Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 3 Ada Yang Lain?


__ADS_3

“Woy, Kai!! Kesambet nih anak apa ya. Dari tadi diajakin ngomong nggak nyahut. Malah bengong aja kayak kambing congek.” Angga berteriak di telinga Kai sambil menepuk pundaknya dengan keras.


“Apaan deh, Ngga. Bisa budek nih telinga gue.” Kai menjawab teriakan teman seprofesinya itu dengan nada kesal.


“Lo yang apaan. Dari tadi diajakin ngomong, malah bengong aja. Liatin apa sih lo?”


“Tuh,” jawab Kai singkat sambil menunjuk dengan dagunya ke arah depan.


“Oh, lagi lihatin Senja. Gue heran ya, Kai. Nggak ngerti gue sama jalan pikiran lo. Ngapain Cuma dilihatin, samperin sono. Udah satu tahun kelakuan lo kayak gitu. Bosen gue.” Angga memang tidak habis pikir dengan Kai yang selama satu tahun belakangan ini hanya mengamati Senja dari jauh. Padahal Angga sangat tahu bagaimana perasaan temannya itu.


“Kan udah gue bilang, gue lagi kasih dia ruang. Gue kasih dia waktu supaya sakit hati dan kecewanya sembuh dulu,” jawab Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari Senja di depan sana yang masih sibuk dengan kerjaannya.


Mereka sedang berada di lokasi Job Fair yang diselenggarakan di lobi sebuah hotel ternama di kota ini. Acara tahunan yang selalu menarik banyak pencari kerja setiap kali diadakan. Tahun ini sepertinya EO (Event Organizer) kantor Senja yang jadi penganggung jawab acaranya.


Sementara Kai bertugas meliput acara ini. Dunia kerja mereka memang akan selalu bersinggungan. Kai sebagai jurnalis dan Senja sebagai penyiar radio sekaligus tim EO, bisa dibilang berkecimpung dalam dunia yang sama, dunia media.


“Satu tahun lo cuma mengamati dari jauh. Menghindar saat hampir berpapasan, padahal dunia kerja kita tuh sempit. Menurut gue, Kai, lo bukan memberi Senja ruang. Tapi lo melarikan diri. Sama aja lo pengecut.” Kata-kata Angga sepertinya sedikit mengusik perasaan Kai. Akhirnya dia menatap lawan bicaranya.


“Gue cuma kasih dia ruang. Kasih dia waktu. Nanti ada saatnya gue temuin dia lagi.” Kata-kata Kai lebih seperti omongan untuk dirinya sendiri.


“Banyak alibi lo. Kasih ruang itu cuma beberapa hari, Bro. Bukan tahunan. Ntar ada cowok lain yang bikin dia nyaman, baru nyahok lo.”


Kai hanya diam menanggapi kalimat Angga. Pandangannya kembali mengamati Senja dengan segala kesibukannya.


“Males banget ngomong sama nih anak. Ngomong dikit, bengong lagi. Gue cabut dulu. Mau balik kantor.” Angga melangkah meninggalkan Kai yang hanya diam tidak menanggapi.

__ADS_1


Kata-kata Angga barusan sedikit mengusik perasaan Kai. Benarkah dia hanya sedang melarikan diri? Benarkah dia seorang pengecut yang tidak mampu menghadapi masalah lalu memilih menjauh dengan dalih memberi Senja ruang?


Seperti itu juga kah tanggapan Senja? Apa karena itu saat tadi dia mencoba menyapa, tanggapan Senja begitu dingin, bahkan terlihat membenci dirinya?


Kai masih sibuk dengan pikirannya saat tiba-tiba di depan sana dia lihat seorang pemuda tinggi berkaca mata mengahampiri Senja. Mereka terlihat sedang bercakap-cakap dengan akrab. Senja bahkan tersenyum ramah pada laki-laki itu. Senyum yang sudah lama tidak diberikan oleh Senja untuk Kai.


Seketika darah Kai naik ke kepala saat melihat Senja mengambil tas, pamit pada teman-temannya dan berjalan beriringan dengan laki-laki itu. Sepertinya mereka akan pergi dari sana.


