Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 9 Samudera dan Senja


__ADS_3

Suasana kampus sore ini lumayan sepi. Tidak seramai hari-hari lainnya. Mungkin karena ini hari jumat dan jarum jam sudah menunjuk angka lima. Kebanyakan mahasiswa yang menuntut ilmu di kampus ini adalah perantauan. Jadi biasanya mereka mengambil mata kuliah seminim mungkin mendekati akhir pekan, agar bisa pulang kampung dan menikmati weekend bersama keluarga.


Senja melangkahkan kakinya gontai menuju bagian belakang panggung di sebelah barat pendopo. Dia janjian di sana dengan Kai untuk latihan musikalisasi puisi hari ini.


“Mendung banget wajahnya, Jha. Lagi mikirin apa?” sapa Kai begitu Senja sampai di sana.


Senja hanya menggeleng sebagai jawaban, kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Kai.


Kai yang sedari tadi sudah memegang gitar, mulai memetik dawainya lagi. Menyanyikan penggalan lagu milik Lobow sembari menatap wajah Senja.


...Kau cantik hari ini...


...dan aku suka...


...kau lain sekali...


...dan aku suka...


Senja tidak merespon, terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Kai yakin ada sesuatu yang terjadi atau ada yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Biasanya Senja akan ikut bernyanyi begitu Kai mulai memetik dawai gitarnya.


Latihan musikalisasi puisi yang mereka jalani sudah berlangsung selama tiga minggu. Karena bertemu untuk latihan setiap dua hari sekali, hubungan mereka sudah cukup akrab. Porsi latihan yang sedikit berlebihan memang, tapi Kai butuh alasan untuk bertemu dan dekat dengan Senja.


“Ke parkiran yok, Jha,” ajak Kai pada Senja.


“Ngapain , Bang?” jawab Senja heran.


“Ambil motor, kita cari makanan dulu, deh. Abang laper.”


“Abang aja, deh. Aku tunggu di sini. Nggak laper soalnya,” tolak Senja. Dia sedang tidak ingin melakukan apapun. Bahkan untuk latihan hari ini sebenarnya juga malas.


“Ikut aja dulu, yok. Sekalian kita pindah tempat latihan. Ganti suasana gitu.”


Kai yang sudah berdiri mengulurkan tangannya pada Senja. Sejenak Senja hanya diam memandang, tapi akhirnya menyambut uluran tangan itu. Ide ganti suasana bagus juga, siapa tahu bisa memperbaiki suasana hatinya, begitu pikir Senja.


...****************...


Kai melepas sweater yang dipakainya dan membentangkan di atas pasir.


“Duduk di sini, Jha,” ujarnya sambil menepuk-nepuk sweater itu, memberi isyarat agar Senja duduk di atasnya.


“Kotor dong, Bang, sweaternya. Nggak usah deh, aku duduk di pasir aja.”


Kai meraih pundak Senja, sedikit mendorong untuk mengarahkannya duduk di atas sweater yang terbentang. Kemudian ikut duduk di atas pasir di sebelah Senja.


“Nggak pa-pa kamu duduk, aja. Nggak baik anak perempuan duduk nggak pake alas, ntar susah lahiran.”


“Yee, orang hamil kali yang nggak boleh.”

__ADS_1


Kai menatap Senja yang tertawa di sebelahnya. Sepertinya keputusan untuk membawa Senja ke pantai ini sudah tepat. Mendung di wajah Senja sudah sedikit berkurang, walau belum sempurna hilang.


Mereka sedang berada di kawasan pantai dekat kampus. Pada hari-hari biasa tempat ini akan sangat ramai pengunjung di sore hari, apalagi di jam-jam mendekati matahari terbenam seperti saat ini. Tapi karena ini hari jumat, jadi sedikit sepi. Pengunjung pantai yang sebagian besar adalah mahasiswa yang lelah setelah menuntut ilmu memang akan berkurang drastis di akhir pekan.


