Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 34 Permulaan


__ADS_3

Kemeja lengan panjang yang digulung sampai batas siku dari brand Tom Ford berwarna biru muda. Celana model chino Andrew Smith berwarna navy. Sepatu slip on keluaran desainer Paris kenamaan Brunello Cucinelli warna coklat. Jam tangan merek Richard Mille berwarna gold dengan tali kulit warna hitam. Serta rambut sebahu yang dikuncir rapi ke belakang.


Kai mematut sekali lagi keseluruhan penampilannya di depan cermin berukuran setinggi tubuh di depannya. Jauh memang dengan outfit yang biasa dikenakannya selama bertahun-tahun. Saat ini dia terlihat seperti orang yang berbeda.


Setelah puas dengan penampilannya, Kai menyemprotkan parfum Giorgio Armani Acqua beraroma akuatik ke pergelangan tangan lalu mengusapkan ke beberapa bagian di tubuhnya. Tangan laki-laki itu kemudian menyambar tas keluaran dari merek dan warna yang senada dengan sepatunya. Memasukkan ponsel yang tergeletak di atas ranjang, lalu kemudian keluar dari kamar.


"Ya ampun. Ganteng banget anak Mama. Tapi sayang kulitnya gosong," Indira menyambut anaknya yang sudah berada di anak tangga paling bawah dengan sebuah pelukan.


Kulit Kai memang terlihat lebih gelap dari biasanya. Dua minggu menghabiskan waktu di Bali yang rutin dilakukannya adalah berenang, berjemur dan surfing. Sesekali bertemu dengan kenalannya yang ada di sana.


Begitu ingatannya memutar kenangan tentang Senja, dia akan mencari hiburan dengan mendatangi klub malam, sekedar menikmati suasana. Atau dia mengalihkan pikirannya dengan berbelanja. Entah itu berbelanja langsung di store atau secara online. Outfit yang dipakainya hari ini adalah hasil shopping selama di Bali. Kai akhirnya kembali menggunakan black card yang bertahun-tahun selalu dihindarinya. Dijauhi seperti sesuatu yang membawa penyakit menular.


Setelah melepaskan pelukannya, wanita itu memutar badan Kai, mematut penampilan anaknya itu dari kepala hingga ujung kaki.


"Oke perfect. Anak Mama emang nggak ada lawan," Indira menjawil hidung Kai lalu kembali memeluknya.


"Mama ih, peluk-peluk terus. Kai bukan anak kecil yang mau masuk sekolah, Ma. Kalo ada yang liat, bisa jatuh kredibilitas Kai," sungut Kai.


"Nggak ada yang ngintip rumah kita kok, Kai. Tenang aja."


Sekali lagi Indira memeluk anaknya. Menyalurkan bahagia yang membuncah memenuhi hatinya. Doa yang bertahun-tahun dirapalkan dalam setiap sujudnya akhirnya terjawab sudah. Anak kesayangannya telah kembali ke pelukannya.


...****************...


"Kamu langsung ke kantor Kai, tunggu aja di ruangan Papa ntar Papa nyusul setelah anter Mama ke Yayasan," perintah Bachtiar pada anaknya setelah selesai sarapan dan berada di pintu depan.


"Iya, Pa," angguk Kai.


Setelah mobil Papanya keluar gerbang, Kai berjalan menuju garasi. Mengamati beberapa mobil yang ada di sana.


Matanya tertumbuk pada Mini Cooper merah keluaran terbaru yang berada di sisi paling jauh dari tempat dia berdiri. Seingatnya, Papa bukan penyuka mobil jenis ini. Entahlah, mungkin selera ayahnya sudah berubah.


Kai memutuskan untuk mengendarai mobil itu saja, mengambil kunci di dalam rumah, kemudian melajukan mobil itu menuju kantor media milik papanya.


Perfect. Sekarang aku benar-benar terlihat seperti anak Bachtiar Chaniago. Hal yang berusaha aku buang selama bertahun-tahun. Kalo kamu lihat aku sekarang, akan seperti apa reaksimu?


...****************...


Kai mengamati wajah-wajah yang hadir di ruangan meeting pagi itu. Beberapa orang yang sepertinya adalah Dewan Direksi, duduk di sisi kiri dan kanan Bachtiar Chaniago yang duduk di kepala meja.

__ADS_1


Menyusul semakin ke ujung duduk ada Pemimpin Redaksi, Manajer Personalia, Manajer Pemasaran serta Manajer Keuangan dari masing-masing media Harian Cetak dan media Online yang ada di perusahaan itu.


Sebagian besar adalah wajah-wajah yang dikenal dan mengenal Kai tentu saja. 


"Perkenalkan semuanya, ini Kai Sakha Chaniago, anak saya yang mulai hari ini akan mengisi jabatan General Manager yang kosong karena GM yang lama pindah ke cabang baru kita di Kota lain. Kedua media, Harian Cetak dan Online akan berada di bawah tanggung jawab Kai."