Kai langsung berjalan menghampiri mereka. Saat itu juga hati dan pikirannya memutuskan untuk tidak lagi menjauh dari Senja. Sudah cukup dia memberi ruang bagi Senja untuk mengobati lukanya selama ini.


Sekarang tidak lagi. Dia tidak akan jadi pengamat lagi. Dia tidak akan pernah rela jika benar-benar ada orang lain yang membuat Senjanya nyaman. Dia tidak rela ada orang lain yang berjalan bersisian dengan Senja, Senjanya.


...****************...


“Mentari Senja.” Deg! Suara itu lagi. Senja memejamkan matanya sejenak. Bersiap menghadapi entah apapun itu. Sebenarnya dia ingin pura-pura tidak mendengar dan segera berlalu dari sana. Tapi si pemilik suara sudah berdiri di depannya.


“Oh, iya. Kenalin, gue Bayu.”


“Kai,” jawab Kai singkat menyambut uluran tangan di depannya.


“Kamu udah janjian mau pulang sama Kai ya, Jha? Kenapa nggak bilang? Kita makan lain kali aja kalo gitu. Aku duluan, ya, nanti aku hubungi kamu lagi.” Bayu menatap Senja sambil tersenyum. Kemudian menganggukkan kepalanya ke arah Kai dan berlalu dari sana.


Senja hanya tersenyum, tidak menjawab apapun pada Bayu. Tidak sempat menjelaskan apapun. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Kai. Apa maksud semua ucapan dan tingkah laku Kai barusan.


Kai masih diam. Mengamati Bayu yang berjalan menjauh. Sepertinya dia tahu bagaimana perasaan laki-laki itu pada Senja. Terlihat jelas dari tatapan matanya. Dan Kai tidak akan memberi ruang untuk itu.

__ADS_1


“Kamu mau kemana, pulang, balik ke kantor atau mau makan dulu? Makan dulu aja kali, ya. Abang juga laper, nih.” Kai mencoba mencairkan suasana dengan mangajukan pertanyaan beruntun. Hatinya sedikit kecut mendapati tatapan mata Senja yang seperti ingin menamparnya.


“Apa-apan sih kamu?!” Nada suara Senja begitu datar dan dingin.


“Mau nganterin kamu lah, apalagi. Kita makan dulu aja deh, ya. Laper.” Kai tahu jawabannya akan memancing emosi Senja. Dia sangat paham dengan watak gadisnya itu. Tapi dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena Kai juga bingung dengan tindakannya barusan. Bertindak seperti pacar yang cemburu, padahal mereka sudah putus selama satu tahun.


“Apa kata-kata aku tadi kurang jelas? Aku bilang nggak usah hubungi atau temui aku lagi. Karena aku ga mau berurusan sama kamu lagi. Semua tentang kita udah selesai.”


“Cowok barusan siapa, Jha? Temen kamu? Atau gebetan baru?” Kai memilih mengabaikan kata-kata Senja dan balik bertanya.


“Mau kamu apa, sih?” Emosi Senja mulai terpancing. Kai seperti sengaja mengabaikan pertanyaannya.


“Ya...”


“Jangan bilang mau nganterin aku pulang atau mau ngajak aku makan. Basi. Kamu pasti paham maksud aku apa.” Senja langsung memotong ucapan Kai yang sepertinya akan bertele-tele lagi. Senja lelah. Selalu seperti itu ketika berdebat dengan Kai. Kai seperti selalu sengaja memancing emosinya.


“Senja. Abang udah kasih kamu waktu satu tahun. Satu tahun ini rasanya cukup buat kamu marah. Harusnya kamu udah bisa mendengar penjelasan aku. Coba dengar penjelasan aku. Dengar, dan coba memandang dari sudut pandang Abang, Jha.”


“Oh, jadinya maksudnya selama satu tahun ini kamu kasih aku ruang buat mikir, gitu? Bukannya kamu lagi melarikan diri karena kamu nggak mau menghadapi masalah, ya?”


Kai terdiam mendengar kata-kata Senja. Ternyata benar Senja mengganggapnya pengecut. Ternyata penilaian Senja terhadap dirinya sama dengan Angga.


“Kamu egois, Jha.”


“Yang egois itu lo, bukan gue.”

__ADS_1


****


__ADS_2