun Lalu


__ADS_3

“Masih ada lagi nanti beberapa info yang bakalan gue share, tapi nanti yaa. Gue mau kasih yang spesial dulu nih buat Arshinta Fam yang masih setia dengerin gue. Ada David Cook dengan lagu manisnya Always Be My Baby. Selamat menikmati and stay tune.” Senja menarik nafas panjang setelah menyelesaikan satu kali lagi voice over (VO).


Intro lagu mulai terdengar mengalun di ruang siaran berukuran tiga kali tiga meter itu. Biasanya Senja sangat menikmati saat-saat dia melakoni profesi sebagai penyiar radio. Senja sangat menyukai saat-saat dia berada di belakang mixer dan mic. Baginya pekerjaan ini adalah hobi dan penghasilan yang didapat adalah bonus. Tapi tidak kali ini. Mood siarannya benar-benar rusak sejak pertemuan dengan Kai kemaren. Seandainya bisa, dia malah tidak ingin siaran hari ini.


You'll always be a part of me


(Kau kan selalu jadi bagian dari diriku)


I'm part of you indefinitely


(Aku bagian darimu selalu)


Girl, don't you know you can't escape me


(Kasih, tak tahukah bahwa kau takkan bisa lari dariku)


Ooh darling, 'cause you'll always be my baby


(Kasih, karna kau kan selalu jadi kekasihku)


And we'll linger on


(Dan kita kan terus ada)


Time can't erase a feeling this strong


(Waktu takkan bisa hapuskan perasaan yang sekuat ini)


No way, you're never gonna shake me


(Tidak, kau takkan pernah mengguncangku)


Ooh darling, 'cause you'll always be my baby


(Ooh kasih, karna kau kan selalu jadi kekasihku)


Bahkan lagu-lagu yang harus diputar saat siaran hari ini seperti mengejek perasaan Senja. Lagu yang sedang terdengar mengalun itu adalah lagu favoritnya dan Kai dulu. Mendengar alunan lagu romantis itu semakin membuat hatinya tidak karuan.


Tok


Tok


Tok


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang siaran. Sebelum Senja menjawab sebuah kepala sudah muncul diambang pintu.


“Mbak Senja dipanggil Bapak, disuruh ke ruangan Bapak sekarang.” Dodi, petugas kebersihan di kantor radio Arshinta FM tempat Senja bekerja datang menyampaikan informasi.

__ADS_1


“Oke, gue ke ruangan Bapak sekarang, makasih, Mas, infonya.”


Senja langsung beranjak menuju ruangan Direktur sekaligus pemilik radio tempat dia bernaung. Begitu sampai Senja langsung disuruh masuk. Ternyata di sana sudah ada Nuta, anak direktur yang menjabat sebagai General Manager radio Arshinta FM.


“Kamu lagi ada masalah, Senja?” Andika, direktur sekaligus pemilik radio itu bertanya tanpa basa-basi.


“Nggak ada, Pak,” jawab Senja singkat. Hanya berani menatap meja di depannya. Dia tahu kesalahan yang sudah dia perbuat.


“Kamu tahu kan kesalahan kamu sampai saya panggil kesini?”


“Tahu, Pak.”


“Saya udah berkali-kali bilang. Apapun masalah yang kalian hadapi di luar, begitu masuk ke ruang siaran, tinggalin dulu semuanya. Saya paling nggak suka orang yang siaran ikutin moodnya. Begitu mood baik, siarannya bagus. Begitu lagi ada masalah, jadi males VO. Lagu mulu yang diputer. Saya dengerin kamu siaran udah dua jam, kamu baru vo empat kali.” Panjang sekali semburan kata-kata dari mulut Andika.


“Maaf, Pak. Saya nggak akan ulangin lagi.” Hanya itu yang bisa diucapkan Senja.


“Jangan sampai kamu ulangi kejadian tahun lalu, Senja. Tahun lalu saya kasih kamu toleransi, karena saya memang menerapkan sistem kekeluargaan di sini. Saya nggak kasih kamu hukuman karena saya ikut sedih dengan keadaan kamu. Tapi kalau terulang lagi kali ini. Mungkin saya harus kasih kamu surat peringatan ketiga.”


“Maaf, Pak. Saya janji nggak ulangin lagi.” Lagi, hanya itu yang bisa diucapkan Senja.


“Ya sudah, kamu kembali ke ruang siaran. Jangan sampai kamu nggak VO lagi,” ucap Andika mengakhiri percakapan.


“Iya, Pak. Saya permisi, Pak, Mas Nuta.” Senja berdiri dan pamit pada bapak dan anak itu, lalu berjalan menuju pintu.


Matanya sempat melirik Nuta yang sedari dia masuk hanya diam dan sibuk dengan gawai di tangannya. Saat Senja pamit Nuta pun hanya menjawab dengan senyum. Entah kenapa Senja merasa malu menerima peringatan dari Pak Andika di depan Nuta. Apalagi direkturnya itu sampai mengungkit kejadian tahun lalu.


...****************...


Senja yang baru akan keluar dari ruang siaran kaget mendapati Nuta yang sedang lewat dan langsung mengajukan pertanyaan begitu dia membuka pintu. Ini memang sudah saatnya makan siang.


