Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 56. Tentang Senja


__ADS_3

“Kirim makanan apa, Jha? Aku nggak ngerti, loh, maksud kamu.” Jawaban Kai di seberang sana terdengar sangat santai.


Mendengar jawaban dari Kai membuat Senja semakin yakin, si pengirim makanan tanpa nama memang laki-laki itu. Senja menarik nafas dalam. Percakapan dengan Kai terkadang memang sangat menguras emosi.


“Nggak usah pura-pura nggak tau, Bang. Dari pilihan makanan dan restonya aja aku yakin kamu yang kirim. Bener, kan?” Senja melanjutkan bertanya.


“Nah, itu kamu tau. Cuma aku yang paling paham semuanya tentang kamu. Kenapa kita nggak coba lagi sih, Jha?” Jawaban Kai dari seberang sana seakan ingin memancing emosi Senja.


“Jadi bener kamu, kan?” Senja kembali memastikan.


“Hmm.”


“Makasih, ya, Bang, buat kiriman bunga dan makanannya beberapa hari ini. Tapi aku harap besok kamu nggak ngelakuin itu lagi. Besok jangan kirim-kirim apa-apa lagi,” tegas Senja.


“Kenapa nggak boleh? Aku kan cuma mau mastiin kamu tetap makan walau sesibuk apa pun.” Suara Kai masih terdengar santai.


“Tanpa kamu ingetin dan kirim makanan gitu, aku akan tetap makan kok. Kalo kelakuan kamu kayak gitu, jatuhnya bukan perhatian, tapi jadi kayak penguntit.”


“Penguntit gimana sih, Jha? Mana ada penguntit modelannya kayak Abang gini.”


“Kamu bisa tahu kita ada berapa orang di sini. Dan itu dua atau tiga kali sehari. Itu apa namanya kalo bukan penguntit. Stalker?” Senja mulai sedikit terpancing emosinya.


“Hmm. Stalker lebih oke sih. Tapi lebih tepatnya ‘secret admirer’. Bagus kan?” Sepertinya Kai memang sedang ingin bermain-main dengan Senja.


“Terserah kamu. Maaf aku nggak punya waktu buat ngeladenin kamu. Mulai besok jangan kirim apapun lagi. Kamu bikin kita semua nggak nyaman. Dan aku harap kamu tarik siapapun itu yang kamu kirim buat memata-matai aku. Atau aku akan buat laporan. Meskipun akan sia-sia. Karena orang kayak kamu nggak akan tersentuh oleh hal-hal remeh seperti itu.”

__ADS_1


“Jha, aku cuma mau dukung kamu. Apa itu salah? Aku nggak bisa ada di samping kamu, karena kamu nggak kasih ruang untuk itu. Jadi cuma itu yang bisa aku lakuin. Aku cuma mau mastiin kamu tetap makan walau sesibuk apapun. Apa itu juga salah?” Kali ini jawaban Kai terdengar serius.


“Yang salah itu cara kamu, Bang.” Senja menghembuskan nafas lelah.


“Iya, dan aku minta maaf buat itu. Aku nggak akan kirim orang buat mantau kegiatan kamu lagi. Padahal aku ngelakuin itu buat mastiin kamu aman. Buat mastiin nggak ada preman atau siapapun itu yang ganggu persiapan kantor kamu.” Nada suara Kai terdengar memelas. Sepertinya sesuatu juga membuatnya lelah.


“Makasih, aku hargai niat baik kamu. Tapi mulai besok nggak usah lagi, ya. Lingkungannya aman kok. Dan lagi ada Bhumi juga di sini. Jadi nggak usah kirim orang buat jagain lagi. Dan nggak usah kirim apapun lagi. Aku tutup, ya. Bye.” Senja memutuskan sambungan begitu selesai mengucapkan kata terakhir. Dia merasa tidak perlu lagi menunggu jawaban Kai.


Senja sendiri tidak paham dengan apa yang dia rasakan saat ini. Entah apa yang membuat dia begitu kesal. Entah karena Kai seolah memata-matai semua aktivitasnya. Atau karena Kai mengirim makanan tanpa menunjukkan identitasnya.


...****************...


Tok!


Tok!


Tok!


“Permisi, Pak. Bapak sudah baca email yang saya forward?”


