
"Kamu pulang ya, Nak. Mama sama Papa nunggu kamu di rumah sekarang." Indira berbicara dengan lembut di telepon.
Begitu Indira meletakkan ponselnya di meja, Bachtiar memandang istrinya dengan tatapan bertanya.
"Kai bilang iya, Pa. Dia udah jalan sekarang," jawab Indira, istrinya.
Bachtiar menarik nafas dalam. Istrinya tadi menelepon anak tunggal mereka yang sudah dua tahun lebih tidak pulang ke rumah. Dibilang tidak sama sekali juga bukan. Saat lebaran anaknya masih datang. Tapi hanya sekedar masuk, menyalami dan meminta maaf, lalu kemudian pergi lagi.
Anak tunggal mereka Kai Sakha Caniago, memang sudah lama tidak tinggal di rumah ini lagi. Semenjak lulus SMA sembilan tahun lalu, anaknya itu memutuskan untuk keluar dari rumah. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes karena mereka, orang tuanya, terlalu mengekang anak itu.
Bachtiar menginginkan anaknya kuliah di jurusan yang berhubungan dengan ilmu ekonomi atau bisnis. Agar pada saatnya nanti Kai siap mengambil alih tanggung jawab atas semua perusahaan dan bisnis yang dimilikinya.
Semua aset yang dimilikinya sekarang adalah hasil jerih payah dan keringatnya sedari bujang. Dia memulai dari bawah sekali, dari menjadi loper koran. Bachtiar tidak terlahir dari orang tua kaya atau pengusaha. Dia lahir dari orangtua yang sangat sederhana, hidup sebagai petani di sebuah dataran tinggi bagian tengah provinsi. Kesederhanaan dan kesusahan hidup sedari kecil menempanya menjadi pengusaha sukses seperti sekarang.
“Ingat ya, Pa. nanti ngomong baik-baik sama Kai. Jangan pake emosi, Kai itu sudah dewasa, Pa. Bukan lagi anak SMA yang bisa diatur sesuka kita.” Suara istrinya memecah lamunan laki-laki itu.
Bachtiar hanya diam tidak menjawab. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Bachtiar juga ingin bisa dekat dengan anak satu-satunya itu. Dia ingin bisa jadi ayah yang dekat layaknya teman dengan anaknya. Namun adat budaya serta kebiasaan yang diperolehnya sedari kecil tidak memungkinkan untuk itu.
Mungkin dia yang tidak berpikiran terbuka. Atau mungkin dia yang tidak mau berusaha lebih keras. Yang jelas, dari kecil Kai memang lebih dekat ibunya. Mungkin juga hubungan yang tidak dekat itu terjadi karena Bachtiar yang selalu sibuk dengan perusahaan dan bisnis, hingga sering abai memberikan waktu lebih untuk anaknya.
“Nanti jangan sampai marah-marah, jangan ngomong keras sama Kai ya, Pa?” Istrinya kembali memastikan janji yang tadi sudah diucapkannya. Bachtiar hanya menjawab dengan anggukan.
Dari luar terdengar suara pagar dibuka yang disusul oleh deru mesin sepeda motor. Anaknya sudah berada di luar. Bachtiar duduk dengan tegang. Selama dua tahun lebih hanya bertatap muka dua kali dengan anaknya membuat laki-laki berumur lebih dari setengah abad itu gelisah. Perasaan itu sedikit terurai begitu merasakan genggaman hangat tangan istrinya yang seolah ingin memberikan kekuatan.
"Assalamualaikum." Terdengar suara Kai mengucapkan salam diikuti pintu yang terbuka. Suara yang sangat dirindukan oleh Bachtiar.
__ADS_1
Terlihat sosok anak yang sudah lama tidak dijumpainya itu berjalan memasuki ruang tamu, menuju dia dan istrinya. Kulit putranya itu lebih gelap dari yang Bachtiar ingat. Mungkin karena profesi yang mengharuskan anak itu lebih banyak berada di bawah terik. Rambut yang diikat ke belakang itu juga berubah menjadi lebih coklat.
Bachtiar menyambut uluran tangan Kai. Rasanya ingin sekali mengusap kepala saat anak itu mencium tangannya. Tapi entah apa yang membuat tangannya tidak mau bergerak mengikuti keinginan hatinya.
"Ayo makan, Papa udah lapar." Bachtiar bangkit dan berlalu menuju ruang makan tanpa menunggu jawaban dari anak dan istrinya.
Dia tidak ingin menyaksikan pertemuan ibu dan anak yang pasti akan mengharu biru. Bachtiar tau istrinya pasti akan menangis dan memeluk anak kesayangannya itu. Seandainya mau mengikuti kata hati, mungkin laki-laki itu akan ikut bergabung di sana. Memeluk anak dan istrinya, melepaskan rindu yang menggunung. Membiarkan air mata jatuh mewakili perasaan yang tak terungkapkan.
Tapi lagi-lagi, adat dan kebiasaan yang memeluknya dari kecil tidak membiarkannya melakukan itu. Pada akhirnya dia hanya menjadi pengamat. Mengamati pelukan dan air mata orang-orang yang disayanginya dari balik dinding. Menyimak setiap kata yang keluar dari bibir istri dan anaknya, membayangkan dia juga terlibat di sana.
