
“DIAM!! DIAM KALIAN BERDUA!! KALIAN SAMA AJA!!”
Senja berteriak di antara dua laki-laki yang sudah siap untuk saling memukul. Hanya pelukan Senja di tubuh Kai yang menjadi penghalang mereka.
“Apa-apaan pake acara berantem segala, udah kayak anak kecil.” Senja membalik badannya menghadap Nuta, tapi tangannya masih menahan tubuh Kai agar tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
“Dia udah kasar sama kamu, makanya ….”
“Si breng**k nggak tau diri kayak dia ….”
Kai dan Nuta menjawab ucapan Senja bersamaan. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang ingin kalah atau mengalah.
“Udah deh, jangan mulai lagi. Aku pulangnya ikut mobil kantor, itu udah ditunggu sama Bang Nino dan teman-teman yang lain. Kamu pulang aja, Bang. Mas Nuta juga langsung pulang aja.” Senja berbicara dengan tegas pada dua orang yang masih saja menatap dengan tatapan permusuhan itu.
“Kamu pulang sama aku, Jha. Aku nggak mau kamu pulang sama cowok nggak jelas dini hari gini.” Kai masih saja bersikeras untuk mengantar Senja pulang.
“Aku sama teman-teman, Bang, ikut mobil kantor.”
“Kamu pulang sama aku. Titik.” Kai mulai menarik tangan Senja lagi agar mengikuti langkahnya.
Nuta melangkah mendekati Senja, menepis tangan Kai sehingga genggamannya pada tangan gadis itu terlepas. Lalu menggantikan memegang pergelangan tangan gadis itu.
“Senja ikut gue,” bentak Nuta pada laki-laki yang menatapnya dengan tatapan yang seolah akan menerkamnya itu.
Melihat tangan Senja digenggam oleh Nuta, Kai tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Kendali dirinya habis sudah.
Dengan dua langkah panjang dia sudah berada di depan Nuta. Sebelum laki-laki di depannya itu menyadari gerakannya, Kai sudah melayangkan dua pukulan di pipi kirinya. Menyusul kemudian pukulan tangan kiri bersarang di perut, membuat Nuta terjengkang seketika.
“Bang Kai!! Udah, Bang!! Tolong …!!” teriak Senja.
Senja berusaha menahan Kai dengan memeluknya. Tapi kali ini laki-laki itu sepertinya memang berniat menghajar Nuta. Senja tidak mampu lagi menahan tubuh Kai yang terus merangsek menuju lawannya yang masih terduduk di tanah.
Sekali lagi Senja berteriak minta tolong. Landasan Udara itu memang sudah mulai sepi, hanya tersisa segelintir yang masih ada di sana.
Perkelahian ini harus dihentikan. Senja tidak tahu bagaimana kemampuan bela diri Nuta. Tapi yang pasti Senja tahu bagaimana Kai. Laki-laki itu adalah pemegang sabuk hitam taekwondo, walaupun sudah jarang berlatih beberapa tahun belakangan. Tetap saja, dengan kemampuannya, kalau dibiarkan, dengan mudah Kai akan membuat Nuta terkapar.
Beberapa orang tergopoh menghampiri begitu menyadari apa yang terjadi. Beberapa di antara mereka adalah teman-teman Kai yang datang ke sana dalam satu rombongan.
Angga yang sampai paling dulu, langsung memegang tubuh Kai dari belakang, mengunci lengannya dari bawah agar tidak leluasa bergerak
Begitu memastikan Kai tidak bisa lagi merangsek maju, Senja bergegas menghampiri Nuta, membantunya berdiri.
"Mentari Senja, kalo kamu ikut dia pulang. Aku pastiin besok si breng**k itu berakhir di rumah sakit,” teriak Kai. Emosinya kembali memuncak melihat Senja memegang lengan Nuta dan membantunya berdiri.
“Maaf ya, gara-gara aku Mas Nuta jadi terluka.”
__ADS_1
“Nggak pa-pa kok, Jha. Ayo kita pulang.”
Senja menggeleng. “Mas Nuta duluan aja. Aku mau bicara dulu sama Kai. Tolong titip pesan sama Bang Nino, kalo dalam sepuluh menit aku nggak nyusul ke parkiran, berarti aku pulang sama Kai.”
“Tapi ….”
“Nggak apa-apa, Mas. Tenang aja. Mas Nuta duluan aja.” Senja mencoba tersenyum meyakinkan.
Akhirnya Nuta mengikuti keinginan Senja. Dia berjalan meninggalkan tempat itu, melangkah menuju parkiran.
Setelah Nuta menjauh, Senja berbalik menghampiri Kai yang masih berada dalam kuncian Angga.
“Kamu ngotot pengen nganterin aku pulang, karena ada yang mau kamu omongin, kan? Kalo kamu janji nggak emosi lagi, ayo kita bicara. Tapi kalo kamu bakalan kayak tadi lagi, aku mau pulang aja,” ucap Senja tegas, menatap Kai tepat di matanya.
“Lepasin, Ngga. Gue mau bicara sama Senja.” Kai berbicara pada Angga.
“Nggak pa-pa, Jha?” tanya Angga pada Senja, ingin memastikan.
