Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 28 Hari Bersamanya


__ADS_3

Sebuah mobil Suzuki Swift warna biru metalik terparkir di depan kosan Senja. Nuta, pemilik mobil itu berdiri bersedekap di depan pintu sebelah kiri.


Hari ini Laki-laki itu terlihat lebih santai dengan celana pendek selutut berwarna abu-abu gelap dan atasan kaos berkerah warna maroon. Meskipun mengenakan pakaian santai, Nuta memang selalu tampil rapi dan stylish.


Begitu Senja membuka pintu kosan matanya langsung melihat Nuta. Seulas senyum terbit di bibir gadis itu.


“Datang-datang malah senyum-senyum gitu. Ada apa, nih?” tanya Nuta menyambut Senja yang sudah berdiri di depannya.


“Ha ha ha ….” Senja malah menjawab pertanyaan Nuta dengan tawa.


“Ngetawain apa sih, Jha? Ada yang lucu?”


“Kamu yang lucu, Mas. Berdiri di situ pakai kaca mata hitam, udah kayak oppa-oppa Korea lagi berjemur, tapi sambil nunggu penumpang,” tawa Senja masih mengiringi kalimatnya.


“Beuh, halus banget hinaannya. Nggak usah bilang oppa-oppa segala. Langsung aja bilang aku kayak driver online lagi nunggu penumpang. Nggak usah pake kata-kata pengantar segala.” Nuta memasang wajah cemberut pura-pura, membuat gadis di depannya semakin larut dalam tawa.


“Maaf, Mas. Aku nggak maksud, tapi faktanya emang gitu. Ha ha ha …”


Nuta menatap dalam gadis di depannya itu. Tawa renyah itu, syukurlah masih seperti biasa.


Tadi pagi Ariana datang melapor bahwa jadwal siarannya dichange dengan jadwal Senja. Dari gadis itu dia dapat informasi bahwa Senja sedang tidak enak badan dan hatinya juga sedang sedikit bermasalah.


Walaupun Ariana menyampaikan informasi itu sambil bercanda, Nuta yakin memang Senja sedang tidak baik-baik saja. Karena itu dia memutuskan untuk segera datang begitu gadis itu membalas pesan yang dikirimnya.


“Kalo liat kamu ketawanya lepas banget, kayaknya bener kamu udah baikan. Tadi yang sakit apanya?” tanya Nuta setelah tawa Senja reda.


“Cuma nggak enak badan aja kok, Mas. Mungkin karena kurang istirahat. Sekarang udah baikan.”


“Serius udah baikan? Kita ke dokter deh, yuk. Aku anter.”


“Nggak usah, Mas. Udah nggak pa-pa kok. Siaran sampe tengah malam ntar juga aku kuat loh.” Senja mengangkat lengannya, menunjukkan otot yang tidak terlihat.


“Udah sarapan?”


“Belum.”


“Ini udah mau jam makan siang dan kamu belum sarapan? Gimana nggak sakit kalo gitu,” ujar Nuta sambil melihat jam di pergelangan tangannya, wajahnya berubah serius. “Ayo masuk, kita makan.”


Nuta membukakan pintu mobil di belakangnya. Senja menurut, masuk dengan patuh. Entah kenapa dia merasa seperti bawahan yang sedang dimarahi atasannya.


...****************...


“Lemon tea panas sama mie goreng, ya.” Senja menyebutkan pesanannya pada waiters yang sedang menunggu pesanan.


Mereka sudah duduk di sebuah restoran yang dipilih oleh Nuta. Sepanjang perjalanan tadi tidak ada obrolan sama sekali. Nuta hanya diam, fokus pada jalanan di depannya. Sementara Senja juga enggan memulai percakapan karena melihat perubahan raut wajah laki-laki itu.


“No. Kamu tadi nggak sarapan, jangan makan mie. Pesan nasi aja, itu banyak pilihan lauknya.” Nuta menjawab cepat sebelum waiters sempat mencatat pesanan yang disebutkan Senja.


“Tapi aku nggak biasa makan nasi jam segini, Mas. Ntar pasti perutnya jadi nggak enak seharian.”


“Nasi goreng aja kalo gitu, lebih ringan kan. Atau mau menu roti-rotian?”


“Ya udah, nasi goreng aja,” ucap Senja akhirnya.


“Nasi goreng dua dengan toping telur dan ayam suwir, minumnya lemon tea panas dua. Itu aja, Mbak.” Nuta menyebutkan pesanan pada waiters  yang langsung mencatatnya.


“Maaf ya, Jha, kalo aku jadi kayak maksa-maksa kamu. Aku nggak suka kalo ada orang di sekelilingku yang suka melewatkan makan. Itu sama aja nggak sayang sama diri sendiri. Sama diri sendiri aja nggak sayang, gimana mau sayang sama orang lain.” Nuta menatap Senja, menjelaskan perubahan sikapnya yang tiba-tiba.

__ADS_1


“Serem ya kalo Mas Nuta lagi marah. Aku jadi berasa kayak bawahan lagi dimarahin karena bikin kesalahan berat.”


“Aku nggak marah, Jha. Itu bentuk perhatian aku ke kamu, bukan marah-marah.”


“Iya tau. Naganya udah lompat-lompat ya, Mas?”


“Naga apa?”


