Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 46 Cukup Sampai Di Sini


__ADS_3

Jarum jam baru menunjukkan angka setengah tujuh pagi. Cahaya matahari pagi bersinar cerah di atas sana. Suara kokok ayam bersahutan dengan suara sapaan para petani yang lalu lalang menuju sawah dan ladang mereka. Padahal suhu berkisar di angka enam belas derajat celcius. Dingin. Tapi tidak menghalangi langkah para petani untuk mulai berkutat dengan tanaman di sawah dan ladang mereka.


Anak-anak pun juga sudah bersiap berangkat ke sekolah untuk menimba ilmu. Tidak pernah ada yang mengeluhkan cuaca dan suhu udara yang dingin. Karena bagi masyarakat di dataran tinggi, suhu dingin adalah berkah untuk kehidupan mereka.


Senja dan Bhumi, adiknya yang hanya berbeda tiga tahun, juga sudah bersiap dengan tas masing-masing. Mereka sudah berada di teras rumah kayu tempat mereka lahir dibesarkan. Sibuk mengenakan jaket tebal dan sarung tangan masing-masing.


“Ini buat dimakan ya, Kak. Jangan dianggurin sampai basi terus dibuang,” nasehat Hanum, ibu Senja sambil memasukkan tiga buah kotak makanan bertutup ke dalam tas punggung Senja.


“Satu kotak isinya lauk buat seharian ini. Satunya nasi goreng buat sarapan begitu sampai nanti, nggak usah jajan. Yang satu lagi itu rendang, bisa buat beberapa hari. Ibu udah bungkus di plastik kecil-kecil buat sekali makan. Nanti begitu sampai masukin kulkas dulu, ntar setiap mau makan tinggal panasin per plastik aja.” Hanum menjelaskan panjang lebar sambil memasukkan bekal yang sama ke tas Bhumi.


“Makasih, Bu. Ibu emang yang terbaik.” Senja memeluk ibunya erat, seolah dengan begitu dia bisa menyerap kekuatan. Mengisi daya untuk menghadapi segala kerumitan dalam hidupnya. “Maaf Kakak jarang pulang ya, Bu.”


“Nggak apa-apa, Kak. Asal jangan keterusan lagi. Kalo ada waktu senggang, pulang, ya, Nak.” Hanum membalas pelukan Senja sama eratnya.


“Kakak nggak usah drama pagi-pagi, deh. Gantian dong, aku juga mau berangkat, nih.” Dengan menyebalkan, Langit, anak bungsu di keluarga itu, menyerobot dan gantian memeluk sang ibu.


“Apaan, tuh. Berangkat sekolah aja peluk-peluk Ibu segala. Bilang aja iri.” Senja memeletkan lidah. Menggoda dan berdebat dengan si bungsu memang selalu menyenangkan.


“Biarain. Wek.”


“Udah, ah. Yuk, berangkat, Kak. Ntar kesiangan. Katanya ada siaran jam sembilan pagi ini, kan? Ntar nggak keburu.” Bhumi menengahi melihat Senja masih akan meladeni Langit.


Mereka bertiga bergantian mencium tangan ayah dan ibunya, kemudian sama-sama berangkat. Senja dan Bhumi akan menuju Kota tempat mereka bekerja dan menuntut ilmu, sedangkan Langit akan berangkat sekolah.


Pagi ini Senja menumpang motor Bhumi yang juga akan kembali ke Kota. Dia ada jadwal siaran jam sembilan pagi. Kalau mengikuti hatinya yang masih tercabik-cabik mendengar kalimat-kalimat yang mencapai ruang pendengarannya kemarin siang, gadis itu ingin melewatkan siaran hari ini. Persetan dengan teguran atau semacamnya.


Namun, rasa tanggung jawab membawanya untuk tetap duduk di boncengan motor Bhumi, menikmati perjalanan menyusuri jalanan yang meliuk dengan ratusan tikungan serta tebing dan jurang di kanan dan kiri jalan. Perjalanan yang akan memakan waktu satu jam lebih di tengah udara dingin yang terasa membekukan.


...****************...


Tok!


Tok!

__ADS_1


Tok!


Senja mengetuk pintu ruangan Nuta begitu sesi siarannya hari ini selesai. Di tengah siaran tadi office boy datang menyampaikan pesan bahwa dia ditunggu di ruangan GM begitu siaran selesai. Tanpa pesan itu pun, sebenarnya Senja tetap akan menemui Nuta, karena ada yang harus dia tuntaskan.


“Masuk.” Terdengar suara Nuta mempersilahkan masuk.


Senja mengisi rongga dadanya dengan udara terlebih dahulu, bersiap kalau-kalau pertemuan kali ini akan melelahkan.


“Permisi, Mas,” sapa Senja begitu mendorong pintu dan membawa tubuhnya memasuki ruangan.


Melihat Senja muncul di ambang pintu, Nuta membawa tubuhnya dengan langkah panjang menghampiri gadis itu lalu meraihnya ke dalam dekapan.


“Syukurlah kamu baik-baik aja. Aku lega kamu nggak kenapa-napa.” Hanya itu yang diucapkan oleh Nuta, padahal banyak sekali pertanyaan yang siap melompat keluar dari mulutnya. Hanya dekapannya yang semakin erat, seolah menyampaikan semua kekhawatirannya.


