
Karena lo ternyata anak konglomerat. Jadi mereka nggak nyaman. Nggak selevel lagi katanya.
Kai membaca balasan pesan singkat dari Angga. Emosinya naik seketika.
Brakk!!!
Kai melemparkan ponselnya ke atas meja.
What the f**k. Bisa-bisanya mereka ngomong nggak selevel sekarang? Padahal bertahun-tahun gue hidup susah senang sama mereka. Sekarang tiba-tiba ngomong gitu?! Sia**n?!
Ingin rasanya Kai berteriak mengeluarkan pikiran yang terlintas di kepalanya. Namun pada akhirnya kata-kata itu hanya mampu dia teriakkan dalam hati. Menjelma kesal yang memberati dadanya.
Kai menopang kepalanya dengan tangan, menghela nafas dalam. Mengisi rongga dada dengan udara sebanyak-banyaknya. Mencoba menenangkan pikiran dan emosinya.
Dia harus berubah. Hal-hal sepele tidak boleh lagi mengguncang emosi dan pikirannya.
Untuk saat ini, dia harus fokus pada pekerjaan. Ini baru hari pertama dan masih pagi, tidak boleh ada hal lain yang menggoyahkannya.
"Lusi, bawakan semua dokumen dan laporan dari kedua media selama satu bulan ke belakang. Antar ke ruangan saya sekarang." Kai mengangkat interkom dan memberi perintah pada sekretarisnya.
Untuk saat ini, tidak ada yang lebih penting daripada pekerjaan.
...****************...
"Lagi pada sibuk, ya? Serius amat." Kai berkata begitu menghenyakkan dirinya di kursi kosong di antara rekan-rekannya yang terlihat sibuk dengan laptop masing-masing.
Begitu jam kantor selesai, Kai langsung memacu mobilnya menuju Chimpago Cafe. Jam segini adalah jam sibuk bagi teman-teman seprofesinya dulu, mereka akan bekerja seperti orang kesurupan, dikejar deadline.
"Wah …. Yang udah jadi bos datang nih. Mau ngapain, Bos?" Salah satu temannya bersuara.
"Mau ngapain, Pak? Kita nggak enak loh, mau kerja tapi GM media saingan kita ada di sini." Yang lain ikut bersuara.
"Wahyu mana Wahyu. Woi, Yu. Bos lo dateng nih. Yang rajin ya, ntar dipecat, nggak makan lo." Kali ini ada yang memanggil temannya yang bernama Wahyu, yang merupakan reporter media yang menjadi tanggung jawabnya sekarang.
Laki-laki bernama Wahyu yang duduk di pojokan itu, menganggukkan kepala dengan hormat ke arah Kai. Serba salah. Dia ingin ikut menggoda Kai bersama teman-temannya yang lain. Tapi dia segan, karena Kai sekarang adalah atasannya. Salah-salah nanti dia bisa kehilangan pekerjaannya.
"Sini kumpul semuanya. Coba lihat ya. Anak konglomerat emang levelnya beda sama kita. Liat aja nih outfit-nya. Bermerk semua. Celana, baju, tas, sepatu. Jangan ditanya harganya. Gaji kita setahun aja nggak cukup buat beli."
__ADS_1
"Jam tangan tuh, berapa M itu?"
"Mobil Mini Cooper keluaran terbaru tuh." Seorang temannya yang melongokkan kepala dari pagar pembatas balkon ikut bersuara.
"Jadi ya, kalo kita begal nih, dapat sebelah sepatunya aja udah cukup."
Teman-temannya yang memang sedang ramai itu sibuk menilai dan menghitung apa yang dipakainya hari ini. Kai hanya diam memperhatikan. Mengisi paru-parunya dengan udara penuh-penuh, agar otaknya yang sudah lelah tidak terpancing.
"Ke sini ngapain Kai? Ada perlu sama kita?" Arif, salah satu jurnalis senior yang paling tua di antara mereka akhirnya berbicara, menengahi situasi. Dia kasihan melihat Kai yang dicerca habis-habisan oleh rekan-rekannya.
"Mau nanya, Bang. Kenapa gue dikeluarin gitu aja dari semua grup chat yang ada?" Kai akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sudah bercokol di kepalanya sedari pagi.
"Lo kan udah nggak bareng kita lagi di lapangan. Jadi udah nggak butuh informasi dari grup. Daripada kerjaan lo nanti keganggu karena notifikasi chat yang nggak ada habisnya, jadi kita keluarin aja," jelas Arif dengan hati-hati. Dia tau juniornya yang satu ini sekali pun sangat keras kepala, tapi punya hati yang sensitif.
"Katanya nggak selevel lagi sama gue?"
"Itu becandaan aja Kai. Kayak nggak tahu aja mereka semua gimana."
