Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 27 Cinta yang Lain


__ADS_3

Ariana memperhatikan Senja menghapus air di sudut matanya. Dia pun melakukan hal yang sama. Entah apa yang mereka tertawakan sampai mengeluarkan air mata.


“Nah, gitu dong, ketawa. Ini kan hari ulang tahun lo. Paling nggak hari ini lo harus bahagia,” ucap Ariana tulus.


“Makasih ya, Ri. Lo emang selalu ngerti gimana gue.”


“Anytime,” jawab Ariana melambaikan tangannya dengan gaya cuek yang dibuat-buat, membuat Senja kembali tergelak. “Terus-terus, abis itu gimana? Lanjut dong ceritanya.”


Senja menceritakan semua yang dilakukan Kai untuknya hari itu. Tanpa satupun yang terlewat.


“Tumben si Kai romantis gitu. Bisa juga ternyata. Selama ini dia kemana aja. Harusnya dari dulu dia kek gitu sama lo. Secara punya banyak duit gitu, tapi malah bohong. Malesin banget.”


“Kok lo jadi mirip Maria ngomongnya, Ri?” Senja menyipitkan mata memandang Ariana.


“Abis gue kesel sama Kai. Kalo kaya mah kaya aja. Ngapaian malah pake rahasia-rahasiaan segala.”


“Ya udah sih, Ri. Itu kan urusan dia. Dia juga pasti punya alasan yang kuat untuk itu.”


“Jadi lo udah maafin kelakuan dia yang bohong selama tiga tahun sama lo?” tanya Ariana memastikan.


“Kayaknya hati gue udah ikhlas. Gue udah nggak kesel, udah nggak marah, udah nggak kecewa lagi sama dia.”


“Segampang itu lo maafin dia? Trus apa lagi yang bikin lo bingung bin galau?”


“Gue bahagia dengan semua perlakuan Kai ke gue hari ini. Gue bahagia, tapi gue nggak bisa bilang, gue nggak bisa tunjukin semuanya ke dia.”


“Kenapa?”


“Karena gue nggak mau dia berharap. Gue nggak mau dia punya harapan besar buat balik lagi sama gue.” Senja menunduk menatap jemarinya. Hatinya gamang.


“Lo segampang itu maafin kesalahan dia, berarti perasaan lo ke dia belum berubah. Terus kenapa? Apa yang begitu berat buat lo?”


“Gue sama dia terlalu jauh berbeda, Ri. Dia langit yang terlalu tinggi, sementara gue bumi yang cuma bisa melihat ke atas tanpa bisa ngapa-ngapain.”


Ariana diam mendengar apa yang diucapkan Senja. Dia bisa merasakan apa yang yang ada dalam hati sahabatnya itu.


“Gimana pun cintanya dia sama gue, jalan buat kita bersama nggak akan ada, Ri. Orang tuanya nggak akan setuju dia sama gue. Mereka pasti ingin pendamping yang setara buat anaknya, orang yang derajatnya sama.


“Kalaupun ada. Cara satu-satunya supaya kita bisa sama-sama adalah dia ninggalin keluarganya, dan gue nggak mau itu terjadi. Gue nggak mau jadi jurang yang memberikan jarak untuk anak dan orang tuanya. Gue nggak mau jadi pemisah antara anak dengan ibu yang melahirkannya.”

__ADS_1


Akhirnya Senja meluapkan kegamangan hatinya. Dia akhirnya mengungkapkan apa yang membebani perasaan dan pikirannya.


“Trus lo maunya gimana?”


“Gue pengen nggak usah ketemu lagi sama dia. Gue pengen dia nggak nemuin gue lagi. Tapi gue juga nggak bisa terus-terusan nolak kalo dia minta ketemu. Karena gue nggak tega, karena perasaan gue buat dia masih ada,” jawab Senja lirih, mencoba meredakan sesak di dadanya.


“Mungkin lo harus punya orang lain dulu di sisi lo supaya Kai berhenti berharap. Kalo udah ada orang lain di samping lo, mungkin dia akan berhenti berusaha buat bikin lo balik sama dia.


“Senja, gue sebagai teman, cuma mau yang terbaik buat lo. Gue mau lo bahagia. Jangan terus-terusan mempertahankan apa yang akan jadi beban buat lo.