Krek


Suara tutup botol dibuka dari samping membuat Senja menoleh. Mengalihkan sejenak pandangan matanya dari matahari yang mulai turun ke peraduannya.


“Kok tiba-tiba udah ada minuman aja sih, Bang?” tanya Senja sembari mengambil botol minuman yang disodorkan oleh Kai.


“Beli di warung sana.” Kai menjawab singkat. Menunjuk dengan dagu ke arah warung di pinggiran pantai karena tangannya sibuk membuka botol minuman dan bungkusan kue yang tadi dibelinya. Lalu menyodorkan kue itu pada Senja.


“Makasih, Bang. Abang kapan pergi belinya, sih? Kok aku nggak tau.”


“Kamu sibuk ngelamun gitu gimana mau tau. Kalo tadi aku nggak balik lagi kamu nggak sadar juga pasti kan.”


“Ya nggak pa-pa aku bisa pulang sendiri, kok.” Senja menjawab sambil tersenyum.


Di mata Kai senyum itu terlihat sangat indah. Menghadirkan desiran halus di dadanya. Ah, dia harus segera mengakui perasaannya pada Senja. Hatinya seperti penuh dan membutuhkan tempat untuk meluapkannya.


“Lumayan sepi pantainya, jadi enak kalo mau nongkrong di sini.” Kai mangalihkan tatapan pada pemandangan di depannya.


“Rame gini dibilang sepi, emang biasanya serame apa, sih?"


“Rame banget, sampe rasanya sesak, sumpek.”


“Udah nggak sedih lagi?” tanya Kai yang kembali menatap Senja.


“Siapa bilang aku sedih?” Senja juga menoleh menatap Kai.


“Itu tadi wajahnya jelek banget, kayak mendung sebelum badai.”


Senja tertawa mendengar kata-kata Kai. Satu yang disukai Senja dari Kai selama mereka sering latihan tiga minggu belakangan ini, Kai tidak pernah langsung bertanya jika ada yang dilihatnya berbeda. Pemuda itu akan membangun suasana terlebih dahulu, kemudian baru menyisipkan pertanyaan.


“Nggak gitu kok, Bang. Aku cuma lagi kangen rumah aja. Tadi pas telpon kayaknya ayahku lagi nggak enak badan. Nggak ngomong sih, tapi aku tau dari suaranya yang agak serak.” Senja menghela dafas dalam. Bercerita pada Kai membuat dadanya sedikit lebih luang.


“Kenapa nggak pulang aja?”


“Nggak bisa. Kan jadwal pelatihan radio kampusnya penuh sebulan ini. Kuliah juga full senin sampai jumat.”


“Kamu deket banget ya sama orangtua kamu?”


“Iya, sama ayah sih yang paling deket. Mungkin karena aku anak perempuan kali, ya. Kalo abang gimana, deket nggak sama orangtuanya?” Senja balik bertanya.


Kai hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Senja. Obrolan tentang orangtua adalah topik yang tidak disukai oleh Kai. Mungkin nanti akan ada saatnya dia bercerita pada Senja.


“Mataharinya mulai terbenam. Warnanya bagus banget.” Senja mengalihkan pembicaraan, karena sepertinya pertanyaan basa-basinya soal orangtua tidak akan mendapat jawaban dari Kai.

__ADS_1


“Iya, warna sunsetnya bagus. Cantik. Kayak nama kamu, Mentari Senja. Cantik, secantik yang punya nama.” Kai menatap Senja yang masih sibuk memandangi sunset di depannya.


Cahaya jingga dari matahari terbenam seperti membayang di wajah Senja, membuat wajah dengan mata bulat itu semakin cantik. Kai ingin sekali menangkup wajah itu, lalu memandangi sepuasnya. Tapi hubungan mereka belum cukup dekat untuk melakukan itu.


