
Brak!!
Pintu ruangan itu tiba-tiba didorong dengan kencang.
“APA-APAN INI?! KALIAN LAGI NGAPAIN?! INI KANTOR BUKAN KAMAR HOTEL!!”
Safira sengaja membuka pintu ruangan kerja anaknya dengan kencang. Sebenarnya tadi dia hanya lewat karena baru saja keluar dari kantor suaminya di bagian dalam, mereka berdua akan berangkat menghadiri sebuah acara.
Wanita itu sekilas mendengar suara anaknya yang berbicara dengan nada agak tinggi. Safira berharap yang didengarnya adalah suara pertengkaran anaknya dengan Senja. Dia berharap anaknya itu mengikuti kemauannya seperti biasa.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, wanita itu mendekatkan telinganya ke daun pintu agar bisa lebih jelas mendengar percakapan di dalam sana. Tapi ternyata yang didengar justru suara Nuta sedang membujuk dengan suara lembut, lebih terdengar seperti memohon.
Tentu saja Safira tidak suka dengan semua itu. Kenapa justru Nuta, anaknya yang punya segalanya, yang memohon pada gadis yang tidak selevel dengan keluarga mereka itu. Seharusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Mungkin gadis kampung itu sudah mencuci otak anaknya.
“Apa-apaan ini? Kenapa peluk-pelukan di ruangan kantor begini, sih? Kamu Senja, apa kamu nggak punya harga diri? Mau-maunya dipeluk bos kamu di ruangan kantor begini. Nggak punya malu, ya, kamu?” Safira yakin dia harus memberi gadis itu pelajaran.
“Mami yang apa-apaan, sih? Masuk ruangan aku tanpa permisi terus malah marah-marah nggak jelas. Jangan ngomong macam-macam sama Senja, Mi. Dia pacar aku.” Nuta malah membela Senja, yang membuat ego wanita yang melahirkannya itu semakin tersentil.
“Kamu ini bener-bener, ya, Nuta. Baru kemarin diomongin, sekarang malah peluk-pelukan di ruang kerja begini. Apa kamu nggak ngerti …”
“Maaf, Bu, sepertinya saya nggak berkepentingan lagi di sini. Urusan saya sama Mas Nuta udah selesai, jadi saya pamit keluar dulu. Ibu bisa lanjutin obrolannya setelah saya keluar.” Senja sengaja memotong kata-kata Safira karena tidak ingin mendengar kata-kata yang akan menyakiti harga dirinya lagi. “Boleh aku minta handphone-nya, Mas?”
“Tunggu dulu, Jha ….”
“Apalagi itu? Handphone apa yang kamu minta sama anak saya? Minta dibeliin yang baru sama anak saya, iya?”
__ADS_1
Nuta kaget mendengar ucapan maminya. Tidak habis pikir kenapa wanita yang melahirkannya itu jadi sangat agresif menyerang Senja dengan kata-kata.
“Handphone saya kemarin ketinggalan di mobil Mas Nuta, jadi saya mau ambil sekarang. Ibu tenang aja, saya sama sekali nggak minta dan nggak berniat buat minta apa-apa sama anak Ibu.” Senja yang berusaha setenang mungkin dari awal, akhirnya mulai sedikit terpancing.
Gadis itu memutuskan untuk mengambil sendiri ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja Nuta. Dia akan segera keluar dari ruangan itu agar tidak terjadi perdebatan yang lebih panjang. Bagaimanapun Safira adalah orang tua yang tetap harus dihormati.
“Saya permisi dulu, Mas, Ibu,” pamit Senja setelah ponselnya berada di tangan.
“Kamu ini nggak ada sopan-sopannya. Main ambil aja, kamu pikir ini ruangan Bapak kamu? Kamu itu karyawan di sini. Jangan mentang-mentang dapat sedikit perhatian dari Nuta kamu jadi ngelunjak, ya. Apa kamu nggak pernah diajari sopan santun sama orang tua kamu?!” Safira justru makin menyudutkan Senja dengan kata-kata tajam. Emosinya memuncak karena gadis itu terlihat tidak ingin menanggapi dirinya.
“Apaan sih, Mi. Kamu boleh keluar, Jha. Nanti aku hubungi lagi, ya.”
“Kamu selalu aja bela dia Nuta. Apa sih yang udah dikasih gadis kampung ini sama kamu?”
Senja memejamkan matanya sejenak. Dia ingin berlalu dari sana. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan begitu saja kata-kata penghinaan yang sudah membawa-bawa orang tuanya.
“Eh, anak kurang ajar, ya, kamu. Jadi kamu bilang saya nggak pantes dihargai. Masih makan dari duit saya aja belagu kamu. Saya dan suami saya yang kasih kamu gaji buat makan, jangan kelewatan, ya.”
