
Senja menghempaskan dirinya di atas kasur. Tubuhnya masih terbalut dress panjang warna hitam yang tadi siang diberikan Nuta untuk dipakainya. Bahkan high heels setinggi lima sentimeter yang tadi dikenakan masih terpasang di kakinya.
Begitu memasuki kamar kos dengan ukuran empat kali empat meter ini, yang pertama kali dilakukannya adalah menghempaskan diri di kasur. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini.
Tubuhnya teramat lelah. Lebih lagi hati dan pikirannya, digelayuti lelah yang teramat sangat.
“Makasih, ya, Jha, udah kasih aku kesempatan buat masuk ke dalam hidup kamu. Aku janji akan bantu kamu buat menerima kehadiran aku. Aku akan bantu sekuat yang aku bisa, agar kamu mencintai aku sepenuhnya. Makasih, Sayang. I love you.”
Itu kata-kata yang tadi diucapkan Nuta ketika mereka dalam perjalanan pulang. Senja memang tidak memberikan jawaban atas permintaan Nuta untuk memberinya kesempatan. Tidak mengiyakan, juga tidak menolak. Hanya diam.
Lalu Nuta? Dia mengartikan kebisuan Senja sebagai penerimaan.
Drrrttt
Getaran ponsel menarik Senja dari keruwetan pikirannya.
“Halo.”
“Aku udah nyampe rumah, Sayang. Kamu lagi ngapain?” Ternyata penelpon di ujung sana adalah Nuta.
“Baru mau mandi nih, Mas,” jawab Senja sekenanya.
“Dari tadi ngapain aja?”
“Istirahat dulu, capek.”
“Ya udah, kamu mandi, gih. Abis itu jangan lupa makan, ya. Kayaknya makanan yang tadi belum bakalan dingin sampe kamu selesai mandi. Abis itu istirahat, ya,” pinta Nuta dengan nada lembut.
“Iya, Mas.”
“Makasih, ya, udah kasih aku kesempatan buat jadi pacar kamu. Aku akan buktiin pilihan kamu nggak salah. Aku akan kasih semua yang terbaik buat kamu. Aku sayang kamu, Mentari Senja.”
Nuta menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Senja. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Tarikan nafasnya terasa berat, seolah oksigen enggan memasuki rongga dada, menciptakan sesak yang menghimpit.
Ini kali kedua Nuta mengucapkan terima kasih dan mengungkapkan betapa bahagianya dia dalam dua jam terakhir.
Lalu aku harus bagaimana?
***
Bunyi alarm membangunkan Senja dari tidurnya yang sama sekali tidak lelap. Jam lima pagi. Dia harus segera bangun, shalat subuh lalu bersiap untuk berangkat kerja. Hari ini dia ada jadwal siaran pagi, jam enam.
Senja mencoba duduk, tapi kepalanya terasa berat dan berdenyut. Diikuti sakit yang membuat matanya seolah akan melompat keluar. Sekali lagi gadis itu mencoba mendudukkan badannya, tapi kepalanya benar-benar tidak bisa dibawa bergerak. Begitu tubuhnya bergerak, rasa sakit yang menusuk di kepalanya juga ikut bergerak.
__ADS_1
Tubuhnya juga tiba-tiba merasa kedinginan. Padahal pendingin ruangan tidak dihidupkan dari tadi malam. Senja menarik selimut di ujung kaki, menyelimuti tubuhnya yang mulai menggigil.
“Halo.” Jawaban dengan suara serak khas orang bangun tidur terdengar di ujung telpon.
Senja yakin kondisinya tidak bisa dipaksakan untuk tetap siaran pagi ini. Jadi dia menelpon Nuta untuk mengabarkan. Memang tidak seharusnya dia langsung menghubungi GM. Tanggung jawab untuk setiap sesi siaran tentu ada pada masing-masing Program Director. Tapi dia merasa tidak enak jika harus menelpon PD-nya itu sepagi ini. Maka pilihan yang tersisa, adalah menelpon Nuta.
“Halo, Jha. Kenapa, Sayang?” Kembali terdengar sapaan dari ujung sana, karena tidak ada jawaban untuk sapaan sebelumnya.
“Mas ….” Senja berhenti sebelum kata-kata keluar dari mulutnya. Sakit di kepalanya kembali menusuk.
“Kenapa, Sayang? Kamu kenapa?” Suara di seberang sana terdengar mulai siaga, jejak kantuk dalam suaranya sudah hilang sepenuhnya.
“Mas, kepala aku tiba-tiba sakit banget. Kayaknya aku nggak sanggup siaran pagi ini. Tolong hubungi PD ya, Mas. Aku nggak enak telpon dia pagi-pagi buta gini.”
“Kamu nggak apa-apa? Kepalanya sakit banget? Aku jemput sekarang, kita ke dokter, ya?”