Sementara gadis yang berada dalam dekapannya itu hanya diam. Tidak mengeluarkan sepatah katapun, pun tidak membalas pelukan. Menyadari itu, Nuta mengurai pelukan lalu menangkup wajah Senja dengan kedua tangannya. Memandangi mata bulat yang membuatnya jatuh cinta.


“Kamu kenapa, Sayang? Baik-baik aja kan? Kalo ada apa-apa kamu selalu bisa cerita ke aku. Hmm?”


“Bisa kita duduk, Mas? Ada yang mau aku omongin.”


“Buat kamu, Sayang. Cobain, deh, kamu pasti suka.”


“Ntar aja, Mas. Aku mau ngomong dulu, boleh?”


“Oke, mau ngomongin apa, Sayang?” Nuta masih berusaha bersikap seperti biasa, kendati dia merasakan ada yang berbeda dari sikap Senja. Otaknya juga memberi sinyal seperti ada sesuatu yang buruk akan terjadi.


“Per tanggal satu aku resign, Mas. Ini suratnya. Sekarang masih tanggal dua puluh, semoga sepuluh hari kedepan cukup buat nyari pengganti aku, atau minimal cukup penyesuain jadwal yang baru.” Senja meletakkan di atas meja amplop yang sedari tadi sudah disiapkannya. Tidak merasa perlu berbasa-basi, gadis itu menyampaikan maksudnya dengan lugas.


“What the … apa-apaan sih, Sayang? Kamu lagi bercanda, ya?”


“Aku nggak bercanda sama sekali, Mas. Aku resign per tanggal satu bulan depan. Itu suratnya, kamu bisa baca sendiri. Dan aku juga mau bilang, ternyata aku ga bisa membuka hati buat kamu. Aku udah usaha selama enam bulan ini, tapi ternyata nggak ada progres sama sekali. Jadi aku rasa, lebih baik kita akhiri aja. Kita jalan masing-masing aja mulai sekarang.” Senja mengucapkan kalimat-kalimat panjang itu dengan nada kelewat datar, seolah tanpa perasaan.


“Mentari Senja. Kalo bercanda jangan kelewatan, dong. Hal lain aja yang dibecandain, jangan hubungan kita. Nggak lucu.” Nuta menjawab dengan nada mulai meninggi. Egonya tersentil melihat Senja mengucapkan kata-kata itu dengan wajah datar tanpa emosi apapun.

__ADS_1


“Terserah kalo Mas Nuta mau anggap aku bercanda, yang pasti  aku ngomong apa adanya. Aku udah omongin keperluan aku, jadi aku pamit dulu. Permisi.”


Senja berdiri dan berbalik hendak meninggalkan ruangan. Tapi sentakan di pergelangan tangannya membuat gadis itu kembali mendarat dengan keras di sofa.


“Maaf, ya, Sayang. Aku nggak bermaksud narik kamu sekenceng itu. Sakit, ya?” Nuta menunjukkan wajah khawatir, sementara Senja hanya diam.


“Kamu kenapa, sih, Sayang, tiba-tiba ngomong resign, tiba-tiba ngomong akhiri semuanya tanpa alasan apapun. Kamu ada masalah, ya? Coba cerita sama aku sini, kita cari solusinya sama-sama. Ya?” bujuk Nuta dengan nada lemah lembut, berharap dengan begitu Senja akan berubah pikiran dan menarik kembali semua ucapannya barusan.


“Aku akan jelasin semua ke kamu, Mas. Tapi nggak di sini. Karena ini bukan masalah kerjaan, ini urusan pribadi kita.”


“Oke. Kita keluar sekarang kalo gitu. Aku ambil kunci mobil dulu.”


“Nggak sekarang, Mas. Ntar kita cari waktunya. Sekarang aku ada keperluan lain. Boleh aku minta handphone aku?”


“Jha. Jangan gini dong, Sayang. Kalo aku nggak dapat penjelasannya sekarang, aku nggak akan bisa tenang. Kita ngomong sekarang aja, ya?” Nuta menggenggam tangan Senja, kembali menatap mata bulat dengan manik coklat di dalamnya. Mencari sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.


Tapi laki-laki itu tidak menemukan apapun. Tidak ada emosi apapun yang bersembunyi di dalam sana. Mata itu tidak menunjukkan apa yang diharapkan ada di sana.


Nuta merasa hatinya sesak. Dia merasa kehilangan sudah di depan mata. Banyak bujuk dan rayu yang ingin diucapkannya agar gadisnya berubah pikiran. Tapi pada akhirnya yang bisa dilakukannya hanya menarik gadis itu ke dalam dekapan. Memeluknya erat, menciumi kepala gadis yang dicintainya itu. Menyalurkan rasa takut kehilangan yang tiba-tiba mengakar kuat di hatinya.


Brak!!


Pintu ruangan itu tiba-tiba didorong dengan kencang.


“APA-APAN INI?! KALIAN LAGI NGAPAIN?! INI KANTOR BUKAN KAMAR HOTEL!!”


...****************...


...Ada yang bisa nebak nggak itu yang muncul tiba-tiba siapa??...


...Selamat membaca, Guys. Jangan lupa tinggalin jejak, ya.. 🥰...


...Like dan komen yang banyak....

__ADS_1


...Love you to the moon and back 🥰...


__ADS_2