"Kalo ternyata bokap lo sekaya itu, outfit lo aja M-Man, trus kenapa selama ini lo hidup ngegembel?"
"Nggak usah cerita nggak apa-apa, Nyet. Gue tau lo pasti punya alasan kuat untuk itu, pasti nggak mudah juga buat lo." Kali ini Angga yang menanggapi, menepuk pundak Kai, memberikan dukungan.
Sebenarnya di belakang Kai, mereka, teman-teman seprofesi yang akrab dengannya, pernah membahas soal nama belakangnya yang sama dengan Bachtiar Chaniago. Seorang pengusaha sukses yang punya kerajaan bisnis di bidang perhotelan, pusat perbelanjaan, kuliner dan media. Mereka pernah membahas kemungkinan Kai adalah anak tunggal konglomerat itu yang memang tidak pernah tersentuh oleh media. Tidak pernah ada pemberitaan yang menyangkut sang pewaris tunggal itu.
Namun, pemikiran itu hanya melintas dalam diskusi antar mereka. Terkaan itu tidak pernah sampai ke telinga Kai. Mereka tidak pernah berniat untuk mengkonfirmasinya.
"Buat kita Kai, nggak masalah siapapun lo. Mau itu Kai yang suka pake celana robek, kaos lusuh dan hematnya keterlaluan. Atau Kai yang outfit-nya branded keseluruhan, yang ternyata adalah anak konglomerat. Buat kita lo tetap teman, rekan sejawat, sahabat yang akan selalu punya tempat di tengah-tengah kita," ujar Arif dalam kalimat panjang.
"Makasih, Bang. Makasih teman-teman." Kai terharu.
"Halah, setelah balik ke habitat aslinya, jadi lebay nih anak, kayak anak perawan lo, Nyet. Pake terharu segala."
Kai tergelak mendengar candaan teman-temannya. Segala bebannya, penatnya seharian ini lebur dalam tawa.
Mamanya benar, akan selalu ada orang-orang yang mendekat sekedar untuk memanfaatkan. Sekeras apapun berusaha, hal itu tidak akan bisa dihindari.
Tapi ketika kita mampu menerima semuanya dengan lapang dada. Mampu memandang dari sudut pandang terbaik, maka kita akan sadar, selalu ada orang-orang yang tulus di sekeliling kita.
__ADS_1
"Kalo ada acara kumpul-kumpul atau acara apapun jangan lupa kasih tau gue ya, Bang. Jangan main tinggal, nggak iklas gue." Kai berbicara pada Arif, tapi sebenarnya ditujukan pada mereka semua.
"Justru kita nanti mungkin yang bakalan sering hubungin lo. Minta makan kalo hilal belum turun. Kontak kita jangan diblokir, ya."
Jawaban itu membuat Kai tertawa.
"Bikin grup baru lah, yang ada gue di dalamnya," pinta Kai.
"Kenapa ni anak tiba-tiba jadi terobsesi sama grup chat sih? Efek samping jabatan, ya?"
"Kalo mereka nggak mau, masuk grup kita aja, Kai. Available loh." Vanya dan Anye bergabung, menarik kursi mereka ke sebelah Kai.
Vanya dan Anye adalah jurnalis perempuan yang sering ikut berkumpul dengan mereka di Cafe ini. Selama ini Kai hanya akrab seperlunya dengan mereka. Karena dia memang tidak tertarik untuk dekat dengan perempuan manapun. Mata dan hatinya tidak pernah bisa berpaling dari Senja.
Dua perempuan seprofesi dengannya itu juga selama ini tidak berusaha mendekatkan diri dengan Kai. Karena di mata mereka, teman seprofesi bukan target yang diinginkan untuk jadi pasangan. Menurut mereka, pasangan ideal itu harus laki-laki yang lebih mapan, dengan jam kerja tidak sesibuk jurnalis.
Prinsip itu sepertinya berubah begitu tahu siapa Kai sebenarnya. Mungkin Kai sudah berstatus sebagai 'target' sekarang.
Kai tergelak. Menertawakan dirinya yang dari dulu selalu dikelilingi perempuan dengan jenis yang sama.
Cuma kamu yang berbeda, Jha. Cuma kamu yang dari dulu bisa terima aku apa adanya. Tapi kenapa setelah tahu siapa aku sebenarnya, kamu malah mendorong aku, meminta aku menjauh dari hidup kamu?
...****************...
...Bener-bener ya, Kai. Kapanpun, dimanapun yang dipikirin Senja mulu 🤭...
...Katanya mau buka lembaran baru, tapi yang ada di kepala Senja lagi Senja lagi....
...Move On dong, Bang Kai 😂😂...
...Ada yang penasaran Senja gimana?...
...Tungguin lanjutannya, ya.....
...Jangan lupa like, share dan komen yang banyak, Guys.. 🥰...
...Love you all ❤️❤️...
__ADS_1