Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 33 Awal Yang Baru


__ADS_3

"Kamu cuma bisa lakuin satu hal Kai, berusaha memperbaiki diri. Berubah jadi lebih baik lagi. Dengan begitu apapun alasan sikap dan tindakan seseorang ke kamu, nggak akan bikin kamu down. Justru menempa kamu buat lebih baik lagi.


"Bahkan kalau mungkin, buat mereka nyesel udah nolak kamu. Dengan cara apa? Dengan berubah jadi lebih baik. Jadikan momen ini sebagai titik balik dalam hidup kamu."


Indira menatap mata coklat terang milik anaknya. Mata yang terlihat cekung dengan bagian bawah yang membayang hitam, efek tidak bisa tidur nyenyak berhari-hari.


"Mama emang baru satu kali ketemu dan ngobrol sama gadis itu, tapi Mama yakin satu hal, Kai," gantung Indira, menunggu reaksi anaknya.


"Apa, Ma?" Kai menatap mamanya dengan tatapan penuh tanya, ada harap juga tercermin di sana.


"Mama yakin Senja, gadis yang kamu cintai itu adalah anak yang baik. Menurut Mama dia bukan orang yang akan melakukan sesuatu karena materi.


"Mama yakin dengan penilaian Mama, dan kamu juga bisa yakini itu. Jadi kalau saat ini dia ingin kamu menjauh dari hidupnya, Mama yakin dia punya alasan yang kuat untuk itu. Atau …." Indira menggantung kalimatnya, tidak sampai hati harus menyampaikan apa yang ada di pikirannya.


"Atau apa, Ma?"


"Atau memang sudah tidak ada rasa di hatinya untuk kamu."


Kai tercekat mendengar ucapan Mamanya. Itu memang yang ada di pikirannya selama dia mengurung diri di kamar ini. Tapi mendengar kalimat itu dari mulut orang lain, ternyata menorehkan luka teramat perih di hatinya.


"Kalau memang itu alasannya, nggak ada yang bisa kamu lakukan, Nak. Karena urusan hati, tidak pernah bisa dipaksa. Bahkan si pemilik hatipun tidak punya kuasa untuk itu."


"Kai harus gimana, Ma? Rasanya Kai nggak bisa hidup tanpa dia, Ma. Kai nggak punya semangat untuk apapun tanpa ada Senja yang jadi penyemangat, Ma," lirih Kai seraya kembali membenamkan wajah di pelukan wanita yang melahirkannya itu. Mendekap erat, berharap menemukan kekuatan dari sana.


"Kamu masih punya Mama, Papa dan semua orang di rumah ini yang sayang dan peduli sama kamu, Kai. Ini saatnya kamu bangkit, Nak. Memperbaiki diri. Memantaskan diri untuk seseorang yang kelak akan datang ke hidup kamu di saat yang tepat.


"Kalau Senja memang jodoh kamu, nanti di waktu yang tepat, takdir akan menunjukkan kuasanya. Membukakan jalan untuk kamu bisa bersama lagi dengan dia."


Indira mendekap anaknya, memeluk rasa sakit di hatinya. Air mata yang sedari tadi di tahan jatuh berderai. Sejak melangkahkan kaki memasuki pintu kamar ini, wanita itu berusaha kuat, berusaha untuk tidak menangis. Agar dia bisa menenangkan anaknya, agar dia bisa membagi kekuatan untuk anak yang dicintainya.


Namun hatinya, tidak sekuat itu. Hati ibu mana yang tidak remuk melihat anak yang dilahirkannya hancur, tergugu dalam isak.


...****************...

__ADS_1


"Kai lapar, Ma," ucap Kai pada Mamanya yang terlihat sibuk di depan kompor, dengan Bik Irah membantu di sebelahnya.


"Tunggu ya, Nak. Sebentar lagi matang. Duduk dulu di situ," perintah Indira pada anaknya. Seulas senyum bahagia terbit di bibirnya. Akhirnya anak kesayangannya itu mau juga keluar dari kamar.


"Mama masak apa?" tanya Kai sambil melongok ke atas wajan.


"Masak gulai kepala ikan kesukaan kamu. Duduk aja Kai, jangan ganggu Mama masak."


Kai tersenyum melihat Mamanya yang sibuk mengaduk gulai dalam wajan. Mamanya memang selalu menyempatkan diri memasak untuk dia dan ayahnya jika ada waktu senggang.


"Bik Irah sehat?" Kali ini Kai bertanya pada asisten rumah tangga berumur enam puluhan yang berdiri di sebelah mamanya.


Bagi Kai, Bik Irah sudah seperti ibu kedua. Wanita tua itu sudah merawatnya sedari baru lahir. Menyayanginya seperti anaknya sendiri. Menemaninya dalam setiap tahap tumbuh kembangnya. Melakukan tugas yang kadang tidak sempat ditunaikan mamanya.


