Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 7 Kamu Cemburu?


__ADS_3

Kai mengamati sepasang manusia yang sedang tertawa sambil menikmati makan siang di meja ujung sana. Dia sudah mengikuti dan mengamati mereka semenjak baru melangkah keluar dari gerbang Arshinta FM.


Niatnya hari ini datang untuk meminta maaf atas kejadian di hotel kemaren sekalian mau mengajak Senja makan siang. Saat baru menghentikan motornya di depan gerbang kantor radio itu, dia melihat Senja berjalan beriringan dengan seorang pemuda berpenampilan kasual, rapi dan stylis. Pemuda itu terlihat sedang memandangi Senja dengan senyum hangat. Yang dipandangi malah sepertinya tidak menyadari itu, karena pikirannya seperti sedang tidak berada di sana.


Alih-alih menyapa, Kai malah mengikuti mereka memasuki restoran di seberang jalan. Duduk di meja yang di belakangi oleh Senja. Sengaja, agar Senja tidak menyadari kehadirannya dan dia bisa leluasa mendengar percakapan mereka.


“Tahun lalu kamu ngapain, Jha? Bapak marah banget kayaknya.” Terdengar suara pemuda yang kelihatan seumuran dengan Kai itu memulai percakapan.


Kai tidak mendengar jawaban dari Senja. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.


“Obrolan di ruangan bapak tadi itu, loh.” Kembali pemuda itu yang bersuara.


“Oooh, itu. Mas Nuta kan nggak tahu, ya. Tahun lalu masih di Bandung.” Oh, jadi namanya Nuta. Kai menggertakkan giginya mendengar Senja memanggil pemuda itu dengan sebutan Mas. Hatinya tidak terima.


“Iya, makanya aku tanya.”


“Jangan tanya-tanya deh, Mas. Aku malu kalo inget kejadian tahun lalu itu.” Kai semakin menggertakkan giginya. Dia tahu saat ini pasti Senja sedang bertingkah menggemaskan. Menutup muka dengan tangan, pipinya juga akan ikutan bersemu merah. Dia hafal betul kebiasaan Senja saat sedang malu.


“Kan udah lewat juga. Sekacau apa sih sampai kamu masih malu sampai sekarang?” Sepertinya pemuda itu benar-benar penasaran.


“Harus cerita, ya?”


“Dari pada aku tanya sama Bapak atau teman-teman yang lain, mending aku tanya langsung sama kamu, kan?”


Kai juga menunggu jawaban Senja. Ikut penasaran dengan apa yang terjadi tahun lalu. Sepertinya kejadian itu ada hubungannya dengan insiden tahun lalu. Insiden yang akhirnya membuat Senja memutuskan untuk menjauh dari hidup Kai.


“Hmm, tahun lalu tuh aku bikin kacau, Mas. Selama siaran dua jam aku cuma VO dua kali. Trus aku puterin lagu yang nggak sesuai sama list yang di kasih MD. Lagunya mellow semua ngikutin suasana hati aku. Duh, malu banget deh kalo dinget-inget, nggak profesional. Beberapa hari berturut-turut aku juga ngabarin nggak bisa siaran udah last minute, jadinya semua pada kocar-kacir nyari pengganti dan geser-geser jadwal biar nggak ada yang kosong.”


Kai terdiam mendengar penjelasan Senja. Dia yakin sekarang itu adalah kejadian tahun lalu. Kai tidak tahu selama ini kalau ternyata dampaknya pada diri Senja akan seperti itu.

__ADS_1


“Kenapa bisa gitu? Kamu kenapa?”


Tidak terdengar jawaban dari mulut Senja. Senyum tipis hadir selintas di bibir Kai. Ternyata Senjanya tidak berubah. Senja tidak akan dengan mudah menceritakan masalah pribadinya pada orang lain. Artinya, pemuda bernama Nuta itu tidak cukup dekat dengan Senja.


“Kacau banget pasti, ya?” Kai mendengar Nuta mencoba mengalihkan pembicaraan. Mungkin malu karena terlalu mencampuri privasi Senja padahal tidak cukup dekat untuk itu.


“Kacau, Mas. Untungnya Bapak cuma negur kayak tadi bahkan aku dikasih libur dua hari. Bikin aku makin malu nggak, tuh.”


Kai tercekat mendengar jawaban Senja. Apa tadi suasana hati Senja kacau lagi sehingga membuat siarannya berantakan? Bahkan sampai harus mendapat teguran lisan dari pimpinan radionya. Apakah penyebabnya adalah pertemuan dan pertengkaran mereka kemaren?


“Kalau aku udah di sini sih kayaknya aku bakalan scorsing dan potong gaji kamu, deh.”


“Ya ampun kejam banget sih, Mas.”


Sepertinya pemuda bernama Nuta itu adalah orang penting di radio Arshinta sehingga bisa membicarakan tentang pemotongan gaji. Tapi Kai tidak peduli itu.


