Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 41 Nuta dan Cintanya


__ADS_3

“Mau minuman hangat, Mas? Teh atau kopi?”


“Nggak usah, Sayang. Kamu duduk aja, langsung makan. Biar cepat sembuh. Kepalanya masih sakit?”


Senja membalas tatapan Nuta yang sedari tadi dia tahu terus menatapnya. Ada sedikit haru menyeruak di hatinya. Nuta begitu perhatian, begitu mengkhawatirkannya. Terlihat jelas rasa cintanya yang begitu besar.


"Kok bisa dari jam 6 udah di sini, Mas? Ngapain aja sampe jam segini?" Senja masih merasakan denyut menusuk di kepalanya. Tapi dia merasa tidak enak kalau hanya diam, karena Nuta sudah menunggunya selama berjam-jam.


"Tadi abis mastiin ruang siaran aman, aku langsung kesini, mau nganterin kamu ke dokter. Ternyata kamu nggak angkat telpon. Tidur berarti. Aku tunggu sampe jam setengah delapan, masih nggak angkat telpon juga. Jadinya aku cari sarapan dulu aja, kalo kamu bangun pasti laper, trus balik lagi kesini. Nungguin sampe kamu bangun," jelas Nuta sambil tetap menyantap bubur ayam di depannya. Terlihat sangat menikmati sarapan yang sudah sangat terlambat.


"Trus di mobil ngapain aja?"


"Ngerjain proposal iklan buat produk baru yang kita omongin kemarin itu."


"Prospeknya oke nggak, Mas?"


"Oke banget malah, kelihatannya kita bakalan dapat kontrak buat satu semester penuh. Makanya …." Nuta asyik bercerita tentang prospek iklan baru yang terlihat menjanjikan.


Sementara Senja hanya mendengarkan. Berharap denyut menusuk di kepalanya segera hilang.


"Kamu yakin nggak mau ke dokter?" Nuta baru kembali dari mobilnya mengambil sesuatu yang dikemas dalam kantong plastik kecil warna putih.


"Nggak usah, Mas. Istirahat sebentar lagi, insyaallah aku sembuh kok, biasanya juga gitu"


"Aku udah beliin obat sakit kepala tadi di apotek. Kamu minum ini dulu, trus lanjut istirahat." Nuta mengangsurkan kantong plastik yang tadi diambilnya ke tangan Senja.


"Makasih, ya, Mas. Maaf aku ngerepotin."


"Jangan ngomong gitu, Sayang. Apapun bakal aku lakuin buat kamu."


Senja hanya menjawab dengan senyum. Sebesar itu perhatian Nuta, selugas itu dia menunjukkan cintanya. Tapi hati Senja masih saja bimbang. Masih belum bisa menjatuhkan pilihan.


...****************...


Setelah Nuta pulang, Senja kembali masuk kamar dan melanjutkan tidur. Tidurnya lelap kali ini, sama sekali tidak dihampiri mimpi. Mungkin itu efek obat sakit kepala yang tadi diminumnya.


Senja dibangunkan oleh suara adzan. Waktu dzuhur sudah masuk. Baru saja mendudukkan badan agar sisa kantuknya hilang, gadis itu dikejutkan dengan deringan telpon dari nomor tidak dikenal.


Ternyata itu telpon dari driver ojek online, mengantarkan pesanan makanan. Karena Senja tidak merasa memesan makanan lewat aplikasi, jadi pasti Nuta yang melakukannya.


Mas Nuta kirim makanan? Makasih, ya.

__ADS_1


Senja mengirim pesan singkat ke nomor Nuta. Belum satu menit, ponselnya berdenting, ada pesan balasan dari Nuta.


Iya. Dimakan ya, trus istirahat lagi, biar cepat sembuh. Kalo butuh apa-apa kabarin, ya, Sayang.


Pesan balasan itu diakhiri dengan emoticon kecupan. Senja memutuskan tidak membalas pesan itu. Kakinya memilih melangkah menuju kamar mandi.


...****************...


Minggu yang tenang, yang biasanya dinikmati Senja dengan merawat diri, memakan makanan kesukaan, dan menonton film favoritnya, sudah tidak ada lagi.


Dua bulan sudah berlalu sejak Senja sakit. Sejak itu pula dia tidak pernah bisa menikmati hari minggu dengan semua kegiatan yang sudah dilakukannya selama lebih dari satu tahun belakangan.


Nuta selalu punya agenda mengajak Senja keluar setiap hari minggu. Kadang dia sudah memberitahu rencananya beberapa hari sebelum itu. Tapi lebih sering laki-laki itu tiba-tiba sudah berada di depan kosan Senja, tentu saja dengan to do list yang sudah disiapkannya untuk hari itu.


Kadang Senja menolak, tapi lebih sering dia mengikuti keinginan Nuta. Bukan karena dia juga ingin. Tapi karena dia sudah berjanji akan berusaha untuk menerima kehadiran Nuta dalam hidupnya. Dan salah satu caranya, adalah dengan menghabiskan banyak waktu berdua dengan laki-laki itu.


"Buat kamu." Nuta mengulurkan sebuah buket bunga mawar putih ke depan Senja yang baru saja menghampiri Nuta di depan kosnya.


"Makasih," jawab Senja singkat.


Sejujurnya gadis itu kurang menyukai diberi bunga. Menurutnya hal semacam itu adalah pemborosan. Uangnya bisa dipakai untuk hal lain yang lebih bermanfaat.