"Alhamdulillah sehat, Den. Bibik senang akhirnya Den Kai kembali ke rumah ini. Bibik takut Den Kai tidak akan kembali ke sini. Bibik takut tidak bisa ketemu Aden lagi di sisa hidup Bibik." Wanita tua itu terisak, menyusut air matanya dengan lengan baju.


Kai maju, memeluk wanita yang sudah membesarkannya itu. Hatinya terharu, ternyata begitu besar kasih sayang Bik Irah padanya. Hal yang tidak pernah disadari dan disyukurinya selama ini.


"Bibik ini, sore-sore malah ngelantur. Masih muda gini kok malah ngomong sisa umur sih, Bik. Joget semalaman aja Bibik masih kuat, kan ya?" Kai mengambil tangan pengasuhnya itu, menarik ke depan, mengajak berjoget bersama.


Suasana dapur terasa meriah karena tawa mereka bertiga. Hal yang sudah lama tidak terjadi di rumah ini. Sudah bertahun-tahun, semenjak Kai memutuskan keluar dari rumah selepas SMA.


...****************...


"Kai minta waktu dulu satu bulan, Pa. Mau ngurus pengunduran diri dari kantor. Ngurus segala urusan Kai di luar. Kai juga mau liburan dulu, healing. Bulan depan Kai baru mulai di perusahaan media kita. Boleh, Pa?"


Kai membuka percakapan saat papa dan mamanya sudah meletakkan peralatan makan.


"Jadi kamu setuju untuk bantu ngurus perusahaan media kita?" Bachtiar bertanya, meminta kepastian. Hatinya bahagia karena akhirnya Kai mengajukan diri tanpa harus dipaksa. Mungkin ini hikmah di balik kejadian yang menimpa anaknya itu.


"Iya, Pa. Kai setuju."


"Satu bulan terlalu lama, Kai. Dua minggu aja, gimana? Posisi …."

__ADS_1


"Papa ini gimana, sih. Anaknya udah mau malah pake tawar menawar segala. Biarin lah Kai liburan dulu. Healing gitu loh, Pa." Indira langsung memotong ucapan suaminya. Menghindari ada perdebatan yang akan membuat Kai berubah pikiran lagi.


"Widih, canggih ni Mama, tau healing segala," cengir Kai pada mamanya.


"Mama kamu pasti tau lah yang begitu itu. Hobinya aja nonton drama korea ya, Ma? Siapa itu idola Mama, si Senggi Senggi itu loh."


Kai tertawa mendengar ucapan ayahnya. Ayah dan anak itu larut dalam tawa. Mereka memang selalu kompak dalam urusan menggoda satu-satunya wanita dalam keluarga itu.


Sementara Indira juga larut dalam tawa. Tawa bahagia. Menikmati tawa kebersamaan keluarga mereka yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ada.


Kai memandang mama dan papanya yang sedang tertawa, saling melontarkan candaan. Pemandangan yang menentramkan hati. Dia menyesal sudah berusaha membuang itu selama bertahun-tahun.


Keegoisan dan sifat keras kepalanya saat remaja, ternyata membuatnya melewatkan kebersamaan yang jarang terjadi ini selama bertahun-tahun. Mungkin dulu jiwa remajanya hanya butuh perhatian lebih. Tapi dia melakukan dengan cara yang salah. Hingga menyakiti orang-orang yang disayanginya.


Kali ini Kai bertekad, tidak akan lagi menyia-nyiakan hidupnya. Dia akan berusaha jadi lebih lagi. Dia akan memantaskan diri untuk jodohnya kelak.


Sekarang aku bisa ikhlas, Jha. Aku sudah merelakan keinginan kamu untuk keluar dari hidupku. Aku akan melepaskan semua keinginan yang berhubungan dengan kamu.


Hanya kenangan tentang kita yang akan terus aku simpan, aku peluk untuk diri sendiri. Untuk memberiku kekuatan, sampai nanti seseorang datang mengukir kenangan baru. 


Jika nanti kita bertemu lagi, semoga takdir berbaik hati membuka jalan untuk kita bersama lagi.


...****************...


...Akhirnya Bang Kai bangkit juga, nggak galau lagi.. 🤭...


...Gitu dong, Bang. Jangan kelamaan galau, malu sama rambut gondrong 😂...


...Hai hai, Guys......


...Terima kasih masih ngikutin kisah Bang Kai - Senja - Nuta 🥰...


...Jangan lupa jejaknya, yaa.....

__ADS_1


...Like, share dan komen yang banyak.....


...❤️❤️...


__ADS_2