Saat ini yang harus dipikirkan oleh Kai adalah bagaimana cara agar dia bisa mendapatkan maaf dari Senja. Bagaimana cara agar dia bisa memperbaiki lagi semuanya.


...****************...


Udah kelar siaran kan, Jha? Keluar bentar, ya. Abang tunggu depan gerbang.


Senja menatap pesan yang baru saja masuk ke aplikasi chatnya. Pesan dari Kai. Sudah satu tahun Senja tidak pernah lagi menerima pesan dari kontak Kai.


Senja menghela nafas dalam, menyiapkan hatinya untuk menghadapi Kai. Berhadapan dengan laki-laki itu selalu membuat mood dan emosinya naik turun. Mungkin karena perasaannya masih sama, perasaannya sama sekali belum berubah.


Tanpa membalas pesan singkat itu Senja langsung berjalan menuju gerbang depan kantor. Terlihat Kai sedang duduk di atas motornya. Menatap ke arah Senja yang berjalan mendekat.


“Naik, yuk,” ajak Kai begitu Senja sampai dihadapannya.

__ADS_1


“Mau kemana?”


“Naik aja dulu, Jha. Ntar kita pikirin mau kemana. Kita cari tempat buat ngomong yang enak.”


“Ini masih jam kantor, Bang. Aku masih ada kerjaan. Kalo mau ngomong di sini aja, atau cari waktu yang lebih tepat.” Sebenarnya pekerjaan untuk hari ini sudah selesai. Tapi Senja masih enggan berbicara dengan Kai. Dia merasa pembicaraan mereka nanti tidak akan ada gunanya. Tidak akan merubah keadaan.


“Kita makan aja kalo gitu, di resto seberang jalan juga boleh,” jawab Kai lagi, meskipun dia tahu Senja sudah makan barusan dengan laki-laki bernama Nuta atau entah siapa lah itu.


“Aku udah makan, lain kali aja.”


“Makan sama siapa?”


“Kenapa nanya?”


“Kenapa nggak boleh nanya?”


Senja menghela nafas dalam. Inilah yang paling tidak dia sukai ketika berbicara dengan Kai. Pembicaraan mereka seakan selalu menemui jalan buntu. Kai sama sekali tidak mau mengalah. Sama sekali tidak mau menurunkan egonya. Ujung-ujungnya mereka akan bertengkar lagi.


“Bang, aku tadi udah makan, jadi cari waktu lain kali aja. Nggak usah tanya aku makan sama siapa, karena itu bukan urusan kamu. Kamu bukan siapa-siapa. Dan hari ini aku sibuk, jadi nggak bisa kemana-mana. Kalo mau bicara, kita cari waktu lain yang lebih tepat.” Senja mencoba berbicara dengan nada lembut. Berusaha meredam emosi dalam-dalam.


“Tadi makan sama gebetan baru, ya? Siapa? GM baru, iya? Makanya kamu mau makan siang sama dia tapi nggak mau makan sama aku?” Emosi Kai mulai terpancing mendengar ucapan Senja barusan.


Kai paham bagaimana Senja. Saat gadis itu mulai berbicara dengan nada lembut padahal dia sedang emosi, itu berarti dia lelah dan tidak ingin memperpanjang urusan. Tapi hal itu justru memancing emosi Kai. Ego lelakinya justru tersentil, karena Senja lebih memilih untuk tidak berurusan dengannya.


“Kayaknya sekarang kamu lebih suka cowok-cowok mapan, ya. Selera kamu udah berubah. Kemaren si Bayu-Bayu itu, punya mobil kan, ya? Sekarang si Nata de Coco yang kayaknya atasan kamu itu, ya kan? Jadi aku harus punya mobil dulu nih buat ngajak kamu pergi? Atau aku harus jadi direktur dulu biar kamu mau berurusan lagi sama aku. Iya?”


Senja melotot mendengar semburan kata-kata Kai yang tidak disangka akan didengarnya. Tidak pernah terfikirkan Senja akan mendengar kata-kata semacam itu keluar dari mulut Kai. Ternyata selama ini Senja belum terlalu mengenal laki-laki itu.


“Iya, aku tahu kamu emang punya semua itu. Nggak usah pamer. Sana balik ke pelukan orangtua kaya kamu itu. Jangan recoki hidup aku lagi.” Senja mengehentakkan kaki, berbalik meningglkan Kai.

__ADS_1


Kai mengusap wajahnya gusar. Hatinya sedih melihat tatapan terluka di mata Senja barusan. Sungguh dia sama sekali tidak bermaksud menyakiti Senja lagi. Tapi yang terjadi dia malah kembali menoreh luka baru di hati Senja. Kata-katanya malah tidak sengaja menyentuh ranah yang menjadi alasan perpisahan mereka.


...****************...


__ADS_2