“Belum, Mas. Ini baru aja clossing,” jawab Senja sambil menutup pintu di belakangnya.


“Makan, yok. Di resto seberang jalan aja.”


“Loh, nggak makan di rumah aja, Mas?” Senja heran kenapa Nuta malah mengajaknya makan di restoran seberang jalan. Padahal studio Arshinta FM beserta kantornya berada tepat di sebelah rumah direktur yang berarti itu rumah Nuta juga.


“Lagi males makan di rumah. Yuk, jalan. Udah laper banget, nih.” Nuta mengusap-ngusap perutnya seperti orang hamil, membuat Senja tergelak.


“Iya deh, Mas. Ayok. Ada yang bayinya udah loncat-loncat minta makan kayaknya.” Mereka berdua tergelak mendengar jawaban Senja, lalu berjalan beriringan menuju restoran di seberang jalan.


Nuta memang biasa seakrab itu dengan semua penyiar dan staf radio Arshinta FM. Mungkin karena memang sifatnya yang selalu hangat dan bersahabat atau karena umurnya yang tidak berbeda jauh dengan mereka. Nuta masih muda, seumuran dengan Kai.


Ah, lagi-lagi Kai. Senja menggeleng untuk menghalau ingatan tentang Kai dari kepalanya. Dia tidak ingin moodnya untuk makan juga ikutan kacau seperti siarannya barusan. Ingatan tentang Kai dengan segala ceritanya seperti racun bagi Senja. Menghancurkan secara perlahan.


“Tahun lalu kamu ngapain, Jha? Bapak marah banget kayaknya.” Nuta langsung mengajukan pertanyaan begitu mereka duduk di bagian dalam restoran, menempati kursi dekat jendela yang menampakkan pemandangan jalanan yang terlihat ramai.


Senja menatap Nuta sesaat. Tidak begitu mengerti apa yang ditanyakan Nuta. Otaknya seperti tidak berfungsi begitu ingatan tentang Kai melintas di kepalanya.

__ADS_1


“Obrolan di ruangan bapak tadi itu, loh,” jelas Nuta tanpa diminta.


“Oooh, itu. Mas Nuta kan nggak tahu, ya. Tahun lalu masih di Bandung.” Bukannya menjawab, Senja malah seperti berbicara dengan dirinya sendiri.


“Iya, makanya aku tanya.”


Senja menutup wajahnya dengan tangan. “Jangan tanya-tanya deh, Mas. Aku malu kalo inget kejadian tahun lalu itu.”


“Kan udah lewat juga. Sekacau apa sih sampai kamu masih malu sampai sekarang?” Nuta menatap Senja yang masih menutup wajahnya dengan tangan.


“Harus cerita, ya?” tanya senja sembari menurunkan tangannya.


“Dari pada aku tanya sama Bapak atau teman-teman yang lain, mending aku tanya langsung sama kamu, kan?”


Sepertinya Senja mulai paham kenapa Nuta mengajaknya makan siang bersama di restoran hari ini. Karena Nuta penasaran dengan apa yang terjadi tahun lalu.


“Hmm, tahun lalu tuh aku bikin kacau, Mas. Selama siaran dua jam aku cuma VO dua kali. Trus aku puterin lagu yang nggak sesuai sama list yang di kasih MD. Lagunya mellow semua ngikutin suasana hati aku. Duh, malu banget deh kalo dinget-inget, nggak profesional aku tuh. Beberapa hari berturut-turut aku juga ngabarin nggak bisa siaran udah last minute, jadinya semua pada kocar-kacir nyari pengganti dan geser-geser jadwal biar nggak ada sesi yang kosong.” Senja menjelaskan panjang lebar.


“Kenapa bisa gitu? Kamu kenapa?” Kembali Nuta mengejar Senja dengan pertanyaan. Tapi mendapati gadis itu hanya membisu. Nuta tidak ingin memaksa. Pada saatnya nanti mungkin Senja akan mau menceritakan semuanya.


“Kacau banget pasti, ya?” Nuta tersenyum hangat menatap Senja yang kelihatan benar-benar malu, wajah dan telinganya sampai membayang kemerahan.


“Kacau, Mas. Untungnya bapak cuma negur kayak tadi bahkan aku dikasih libur dua hari. Bikin aku makin malu nggak, tuh.”


“Kalau aku udah disini sih kayaknya aku bakalan scorsing dan potong gaji kamu, deh.”


“Ya ampun kejam banget sih, Mas.”


Senja dan Nuta tertawa lepas sambil terus menikmati makan siang. Masih asik bercengkrama dan melanjutkan obrolan. Yang tidak mereka sadari adalah ada sepasang mata yang terus mengamati mereka semenjak melangkahkan kaki memasuki restoran.


...****************...


Catatan istilah:



Arshinta Fam : Sebutan untuk pendengar radio Arshinta FM


Voice Over : Kegiatan dimana penyiar radio sedang berbicara membacakan teks siaran, biasa disingkat VO


Mixer : Peralatan audio untuk menggambungkan suara penyiar dengan suara musik


Mic : Alat untuk menginput suara penyiar


Clossing : Salam dan kata-kata penutupan saat sesi siaran berakhir


__ADS_1


__ADS_2