
Senja menatap jauh ke depan. Kembali terngiang kalimat-kalimat merendahkan yang tertangkap ruang pendengarannya tadi siang. Dia tidak menyangka sama sekali, orang yang selama ini terlihat sangat rendah hati ternyata mampu mengeluarkan ucapan yang sangat merendahkan orang lain.
"Seandainya semua orang punya pemikiran seperti Ayah," lirih Senja.
"Tau nggak, Kak. Telur ayam yang sekilas kelihatan sama itu, tetap ada perbedaannya. Kalo kita perhatikan dengan seksama warna kulit telur, beda-beda loh tone-nya. Ada yang berbintik ada yang enggak. Apalagi kalau kita timbang isinya, akan ada perbedaaan berat dari masing-masing isi telur yang kelihatan seragam itu, meskipun hanya satu atau dua gram.”
Senja mengerutkan kening, menatap ayahnya dengan heran. “Kok tiba-tiba ngomongin telur, sih, Yah?”
“Karena manusia dengan segala pemikiran dan cara pandangnya sama dengan telur, Kak. Kelihatannya sama, sama-sama manusia, tapi isi kepala dan cara pandang serta cara menyikapi sesuatu dalam hidup ini tentu nggak akan pernah sama.
“Kakak, Bhumi dan Langit saja, yang terlahir dari rahim yang sama, tumbuh di lingkungan dan dengan didikan yang sama pula, tetap akan punya pemikiran dan watak yang berbeda-beda. Apalagi orang-orang di luar sana, Kak, yang tumbuh dengan didikan berbeda, di lingkungan yang berbeda, memakan makanan yang berbeda, mengenyam pendidikan yang berbeda. Tentu nggak akan mungkin memiliki pemikiran yang seragam.
“Sekarang semuanya tergantung kita. Tergantung bagaimana kita menyikapi orang-orang yang berbeda pemikiran dengan kita. Apakah kita akan memilih untuk terganggu dan terpengaruh dengan penilaian orang lain. Apakah kita akan memilih untuk menjalani hidup menyesuaikan dengan pemikiran orang lain. Atau kita akan menjadi diri kita sendiri, yang yakin dengan segala pemikiran dan apa yang kita punya.
“Kita nggak akan bisa mengontrol omongan, pemikiran dan penilaian orang lain terhadap kita, Kak, nggak akan pernah bisa. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.”
Senja menghela napas dalam-dalam. Kalimat-kalimat panjang yang keluar dari mulut ayahnya barusan seperti menampar kesadarannya. Entah sejak kapan dia jadi sangat terpengaruh dengan ucapan dan penilaian orang lain. Padahal sedari kecil ayahnya sudah mengajarkan untuk tidak seperti itu.
“Makasih, Yah. Udah ngingetin Kakak tentang semua itu, dan maaf kalo sesaat Kakak lupa dengan semua yang Ayah tanamkan dari Kakak kecil.” Senja mengucapkan permintaan maafnya dengan lirih, kepalanya menunduk menatap tanah.
Sebuah sentilan ringan mampir di kening Senja. Membuat gadis itu terkejut dan gegas mengangkat kepalanya.
“Makanya sering-sering pulang, biar nggak pelupa. Kasian sama Ayah lah, Kak. Setiap hari pusing denger Ibu misuh-misuh karena anak gadisnya seolah lupa jalan pulang.” Chandra mengacak-acak rambut di kepala anaknya. Dia yakin anak kebanggaannya itu sudah menemukan sedikit jawaban dari keresahan hatinya yang tiba-tiba membawanya pulang di hari kerja seperti ini.
“Kalo gitu kita pulang yuk, Yah. Kalo ditunda lagi ntar keburu Ibu datang sambil ngomel-ngomel dan bikin kita pusing.” Senja menggamit lengan ayahnya, berjalan bersisian meninggalkan ladang yang sudah hampir ditinggalkan cahaya jingga kemerahan.
__ADS_1
...****************...
Alunan tilawah mengalun dari ruang tengah rumah kayu yang berukuran lumayan besar itu. Alunan suara merdu melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan irama yang pas, mengisi setiap jengkal udara dalam rumah itu. Seluruh penghuni rumah itu duduk membentuk lingkaran kecil dan menyimak dengan khusuk, menekuri musfah di hadapan masing-masing.
Shalat berjamaah dilanjutkan dengan membaca Al-Quran bergantian, adalah rutinitas harian yang tidak boleh ditinggalkan. Kecuali ada urusan yang sangat penting, barulah kegiatan itu boleh tidak dilakukan. Sedari kecil, Chandra, sang kepala keluarga, selalu membiasakan anak-anaknya. Meskipun dia bukan pribadi yang sangat taat beragama, tapi dia ingin anak-anaknya dekat dengan agama sedini mungkin.