Kai berdiri dan membungkukkan sedikit badannya ke arah peserta meeting di ruangan itu. Perkenalan dilanjutkan meeting pagi itu masih berlanjut selama sepuluh menit sebelum kemudian Bachtiar dan Dewan Direksi meninggalkan ruangan. Meeting dilanjutkan oleh Kai selama satu jam kemudian.


"Saya rasa cukup untuk hari ini. Untuk besok tolong dijadwalkan meeting dengan seluruh staf bagian redaksi dari kedua media, Harian Cetak dan Online. Meeting hari ini saya tutup, terima kasih."


Peserta rapat mulai meninggalkan ruangan satu-persatu. Beberapa orang yang sudah dikenalnya dari lama, tersenyum dan mengangguk hormat padanya.


"Selamat bergabung Pak Kai, mohon kerja sama dan bimbingannya." Sebuah tangan terulur di depan Kai.


Pemilik tangan itu adalah Ruli, Pemimpin Redaksi media Online yang sudah sangat dikenalnya.


"Abang, makasih. Jangan panggil Pak lah, Bang. Kayak sama siapa aja. Mohon bantuan dan bimbingannya ya, Bang. Masih belajar gue." Kai menjawab seperti biasa mereka berkomunikasi selama ini.


"Pasti bisa Pak Kai. Udah berpengalaman. Semoga media kita makin maju di bawah tanggung jawab Bapak," jawab Ruli.


"Jangan gitu lah, Bang. Biasa aja. Kayak baru kenal aja." Kai merasa tidak nyaman dengan bahasa dan sikap formal Ruli.


Kai menghempaskan dirinya di kursi yang diduduki sebelumnya. Menghirup nafas dalam-dalam. Setiap kali memulai hal baru, pasti akan ada banyak hal baru juga yang ditemui.


Sepertinya Kai harus bersiap untuk berhadapan dengan perubahan sikap dan cara berinteraksi orang-orang yang selama ini dikenalnya. Seperti Ruli barusan yang memperlakukannya kelewat formal.


Perubahan itu bukan karena jabatan barunya. Namun disebabkan oleh statusnya sebagai anak Bachtiar Chaniago yang merupakan pemilik perusahaan ini.


...****************...


Kai memasuki ruangan barunya dan mengamati sekeliling. Ada beberapa furniture dan pajangan yang sangat tidak sesuai dengan seleranya. Mungkin nanti dia harus menggantinya.


Ah, tapi itu urusan nanti. Untuk hari ini dan hari-hari berikutnya dia akan disibukkan dengan pekerjaan barunya. Belajar dan melakukan banyak penyesuaian.


Ting!


Ting!


Ting!

__ADS_1


Ponsel yang masih berada dalam tas berdenting berkali-kali menandakan ada banyak notifikasi dari aplikasi chat. Kai merogoh tas dan mengambil ponselnya.


Helaan nafas kasar keluar dari mulutnya begitu melihat notifikasi yang tampil. Dia dikeluarkan dari semua grup chat yang berhubungan dengan pekerjaan sebelumnya.


Grup chat yang anggotanya adalah para jurnalis di Kota ini, rekan-rekan seprofesinya dulu, bahkan masih sebulan yang lalu itu, dibentuk berdasarkan kepentingan. Mungkin ada lebih dari sepuluh. Dan barusan dia dikeluarkan dari seluruh grup chat itu tanpa pemberitahuan.


Kai memutuskan menghubungi Angga untuk bertanya.


Nyet, kenapa gue dikeluarin serentak dari semua grup chat? Tanpa pemberitahuan pula. Ada apa?


Send. Kai mengirimkan pesan itu ke kontak Angga, teman dekatnya selama beberapa tahun ini.


Sorry Kai. Kata anak-anak mereka nggak enak kalo lo tetap ada dalam grup. Nggak nyaman katanya, takut salah ngomong.


Kai membaca pesan itu sambil mengerutkan kening. Tangannya segera mengetik balasan.


Nggak nyaman kenapa sih?


Agak lama Kai menunggu balasan pesan dari Angga.


Karena lo ternyata anak konglomerat. Jadi mereka nggak nyaman. Nggak selevel lagi katanya.


Brakk!!!


Kai melemparkan ponselnya ke atas meja. What the f**k.


...****************...


...Ada aja yaa ujian buat Abang Kai.....


...Baru hari pertama kerja udah emosi tinggkat tinggi 🤭...


...Yang sabar ya, Bang. Yang setrong juga 💪💪...


...Terima kasih semua udah baca kisah Samudera Kala Senja sampai sejauh ini....


...Jangan lupa tinggalin jejak, ya.....


...Like, share dan komen banyak-banyak ... 🥰...

__ADS_1


...Saranghae ❤️❤️...


__ADS_2