Senja menggelengkan kepala sebagai penolakan, sakit di kepalanya juga ikut bergerak. “Nggak usah, Mas. Bantuin ngurus soal siaran aja. Aku mau tidur lagi. Nanti bangun biasanya juga udah baikan.”
“Ya, udah. Kamu tidur lagi aja. Soal siaran nggak usah dipikirin.”
“Iya. Makasih, ya, Mas” Senja meletakkan ponselnya di atas kasur. Kemudian kembali melanjutkan tidurnya. Berharap saat bangun nanti. Kepalanya sudah tidak sakit lagi.
...****************...
Senja terbangun karena perutnya melilit. Dia melirik jam di dinding kamar, pukul sepuluh pagi. Memang sudah patut perutnya meminta hak, karena dari kemarin siang belum ada makanan apapun yang masuk ke perutnya. Semalam dia langsung tidur setelah mandi dan mengganti pakaian.
Untuk keluar membeli makanan, Senja belum sanggup. Sakit yang menusuk di kepalanya masih belum hilang sepenuhnya. Gadis itu mengambil ponselnya untuk memesan makanan lewat aplikasi.
5 panggilan tidak terjawab
Senja membuka notifikasi yang tampil begitu dia membuka kunci layar ponsel pintar itu. Lima panggilan tidak terjawab itu ternyata semua dari nomor Nuta. Laki-laki itu pasti mengkhawatirkannya. Senja memutuskan untuk menelpon kembali nomor itu dan langsung diangkat pada deringan pertama.
“Halo, kamu gimana , Sayang? Udah baikan? Kepalanya masih sakit?” Pertanyaan beruntun Nuta menjadi pembuka percakapan.
“Udah agak baikan, Mas. Maaf, ya, tadi telponnya nggak keangkat, aku ketiduran.”
“Nggak apa-apa, kok? Kamu laper? Sarapan bubur mau?”
“Iya, laper, nih, Mas. Nanti begitu telponnya ditutup, aku pesan makanan via aplikasi aja.”
“Kamu bisa jalan? Ambil makanan ke depan, bisa?”
“Hah?! Ke depan mana, Mas?”
__ADS_1
Terdengar tawa Nuta dari seberang sana. Menertawakan keterkejutan Senja.
“Aku di depan kosan kamu, Sayang. Ini aku udah bawain bubur ayam buat sarapan kamu. Kamu bisa jalan ke depan?”
“Bisa kok, tunggu bentar, ya.”
Senja bergegas ke kamar mandi begitu telpon ditutup. Membersihkan diri kemudian mengganti pakaiannya dengan celana panjang dan kaos longgar. Sama sekali tidak merasa perlu memoles compact powder dan make up di wajahnya.
“Buburnya udah dingin, nggak apa-apa kan?” Nuta menyerahkan kantong berisi dua kotak styrofoam berisi bubur ayam begitu Senja sampai di hadapannya.
“Dari jam berapa di sini, Mas? Maaf, ya, tadi aku ketiduran.”
“Dari jam enam,” jawab Nuta dengan senyum terukir di bibirnya.
“What?! Dari jam enam? Maaf, ya, Mas.” Senja kaget dan merasa bersalah sekaligus. Dia tidak menyangka, laki-laki itu akan menunggunya selama itu.
“Duduk dulu, deh, Mas. Kita makan, ya. Kamu juga pasti belum sarapan, Kan?”
Nuta hanya tersenyum sebagai jawaban. Laki-laki itu melangkahkan kaki mengikuti Senja menuju kursi rotan panjang dengan meja kayu di teras rumah kos itu. Nuta duduk, mengamati Senja yang sibuk mengeluarkan kotak styrofoam dan menatanya di meja. Kemudian gadis itu masuk ke dalam, dan keluar lagi dengan membawa sendok dan gelas, serta air putih dalam botol ukuran besar.
“Mau minuman hangat, Mas? Teh atau kopi?”
“Nggak usah, Sayang. Kamu duduk aja, langsung makan. Biar cepat sembuh. Kepalanya masih sakit?”
Senja membalas tatapan Nuta yang sedari tadi dia tahu terus menatapnya. Ada sedikit haru menyeruak di hatinya. Nuta begitu perhatian, begitu mengkhawatirkannya. Terlihat jelas rasa cintanya yang begitu besar.
Apakah Nuta dan perhatiannya pada akhirnya akan bisa meluluhkan hati Senja?
...****************...
...Uluh-uluh .... Cara Nuta mencintai Senja sweet banget yaa..🥰...
...Perhatiannya bikin meleleh....
...Bahagia pasti, ya, kalo punya pasangan kayak Nuta?...
...Senja bahagia juga nggak, ya?...
...Pensaran, kan? Penasaran, kan?...
...Tungguin terus kelanjutan kisahnya, ya....
...Jangan lupa jejaknya, Guys....
__ADS_1
...Like, share dan komen yang banyak....
......❤️❤️❤️......