“Sudah. Kenapa? Ada masalah?”


Lusi menelan ludah, sepertinya suasana hati bosnya sedang tidak baik. Dia harus menjawab dengan hati-hati agar tidak menjadi sasaran kemarahan laki-laki muda yang sudah menjadi atasannya selama lebih dari satu tahun ini.


“Hmm. Itu, Pak, saya cuma mau tanya, apa saya perlu kirim karangan bunga sebagai ucapan selamat?” Lusi bertanya hati-hati.

__ADS_1


“Nggak usah. Kamu boleh keluar.” Kai menjawab dengan nada kesal.


“Baik, Pak. Permisi.” Lusi bergegas menuju pintu.


“Lusi. Kirim aja, deh. Kirim karangan bunga atas nama kantor aja. Dan kirim satu buket bunga baby breath atas nama saya. Cukup nama, nggak usah pakai kartu ucapan.” Kai mengubah keputusan sebelum sekretarisnya meninggalkan ruangan.


“Baik, Pak. Segera saya laksanakan. Permisi.”


Kai menyugar rambutnya yang memang sudah agak sedikit kusut. Dari tadi dia berkali-kali melakukan hal itu, berharap bisa sedikit mengurai kerumitan pikirannya. Mata dengan manik hitam itu kembali menatap layar di depannya yang masih menampilkan email yang di-forward oleh Lusi.


Email itu berisi laporan dari Dion tentang Senja yang hari ini meresmikan pembukaan kantor barunya. Ada beberapa foto yang dilampirkan dalam email itu. Foto ruko dua lantai yang sudah berubah menjadi kantor Loqui Ent. dan sudah didekorasi sedemikian rupa. Tentu lengkap dengan tenda dan segala peralatan untuk acara peresmian.


Foto lainnya menampakkan Senja yang berdiri di depan pita yang terpasang di pintu kantor barunya. Gadis itu terlihat cantik mengenakan setelah blazer berwarna lilac. Rambutnya yang sudah memanjang melewati bahu digelung ke atas dengan model messy bun yang terlihat berantakan tapi sangat manis. Sangat cocok dengan gadis itu. Wajahnya juga terlihat memakai riasan simpel, dengan lipstik warna nude yang menjadikan wajah manis itu semakin cantik di mata Kai.


Dalam foto terlihat Senja sedang menunjuk sesuatu, mungkin memberi instruksi pada seseorang. Foto candid itu menampilkan pesona Senja, begitu sempurna di mata Kai. Menurut laporan dalam email yang dikirim Dion, acara peresmian Loqui Ent. akan dimulai satu jam lagi.


Hal itulah yang membuat Kai menyugar rambutnya berkali-kali semenjak membaca email laporan itu. Jika mengikuti keinginan hatinya, Kai ingin sekali datang kesana. Menemui Senja, memberi selamat atas kesuksesannya, dan menemaninya melewati kebahagiaan atas pencapaian baru dalam hidupnya.


Tapi kalau dia melakukan itu, mungkin Senja akan marah lagi karena menyadari Kai masih saja mengirim orang untuk memata-matai segala kegiatannya. Kemarahan Senja tentu akan merusak kebahagiaannya hari ini. Dan mungkin akan membuat gadis itu semakin membangun dinding pemisah di antara mereka.


Segala sesuatu tentang Senja memang selalu membuat pikiran Kai kacau. Membuat dia menjadi seperti baling-baling yang berputar mengikuti arah angin. Sering berubah pikiran, seperti remaja galau yang baru merasakan jatuh cinta.


Terkadang dia yakin untuk merelakan. Membiarkan kisahnya dan Senja berjalan sesuai alur takdir. Memasrahkan kemana takdir akan mengarahkan cintanya yang tidak pernah usai.


Lain waktu, keyakinannya akan kembali berubah. Dia yakin harus berusaha sekuat tenaga agar Senja kembali ke pelukannya. Bahkan terkadang dia melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

__ADS_1


Semuanya selalu tentang Senja. Gadis itu seolah menjadi hantu yang selalu membayangi segala hal dalam hidupnya. Semoga suatu saat nanti, pada saat yang tepat, takdir akan berbaik hati memberi jalan untuk mereka.


...****************...


__ADS_2