Senja pernah mengungkapkan pendapatnya pada Nuta. Anggap saja kita sedang berbagi rezeki dengan penjual bunganya, itu jawaban yang diberikan Nuta saat itu.


Bukan hanya bunga. Selama dua bulan berselang, Nuta seringkali menemui Senja dengan berbagai macam hadiah di tangannya. Kadang coklat, atau makanan kesukaan Senja, atau benda-benda kecil seperti aksesoris dan semacamnya.


Pernah Senja menyampaikan keberatannya karena terlalu banyak menerima hadiah dari Nuta. Tapi menurut laki-laki itu, semua itu adalah salah satu usahanya untuk membuat Senja memberikan hati untuknya.


Lagi-lagi Senja hanya diam. Dan hanya mengucapkan terima kasih saat kali lainnya Nuta muncul di hadapannya dengan hadiah yang berbeda.


Nuta seperti berubah menjadi orang lain. Tidak lagi seperti Nuta yang dikenal Senja di awal kedekatan mereka. Laki-laki itu seolah menjelma menjadi sosok yang berbeda.


Atau mungkin seperti inilah sosok Nuta yang sebenarnya. Hanya saja selama ini dia menampilkan sisi yang berbeda di depan Senja.


Entahlah. Atau kah cinta memang bisa merubah seseorang?


...****************...


"Kita nonton midnight yuk, Sayang," ajak Nuta pada Senja.


Mereka berada di sebuah coffee shop di pinggiran pantai. Sehabis mengantarkan proposal iklan, Nuta mengajak Senja mampir dulu di coffee shop ini. Melepas lelah sambil menikmati pantai, katanya.

__ADS_1


Sebenarnya Senja ingin segera kembali ke kantor, menyelesaikan sisa laporan hariannya, lalu pulang dan tidur di kamar kosnya. Tapi Nuta malah mengajaknya kesini.


Dia ingin menolak sebetulnya. Tapi tidak enak hati, khawatir Nuta akan tersinggung atau berkecil hati.


Sejujurnya Senja tidak suka dengan sifatnya yang satu itu. Tidak enakan dan terlalu memikirkan perasaan orang lain. Tapi dia belum bisa merubah itu. Hanya pada seseorang dia bisa bersikap tegas dan tega menolak keinginannya.


"Jangan hari ini, Mas. Aku capek banget rasanya. Maunya setelah kerjaan beres, langsung pulang dan tidur sampai pagi." Senja buru-buru menjawab permintaan Nuta sebelum pikirannya melantur kemana-mana.


"Ya udah, lain kali aja. Kamu kenapa bisa kecapekan, Sayang? Ngerjain apa di kosan?" Nuta bertanya sambil menatap Senja tepat di matanya. Tangannya mengambil dan menggenggam tangan Senja yang terletak di atas meja.


"Karena kurang tidur mungkin. Aku lagi maraton nonton drakor bagus." Bohong. Senja sama sekali tidak sedang melakukan itu.


"Kamu kebiasaan, deh, Sayang. Kalo udah ada tontonan, sering lupa hal lain. Jangan gitu, dong, Yang. Aku nggak mau kamu sampe sakit lagi."


Mungkin, perempuan lain akan meleleh dengan semua perhatian dan cara Nuta mencintainya. Tapi tidak bagi Senja.


Cara Nuta memperlakukannya justru mulai membuatnya jengah. Dia lebih suka sosok Nuta yang dulu. Sosok yang selalu menyelipkan candaan dalam setiap obrolan mereka. Sosok yang mampu membuat Senja nyaman hanya dengan mengobrol tak tentu arah.


Senja tidak pernah terbiasa dengan perhatian yang berlebihan. Pun tidak dengan kata-kata cinta yang selalu diucapkan setiap ada kesempatan.


Dulu, tiga tahun bersama Kai, sangat jauh berbeda. Mereka tidak selalu bisa menikmati waktu bersama, karena sibuk dengan impian dan karir masing-masing. Senja dengan profesi penyiar radionya dan Kai dengan rutinitas sebagai jurnalis.


Sesekali mereka menikmati waktu bersama, justru disibukkan dengan berbagi cerita seru dalam keseharian masing-masing. Mereka tidak punya waktu untuk sering-sering mengungkapkan cinta dengan kata-kata.


Mereka, Senja dan Kai, saling mengungkapkan cinta dengan cara mereka. Dengan perhatian sekedarnya. Dengan memberi ruang untuk kehidupan pribadi masing-masing. Dengan saling mendukung dan menjadi tempat berkeluh-kesah bagi masing-masing.


Kenapa malah jadi keinget Kai?


Senja menggelengkan kepala. Berharap itu bisa mengenyahkan ingatan tentang Kai dari sana. Dia tidak boleh lagi memberi ruang untuk ingatan tentang masa lalu. Semua itu sudah harus dikubur di sudut terdalam di hatinya.


...****************...


...Ada yang ikutan gerah dengan cara Nuta memperlakukan Senja?...


...Sabar ya, Mas Nuta emang gitu kalo jatuh cinta, jadi bucin 🤭🤭...


...Terima udah baca dan terima kasih juga dukungannya, Guys....


...Jangan lupa selalu tinggalin jejak, ya, biar author lebih semangat lagi buat up....


...Like, share dan komen yang banyak, yaa......

__ADS_1


...❤️❤️...


__ADS_2