Kai memegang dadanya. Desiran di dalam sana semakin menggila. Perasaannya penuh. Tapi Kai belum punya keberanian untuk mengungkapkannya pada Senja. Dia takut Senja akan menolak dan menjauhinya.


“Aku penasaran sama nama kamu. Ada makna apa di balik nama Mentari Senja?” Kai mencoba mengalihkan perasaannya dengan bertanya.


“Kata ayah, hidup sebagai petani itu nggak mudah. Kerja di ladang dari pagi sampai sore tuh nggak gampang, capek. Tapi begitu hari sore, ada perasaan senang karena bisa istirahat dan pulang. Memandang tanaman di ladang saat sore juga katanya menyenangkan. Mendatangkan harapan, semoga besok tanaman tumbuh lebih subur, hasil panen lebih banyak, dan kehidupan jadi lebih baik.” Senja berhenti sejenak, memperhatikan Kai yang serius mendengar ceritanya yang kepanjangan.


“Kepanjangan ya prolognya?” tanya Senja sambil tertawa.


“Lanjut,” jawab Kai singkat.


“Jadi ya, gitu. Ayah kasih aku nama Mentari Senja, katanya semoga aku bisa jadi cahaya yang membawa kehangatan dan harapan buat orangtua, dan semua orang.” Senja mengakhiri ceritanya.


“Waah, aku nggak nyangka loh ternyata itu filosofi di balik nama kamu. Aku kagum sama orangtua kamu, suatu saat pengen ketemu dan ngobrol sama beliau.”


“Kalo nama Bang Kai artinya apa?”


“Jangan panggil gitu lah, Jha. Abang, abang aja, nggak usah digabung jadi Bang Kai, nggak enak dengernya.”


Senja tertawa mendengar jawaban Kai. Mendung yang menyelimuti hatinya sudah hilang, tak bersisa.


“Iya, deh. Ralat nih, ya. Nama abang artinya apa?”


“Aku suka loh, Jha, denger panggilan abang dari mulut kamu. Syahdu.” Kai tertawa, menertawakan gombalan basinya.


“Halah, halah. Mulai ngegombal nih Si Abang.” Senja ikut tertawa.


Satu lagi yang disadari Senja semenjak dekat dengan Kai belakangan ini. Laki-laki itu akan diam atau mengalihkan pembicaraan saat seseorang mengajukan pertanyaan yang tidak ingin dia jawab. Tapi kali ini Senja ingin mendapat jawaban. Senja seperti akrab dengan nama Kai, terutama nama belakangnya.


“Jadi arti nama Abang apa?” Senja kembali bertanya.


“Kai artinya laut atau samudera. Kalo Sakha artinya murah hati atau berpikiran terbuka. Jadi Kai Sakha artinya laki-laki yang murah hati dan berpikiran terbuka seluas samudera.” Kai tertawa menjelaskan arti nama yang dibuatnya jadi sepanjang mungkin.


Senja ikut tertawa. Entah harus percaya atau tidak dengan jawaban Kai.


“Kalau Caniagonya artinya apa, Bang?” tanya Senja lagi, hatinya masih penasaran.


“Hmm, nggak ada arti yang gimana-gimana, sih. Nama suku kali, ya. Nggak tahu juga.”


Senja diam mendengar jawaban Kai. Dia merasa familiar dengan nama belakang Kai. Rasanya ada nama lain yang mirip dengan nama itu. Tapi Senja benar-benar tidak ingat pernah mendengarnya dimana.


“Nama kita kalo digabung jadi bagus loh, Jha. Kai, Senja. Samudera dan Senja. Kalo kita punya anak, kasih nama Kala aja. Jadi bagus kan kalo digabung, Samudera Kala Senja.” Kai mengalihkan perhatian Senja dengan candaan. Dia tidak ingin Senja terus penasaran dan bertanya tentang nama belakangnya. Mungkin nanti dia akan bercerita.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2