“Nggak apa-apa, Bang. Makasih ya udah bantuin.”
Angga hanya mengangguk, kemudian melepaskan kunciannya pada Kai, dan berlalu dari sana.
Senja menatap Kai yang juga menatap dirinya, tapi bukan menatap matanya. Mata Kai tertuju pada leher Senja. Gadis itu tau apa yang menjadi penyebab emosi Kai meledak.
“Kalungnya mana?” tanya Kai tanpa basa-basi.
“Ada di rumah, aku simpan baik-baik di dalam kotaknya.”
“Kenapa nggak dipake?”
“Karena aku nggak mau.”
“Jelasin,” perintah Kai. Dia masih berusaha mengontrol emosinya.
“Aku nggak mau pake kalungnya, karena aku nggak mau ada apa-apa lagi di antara kita. Urusan kita udah selesai. aku udah pernah bilang, kita jalani hidup masing-masing aja.”
“Gelang dari si breng**k itu kamu pake. Berarti kamu lebih pilih dia, iya?”
"Siapapun yang akan bersama aku nanti, itu bukan urusan kamu lagi, Bang."
"Kamu kenapa sih, Jha? Kenapa tiba-tiba jadi gini? Kemarin-kemarin kamu masih baik-baik aja. Si breng**k itu yang nyuci otak kamu, iya?"
"Bang Kai, jangan selalu menyalahkan orang lain untuk setiap hal yang nggak sesuai sama keinginan kamu. Itu kebiasaan yang nggak baik. Nggak semua hal akan selalu berjalan sesuai keinginan kamu. Dunia nggak cuma berputar untuk kamu."
"Apa sih, Jha?"
__ADS_1
"Kamu tanya kenapa aku berubah? Aku nggak berubah. Dari awal kita ketemu lagi setelah setahun berpisah, aku nggak pernah mau berhubungan lagi sama kamu. Tapi kamu yang selalu maksa, kamu maunya aku selalu ikut keinginan kamu.
"Kamu tiba-tiba datang ke kosan, terus ngajak pergi. Kamu tiba-tiba udah di depan kantor, trus ngajak pergi. Aku nggak pernah bisa bilang enggak. Harus selalu ikut kemauan kamu.
"Sejujurnya, aku capek sama sifat kamu yang satu itu. Kali ini aku benar-benar nggak mau lagi. Tolong lepasin aku Kai. Tolong biarin aku melangkah menjalani hidupku, tanpa kamu di dalamnya.
"Ini juga saatnya kamu untuk meneruskan langkah, mengejar apapun yang kamu mau. Jangan terus terpaku ke masa lalu. Semua tentang kita udah usai satu tahun lalu. Jangan dipaksakan lagi, karena hanya akan menyakiti kita berdua, menyakiti aku dan kamu.
"Aku sayang sama kamu, tapi itu dulu. Sekarang semua udah berubah. Aku udah nggak punya perasaan apa-apa sama kamu. Aku harap kamu bisa ngerti. Tolong hargai keinginan aku sekali ini aja. Aku nggak mau ada kamu lagi dalam hidupku," ucap Senja.
Kalimat panjang yang dilontarkan Senja dengan nada lembut itu membuat Kai terdiam. Apa yang diucapkan Senja memang benar. Memang dia yang selalu memaksakan kebersamaan mereka belakangan.
"Kenapa, Jha? Kasih aku alasannya," tanya Kai lirih. Tidak tau lagi bagaimana mengungkapkan perasaannya yang tercabik ditusuk kalimat-kalimat Senja.
"Karena semua tentang kita udah selesai, Bang. Perasaan aku ke kamu sama sekali udah nggak ada. Nggak ada alasan lain, cuma itu. Kamu tau kan, semua tentang perasaan, tentang hati, nggak akan pernah bisa dipaksakan.
"Aku juga nggak mau kamu terus-terusan terpaku sama masa lalu. Udah saatnya kamu fokus sama hidup kamu. Nanti di saat yang tepat, aku yakin akan datang yang terbaik di hidup kamu. Seseorang yang layak kamu perjuangkan."
Kai terdiam. Kata-kata Senja seolah menjadi air dingin yang memadamkan semangatnya untuk memperjuangkan hubungan mereka. Mematahkan sesuatu di dalam hatinya.
"Aku pergi dulu ya, Bang. Selamat tinggal." Senja berlalu meninggalkan Kai yang terpekur dalam diam.
Kai tertunduk, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Semua tentang mereka benar-benar selesai detik ini. Gadis yang sangat dicintainya menginginkan itu.
Tidak ada lagi Senja dalam hidupnya. Senja sudah pergi, Senjanya sudah pergi.
Selamat tinggal. Semoga kamu bahagia.
...****************...
...Huhu... 😢 Karam sudah kapal Senja-Kai 😭...
...Ada yang ikutan sedih?...
...Atau malah bahagia?...
...Kira-kira kelanjutannya gimana yaa??...
...Apakah kapal Senja-Nuta akan berlabuh??...
...Ikuti terus kisahnya ya, Guys.....
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, share dan komen yang banyak yaa.....
...Terima kasih semuanya.. 🤗🤗...
__ADS_1