“Saya digaji karena saya kerja, Bu. Saya nggak minta duit cuma-cuma, kok. Dan Ibu tenang aja, itu di atas meja ada surat pengunduran diri saya. Jadi saya nggak kerja di sini lagi. Sebenarnya baru efektif per tanggal satu. Tapi sepertinya Ibu lebih suka kalo saya nggak datang lagi ke sini. Jadi saya berhenti kerja mulai hari ini. Maaf, ya, Mas. Semoga nggak kesusahan buat ngatur jadwal sepuluh hari ke depan.” Senja beranjak menuju pintu, ingin segera meninggalkan ruangan.
“Maaf, ya, Jha. Ntar aku hubungi kamu.” Nuta menatap punggung Senja dengan tatapan meminta maaf.
“Kenapa kamu yang minta maaf, sih? Kamu diapain, sih, sama dia sampe jadi gini. Apa kamu dipelet? Atau dicuci otak sama dia, iya?”
“Ibu wakil rakyat yang terhormat, maaf, ya. Asal Ibu tau, saya nggak perlu pakai pelet atau cuci otak buat bikin anak Ibu jatuh cinta sama saya. Ibu bisa tanya detailnya sama anak Ibu, siapa yang suka dan ngejar-ngejar duluan. Yang jelas itu bukan saya. Permisi.” Senja mengucapkan kata-kata pembelaan itu dengan nada kesal.
__ADS_1
Sesungguhnya dia tidak ingin sampai melontarkan kata-kata itu dari mulutnya, karena pasti akan menyakiti Nuta. Tapi dia juga tidak bisa diam saja. Kata-kata Safira sama saja dengan mengatakan tidak mungkin orang selevel mereka akan menyukai dia tanpa bantuan guna-guna atau semacamnya. Seolah-olah orang dari kalangan biasa tidak layak untuk dicintai.
“Saya pamit, Pak. Maaf hari terakhir saya harus berakhir dengan cara seperti ini. Terima kasih untuk kesempatan berkarir beberapa tahun ini.” Senja pamit dan menyelami Andika, Pemilik radio, yang ternyata berdiri di depan ruangan Nuta.
“Saya yang minta maaf untuk semua ucapan buruk yang kamu dengar dari mulut istri saya. Semoga kamu bisa sukses di tempat lain.” Andika menepuk punggung tangan Senja dalam genggamannya.
Sebenarnya dia sangat menyukai gadis periang dan tekun bekerja itu. Dia ingin membela Senja, tapi tentu saja tidak bisa. Karena melakukan itu sama saja dengan menghilangkan ketenangan dalam rumah tangganya. Safira, istrinya adalah orang yang tidak bisa membiarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.
...****************...
Senja berdiri di depan gerbang radio Arshinta. Memandang bangunan yang sudah seperti rumah keduanya selama beberapa tahun ini. Ironis memang, dia harus meninggalkan semua hal yang disukainya di sini, dengan cara yang tidak disukainya.
Tidak pernah terpikir oleh Senja akan meninggalkan radio dan pekerjaan yang sangat dicintainya itu begitu cepat. Dalam bayangannya, kalaupun dia harus meninggalkan Radio yang sudah menaunginya semenjak masih kuliah ini, pasti karena dia menemukan pekerjaan yang lebih bagus atau karena dia memutuskan untuk berhenti bekerja setelah menikah.
Tentu saja dia juga ingin berpamitan secara layak dengan teman-teman seprofesi yang sudah seperti keluarganya. Bahkan dia ingin ada semacam pesta perpisahan kalau memang dia harus meninggalkan radio ini.
Sangat berbanding terbalik dengan apa yang harus dihadapinya sekarang. Dia tidak punya kesempatan untuk berpamitan langsung dengan teman-temannya, karena dia tidak ingin menginjakkan kaki lagi di sini.
Sekali lagi, sungguh ironis. Tempat yang selama seolah menjadi tempat ternyamannya setelah rumah. Saat ini justru berbalik menjadi tempat yang sangat ingin dia jauhi.
Mungkin seharusnya dari awal aku mengikuti kata hati untuk tidak memberi tempat untuk Nuta. Seharusnya aku sadar diri, orang-orang seperti Kai atau Nuta dan keluarga mereka tidak akan pernah menerima aku yang hanya orang biasa.
Senja menghela nafas panjang. Mencoba mengenyahkan pikiran negatif dan rendah diri yang tidak seharusnya mampir di hati dan pikirannya. Seperti kata ayahnya, pikiran seperti itu hanya akan meluruhkan rasa syukur untuk apa yang kita punya.
Senja menaiki angkutan yang membawanya meninggalkan bangunan radio Arshinta tanpa menoleh lagi ke belakangan. Dalam kepalanya sudah terpeta apa yang akan dia lakukan setelah ini. Tidak akan mudah memang, tapi dia yakin bisa melakukannya.
__ADS_1
...****************...