“Itu naga di perutnya udah lompat-lompat minta makan, ya? Jadi serius mulu bawaannya.”


Kata-kata Senja membuat Nuta tertawa. Sejujurnya dia hanya khawatir pada kesehatan gadis itu. Dia tidak ingin terjadi hal buruk pada gadis yang sangat diharapkannya itu.


“Gelangnya nggak dipake, Jha? Nggak suka, ya?”


Nuta memperhatikan pergelangan tangan Senja. Gelang yang kemaren dipasangnya sudah tidak melingkar lagi di sana.


“Hmm, itu …” Senja merogoh tasnya, mengambil gelang yang sudah dimasukkan lagi ke dalam kotaknya.


“Jangan tersinggung ya, Mas. Kayaknya aku nggak bisa terima ini. Ini mahal banget, Mas. Aku nggak bisa terima barang semahal ini.” Senja menyampaikan maksudnya dengan hati-hati. Tangannya menyodorkan kotak itu ke depan Nuta.


“Kenapa?”


“Karena aku nggak biasa terima pemberian dari orang lain. Bahkan biasanya aku nggak akan mau ditraktir makan sama orang yang nggak dekat. Mas Nuta pengecualian. Tapi tetap enggak untuk barang semahal ini.”


“Pemberian orang lain?” Nuta menatap Senja dengan tatapan yang sulit diartikan.


Senja hanya diam, tidak tahu bagaimana harus menjawab tanpa membuat laki-laki di hadapannya itu tersinggung.


“Kalo aku bukan orang lain, kamu mau terima?”


Senja menatap Nuta penuh tanya. menunggu kelanjutan kalimat yang sepertinya dia sudah tahu akan kemana arah kata-kata selanjutnya.


“Mas …”


“Aku tau kamu butuh waktu, dan aku udah janji bakal tunggu. Tapi gelangnya jangan balikin, ya. Kamu pake aja, biar selalu ingat ada orang yang begitu berharap sama kamu. Nggak usah merasa terbebani, ini nggak semahal itu kok.”


Senja masih saja diam.


“Beneran, Jha. Gelangnya nggak semahal itu kok. Ya? Dipake, ya?” Nuta menatap Senja dengan pandangan penuh harap.


Akhirnya gadis itu mengangguk, tidak enak kalau tetap menolak.


Nuta mengambil kotak, mengeluarkan gelang dari dalamnya dan memakaikan kembali di pergelangan tangan Senja.


...****************...


Nuta tertawa melihat Senja yang kelelahan sesudah mencoba beberapa permainan di area bermain sebuah mall besar di Kota ini. Setelah makan siang tadi, Nuta mengajak Senja untuk menonton film dan diiyakan oleh gadis itu.


Akhirnya mereka berakhir di sini. Membaur dengan pengunjung yang sebagian besar adalah anak-anak. Mencoba permainan-permainan yang menarik hati.


“Udah capek aja? Masih kalah poin loh kamu,” Nuta tertawa meledek Senja yang kelelahan setelah mereka bermain lempar bola ke keranjang.


“Udah ah, Mas, capek lawan kamu. Nggak akan menang. Kalo usaha sedikit lagi tangan kamu aja nyampe tuh ke keranjangnya.”


“Ya kali ini tangan disamain sama leher jerapah.”


Mereka tertawa. Menikmati kebersamaan hari itu. Kebersamaan yang belum pernah sedekat ini sebelumnya.

__ADS_1


Nuta bahagia. Akhirnya Senja seperti memberi kesempatan untuknya semakin mendekat. Harapan semakin tumbuh di hatinya.


Semoga kebersamaan hari ini jadi awal kedekatan kita selanjutnya. Semoga aku tidak harus menunggu terlalu lama untuk dapat tempat di hati kamu.


Nuta menggaungkan harap dalam hati. Berharap semesta mendukung perjuangannya untuk mendapatkan hati Senja.


Hari telah terganti


Tak bisa ku hindari


Tibalah saat ini bertemu dengannya


...Jantungku berdegup cepat...


...Kaki bergetar hebat...


...Akankah aku ulangi merusak harinya...


...Mohon Tuhan...


...Untuk kali ini saja...


...Beri aku kekuatan...


...'Tuk menatap matanya...


...Mohon Tuhan...


...Untuk kali ini saja...


...Lancarkanlah hariku...


...Hariku bersamanya...


...Hariku bersamanya...


Senja bersenandung mengikuti melodi lagu yang tengah mengalun dari pengeras suara area bermain. Tidak bisa dipungkiri, hari ini dia senang menghabiskan waktu bersama Nuta.


Senja meraba perasaannya. Ada rasa nyaman di sana. Mungkin ini pertanda dari semesta untuk mencoba membuka hati untuk Nuta. Mungkin langkahnya ke depan memang bersama Nuta berjalan di sisinya.


...****************...


...Uwuuu......


...Ada kapal yang kayaknya bakal mulai berlayar niih, guys.....


...🤭...


...Tim Mas Nuta tunjuk tangan dulu coba ☝️☝️...


...Kapal Senja - Nuta beneran bakalan berlayar nggak yaa??...


...Jangan lupa ikuti terus kisahnya yaa.....


...Jangan lupa tinggalin jejak juga, Guys.....


...Like, share dan komen yang banyak yaaa......

__ADS_1


...Terima Kasih 🥰🥰🥰...


__ADS_2