Tadarus Al-Quran di rumah kayu bergaya modern tapi tetap menampilkan kesan sederhana itu berlangsung selama setengah jam. Begitu selesai, Senja mengikuti ibunya menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara ayah beserta kedua adiknya, Bhumi dan Langit, menuju ruang keluarga untuk menonton televisi.
“Ayah, ayo makan. Makanannya udah siap.” Senja menghampiri ayah dan kedua adiknya yang terlihat sangat fokus pada layar di depannya.
“Ayo, Bhumi, Langit, Kakak bilang makanan udah siap tuh, kenapa masih pada nonton sih?” Chandra menatap kedua anak laki-lakinya dengan heran. Biasanya begitu mendengar makanan sudah siap, mereka akan bergegas menuju dapur yang merangkap ruang makan.
“Kakak nggak panggil kita, Yah. Yang dipanggil Ayah doang,” jawab Langit, si anak bungsu, dengan wajah cemberut yang sangat dipaksakan.
“Yaelah, biasanya juga tanpa dipanggil lo berdua langsung lari kalo denger kata makanan. Manja banget kali ini minta dipanggil segala.”
“Kapan Kakak gitu? Selalu nyaut kok setiap dipanggil.”
“Itu setiap hari dipanggil Ibu dalam doa, tapi nggak pulang-pulang juga. Betah amat tinggal sendiri, sampe nggak inget jalan pulang.” Langit menjawab sambil berjalan menjauhi kakaknya, takut dicubit. “Itu kata-kata Ibu, loh, Kak. Aku cuma bantu nyampein aja.”
Langit sedikit berlari menyusul ayahnya yang sudah duduk di meja makan.
“Kalo ada masalah Kakak bisa loh cerita sama aku. Aku bisa kasih saran dari sudut pandang cowok,” ucap Bhumi begitu langkahnya sejajar dengan Senja.
“Kamu kenapa ada di rumah sih, Bhum? Nggak kuliah?” Senja balik bertanya pada adiknya yang hanya terpaut usia tiga tahun itu.
__ADS_1
“Semester ini mata kuliah aku sisa sepuluh SKS, Kak. Jadi kuliah cuma Senin sama Selasa aja. Kebetulan hari ini ada job foto prewed deket sini, jadi aku sekalian pulang.”
“Iya? Kok Kakak nggak tau. Kenapa nggak pernah cerita?”
“Kakak aja jarang pulang ke rumah. Jadi Kakak pasti sibuk sama kerjaan dan urusan Kakak. Makanya aku nggak cerita.”
Senja menghela nafas dalam mendengar jawaban Bhumi, adiknya. Satu setengah tahun belakangan memang dia sangat jarang pulang ke rumah. Hanya dua atau tiga bulan sekali. Bukan karena tidak rindu dengan keluarganya. Tapi karena pikirannya sangat ruwet dan dia tidak mau membebani keluarga dengan masalah pribadinya.
Keluarga Senja adalah orang-orang yang sangat peka. Tanpa berceritapun, ayah, ibu dan kedua adiknya akan selalu tau saat dia ada dalam masalah. Hanya sedikit perubahan pada sikap dan gesturenya, orang-orang yang disayanginya itu akan langsung paham. Karena itu Senja lebih memilih tidak pulang ke rumah, agar orang-orang yang dicintainya itu tidak ikut sedih dengan kerumitan yang terjadi dalam hidupnya.
“Kakak, Abang, makan dulu, Nak. Ngobrolnya dilanjut nanti setelah makan.” Suara Hanum, Sang Ibu, terdengar memanggil Senja dan Bhumi yang masih berdiri di ambang pintu dapur.
“Jangan lari dari masalah, Kak. Hadapi aja, biar cepat ada ujungnya. Kalo Kakak butuh bantuan atau tempat buat berbagi, aku siap kapanpun,” ucap Bhumi mengakhiri percakapan mereka.
Ucapan adiknya itu hanya dijawab Senja dengan anggukan. Hatinya menghangat. Ayah, ibu dan adik-adiknya selalu ada untuknya. Selalu mendukung dan memperhatikannya dengan cara masing-masing.
Lalu kenapa dia harus merasa terpuruk karena ucapan dan pandangan orang lain? Sementara di sini, ada kehangatan yang selalu mendekapnya di manapun dan kapanpun.
Aku punya tempat sehangat ini untuk pulang, jadi kenapa harus pusing dengan orang-orang yang tidak menghargai keberadaanku dalam hidup mereka? Sebelum mereka menolak, aku yang akan lebih dulu menjauh.
Senja sudah tau apa yang akan dilakukannya setelah ini. Keputusan sudah ada di tangannya.
...****************...
...Yeayy.. Up lagi nih, Guys.. 🥰...
__ADS_1
...Selamat membaca, jangan lupa like dan komen yang banyak, yaa. Biar author makin semangat buat lanjutin kisah Senja-Kai-Nuta lagi.....
...😘😘...