...****************...
"Ehem, ehem." Bachtiar berdehem memberi isyarat pada Indira dan Kai yang sudah selesai makan.
"Kai nggak mau, Pa. Kai bahagia dengan hidup Kai selama ini. Papa aja yang tangani perusahaan itu seperti biasa," jawab Kai sambil berdiri, bersiap meninggalkan meja makan.
"DUDUK KAI SAKHA!! JANGAN TERUS-TERUSAN JADI ANAK DURHAKA KAMU. PAPA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN SEPERTI ITU."
Tanpa sadar Bachtiar malah membentak anaknya itu. Separuh alasannya karena sikap Kai yang dianggapnya keterlaluan. Separuh lagi karena perasaan bersalahnya yang tidak mampu mendekati anaknya secara emosional. Tatapan istrinya yang seolah mengingatkan bahwa dia sudah berjanji akan berbicara tanpa emosi, malah terasa semakin menyudutkan.
“Papa panggil aku ke sini cuma buat dibentak-bentak, ya?” Kai berbalik dan membalas bentakan ayahnya tak kalah sengit.
“Papa mau bicara baik-baik sama kamu. Tapi kamu dengan tidak sopannya langsung menolak dan mau pergi gitu aja. Itu ya yang kamu pelajari selama nggak tinggal di rumah ini? Profesi kamu itu mengajarkan untuk kurang ajar sama orang tua, iya?”
“Pa, kontrol emosinya, Pa. Kamu juga Kai, orang tua kamu lagi ngomong, duduk dan dengar dulu baik-baik. Jangan main pergi gitu, aja. Sifat kalian itu terlalu mirip, makanya bentrok terus.” Indira mencoba menengahi. Memegang tangan suaminya agar lebih tenang.
__ADS_1
Akhirnya Kai mengikuti keinginan mamanya. Duduk kembali di kursi yang semula dia duduki. Sementara Bachtiar menarik nafas dalam. Mengisi rongga dada dengan udara sebanyak-banyaknya, mencoba meredakan emosi yang sempat memuncak.
“Sembilan tahun kamu tidak tinggal lagi di rumah ini. Mencoba membuang nama belakang kamu. Bahkan tiga tahun belakangan, kamu benar-benar menjauhkan diri dari kami. Sama sekali tidak menyentuh uang yang selalu tersedia di rekening kamu. Lalu apa yang kamu dapatkan?” Bachtiar menatap anaknya, menunggu jawaban.
Sementara yang ditanya hanya diam. Memilih menutup mulut ketimbang mengeluarkan apa yang ada dalam kepalanya.
“Bagaimanapun kamu berusaha menjauh tidak akan mengubah apa yang ada dalam tubuh kamu. Darah yang mengalir dalam tubuh kamu tidak akan bisa diganti. Mama dan Papa kamu ini tidak akan hidup selamanya. Saat kami sudah tidak ada nanti, mau tidak mau semua aset, perusahaan dan bisnis akan menjadi tanggung jawab kamu.”
Lagi. Kai hanya diam. Kali ini diamnya karena kaget dengan kata-kata Papanya. Tidak biasanya seorang Bachtiar Caniago akan berbicara soal umur.
“Papa hanya ingin kamu siap saat itu terjadi nanti. Semua harta yang Papa miliki sekarang adalah hasil keringat Papa, Kai. Papa merangkak dari bawah, berdarah-darah. Papa hanya tidak ingin saat Papa sudah tidak ada, semua ini malah akan menjerumuskan kamu, atau justru akan berpindah ke tangan orang lain. Papa tidak akan pernah rela.” Bachtiar berusaha berbicara selembut mungkin. Hal yang selama ini tidak pernah dilakukannya.
“Aku tetap nggak mau, Pa. Papa kan masih bisa ngurus semuanya. Nggak usah bicara soal umur lah, Pa. Aku yakin umur Papa masih panjang.”
Bachtiar mengusap wajah gusar. Pikirannya buntu setiap kali berdebat dengan Kai. Ujung-ujungnya dia akan membentak dan berujung pada pertengkaran lagi. Bahkan genggaman tangan lembut istrinya tidak lagi memberikan ketentraman.
“Trus kamu mau terus-terusan jadi jurnalis dengan gaji yang nggak seberapa itu? Apa yang kamu dapat? Bahkan gadis itu udah nggak mau lagi sama kamu kan?” Akhirnya Bachtiar membawa-bawa kekasih anaknya dalam percakapan. Dia sudah hilang akal, tidak tahu lagi bagaimana harus meyakinkan putranya.
“Apa maksud Papa?” Benar saja. Kai langsung terpancing mendengar kalimat itu.
“Pacar kamu itu, siapa namanya? Senja? Apa yang kamu dapat setelah dia tahu kamu adalah anak Papa? Malah menjauhi kamu kan? Itu karena percuma dekat dengan anak yang punya segalanya, tapi malah membuang semua itu. Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki yang nggak mensyukuri apa yang sudah dia punya.”
...****************...
...Ternyata keras kepala dan egoisnya Bang Kai turunan dari ayahnya, guys.. 🤭🤭...
__ADS_1