“Kalo lo siap dengan segala resiko bersama Kai, lakukan. Tapi kalo lo nggak siap, mungkin ini saatnya lo kasih diri lo kesempatan buat menemukan dan menerima cinta yang lain.” Ariana menatap Senja yang masih menunduk dalam. Dia benar-benar hanya ingin sahabatnya itu bahagia.


Apakah ini memang saatnya aku melepaskan Kai sepenuhnya? Apakah ini saatnya aku harus belajar menerima orang lain untuk menggantikan dia?


...****************...


Ting!


Ting!


Ting!


Senja keluar dari kamar mandi dengan handuk membebat rambut di kepalanya. Jarum jam yang tergantung di dinding sudah menunjuk angka sebelas.


Hari ini sebenarnya dia ada jadwal siaran jam sembilan pagi. Tapi gadis itu menukar jadwalnya dengan Ariana. Dia akan menggantikan temannya itu siaran jam tujuh malam nanti.


Senja duduk di atas tempat tidur dan mengecek ponselnya. Ada banyak pesan dan notifikasi dari berbagai macam aplikasi terpampang di sana. Gadis itu mengecek pesan-pesan yang masuk ke ponselnya, ada beberapa pesan dari Kai dan Nuta.


Udah bangun, Jha? Siaran jam berapa hari ini? Mau Abang anterin? Pesan dari Kai yang dikirim jam 05.30 pagi.


Udah bangun, Jha? Mau sarapan apa? Abang anterin kesana, ya. Pesan dari Kai jam 08.00.


Kenapa hpnya nggak aktif, Jha? Ada masalah apa? Kalo butuh apa-apa kabarin Abang, ya.


Pesan terakhir dari Kai itu dikirim jam 10.30, tiga puluh menit sebelum ponselnya diaktifkan.


Senja memilih untuk mengabaikan semua pesan itu. Dia tidak ingin ragu lagi. Dia tidak akan lagi membiarkan harapan di hati Kai tumbuh. Walaupun mungkin hatinya belum akan bisa menerima cinta yang lain, tapi dia tidak akan memberi ruang lagi untuk Kai.


Alih-alih membalas pesan dari Kai, Senja memilih untuk membaca pesan yang dikirim oleh Nuta.

__ADS_1


Kata Ari kamu nggak enak badan ya, jadi nggak bisa siaran pagi ini. Sakit apa? Udah ke dokter?


Dasar Ariana, Senja sudah berpesan untuk mengatakan dia ada keperluan, makanya tidak bisa siaran pagi. Tapi temannya itu malah memberikan alasan lain.


Aku nggak apa-apa kok, Mas. Udah baikan. Maaf nggak langsung lapor ke Mas Nuta soal jadwal siaran.


Send. Senja membalas pesan Nuta, kemudian meletakkan ponselnya kembali di atas kasur.


Gadis itu berjalan ke arah lemari, mencari pakaian untuk mengganti kaos pendek tipis dan celana pendek yang dipakainya saat ini. Senja berniat keluar, mencari makanan.


Dia memang tidak terbiasa menggunakan pakaian yang terlalu pendek untuk keluar rumah. Meskipun sehari-hari belum menggunakan penutup kepala, tapi Senja selalu mengusaha menggunakan pakaian tertutup saat keluar.


Drrttt


Ponsel di atas tempat tidur bergetar, ada telpon masuk.


“Halo, Mas,” sapa Senja begitu meletakkan ponselnya di telinga.


“Iya. Tunggu bentar ya, Mas.” Senja menjawab setelah mendengar jawaban dari ujung sana.


Kemudian meletakkan ponselnya lagi dan bergegas mengganti pakaiannya. Setelah selesai dengan pakaian, Senja bergegas melepas handuk di kepalanya. Menyisir rambut dengan tergesa, lalu menyapukan compact powder tipis ke wajahnya. Terakhir mengulas lipstik berwarna nude di bibirnya.


Senja memastikan sekali lagi penampilan di cermin. Setelah merasa puas, dia bergegas menuju pintu, tidak lupa sebelumnya menyambar ponsel di atas tempat tidur.


Senja bergegas keluar menemui Nuta yang tadi menelpon untuk mengabarkan kalau dia sudah berada di depan kosan.


...****************...


...Waah.. Arah angin mulai berubah nih kayaknya 🤭...


...Ada tim Senja-Nuta nggak nih?...


...Ikutin yerus kisahnya yaa, guys.....


...Jangan lupa juga dukungannya....


...Like dan komen yang banyak, yaaa......


...🤗🤗...

__ADS_1


__ADS_2