
"Abis ini kita kemana, Jha?"
Suara Nuta yang mencapai telinga Senja menariknya kembali dari lamunan. Pertanyaan Nuta tentang filosofi nama, membawa ingatannya melayang jauh ke masa lalu.
Dulu juga pernah ada seseorang yang bertanya tentang namanya. Pertanyaan yang sama, dan sepertinya dilakukan untuk mengisyaratkan hal yang sama juga. Tapi menimbulkan perasaan yang berbeda di hati Senja.
"Balik kantor aja deh, Mas," jawab Senja singkat.
"Duh, malesnya. Kita jalan kemana kek gitu, Jha. Lagi males kerja, nih." Nuta memasang wajah memelas yang membuat Senja tertawa.
"Nggak enak sama yang lain lah, Mas, kalo kita keluar kelamaan. Ntar protes lagi karena nggak diajakin."
"Gampang lah itu, tinggal bilang aja kita habis ketemu klien. Konfirmasi iklan atau apa kek gitu."
"Aduuh, Pak GM gimana, deh. Masa ngajakin bawahannya yang nggak bener sih, Pak?"
Nuta tertawa mendengar jawaban Senja. Sepertinya perjuangannya untuk menembus dinding kokoh yang dibangun Senja di antara mereka masih akan panjang. Nuta hanya berharap nantinya akan menghasilkan akhir yang bahagia.
...****************...
Senja memasuki ruangan kantor radio Arshinta FM. Lebih tepatnya ruangan ini mirip ruang tamu sebuah rumah. Di dekat pintu masuk ada satu set sofa empuk lengkap dengan mejanya. Kemudian di belakang sofa mengarah ke dalam ada area luas yang dialasi karpet warna maroon, lengkap dengan boneka dan beberapa bantal bulunya. Di bagian ujung terlihat dinding berkaca besar dengan pintu bertanda On Air di atasnya. Di balik pintu itu adalah ruang siaran. Sementara ruangan bersofa adalah ruangan tempat berkumpul dan bekerja penyiar yang sedang tidak bertugas.
"Ciee, ada yang abis jalan, nih." Ulfa, teman seprofesinya mulai menggoda begitu Senja duduk di atas karpet berwarna maroon.
"Mbak abis jalan sama siapa? Cerita-cerita dong sama gue," jawab Senja asal. Dia paham sebenarnya maksud kata-kata Ulfa barusan.
"Uluh-uluh, ada yang sok polos niih, abis jalan sama Pak GM." Kali ini Nino yang bersuara.
"Bukan pergi jalan Abang, cuma makan kok," jawab Senja lagi.
"Kalo cuma makan kenapa cuma berdua? Nggak ngajak-ngajak kita coba." Kali ini Maria yang bersuara. Sepertinya teman-temannya ini kompak menginterogasi Senja.
__ADS_1
"Ya nggak tahu. Gue kan cuma diajakin. Kalo mau protes sama yang ngajak sono. Tuh, ada di ruangannya." Senja menunjuk dengan dagunya ke arah ruangan GM yang berada di sebelah ruangan tempat mereka berada sekarang.
Senja merebahkan kepalanya di atas sebuah boneka doraemon besar. Boneka itu adalah hadiah dari salah satu fansnya, dan rata-rata boneka yang ada di ruangan itu adalah hadiah dari para pendengar untuk penyiar favorit mereka.
"Nggak mau cerita sama gue, nih?" Ariana yang duduk di sebelah Senja bertanya. Dia adalah teman dekat Senja, mereka berdua sudah berteman semenjak masih sama-sama mahasiswa baru yang mencoba menyalurkan hobi di radio kampus.
"Nggak ada yang perlu diceritain sih, Ri. Gue sama Mas Nuta cuma pergi makan. Katanya males ngajak yang lain, soalnya pada ribet, milih tempat sama makanan aja lama." Senja menjelaskan panjang lebar. Dia memang lebih terbuka pada Ariana dibanding rekan-rekannya yang lain.
"Trus lo percaya gitu aja omongannya?"
"Ya percaya lah. Nggak ada alesan buat gue nggak percaya juga kan."
"Jangan bohong sama diri lo sendiri, Jha. Kalo lo nyaman apa salahnya dicoba. Gue mau lo bahagia. Jangan gitu terus."
Senja tidak menjawab ucapan Ariana, sangat paham maksud ucapan temannya itu. Ariana memang sangat mengerti dia. Tahun lalu saat Senja begitu terpuruk, Ariana lah yang selalu menemaninya.
Senja juga paham maksud di balik sikap Nuta. Karena dia adalah tipe orang yang sangat sensitif, jadi Senja paham semua isyarat yang diberikan Nuta lewat sikap dan perhatiannya.
Itulah yang membuat Senja seolah membangun dinding kokoh tak terlihat antara dia dan Nuta. Senja hanya tidak ingin Nuta terluka.
...****************...
"Tadi Kai ke sini, Jha. Nanyain kamu." Nino bersuara begitu pindah duduk di sebelah Senja.
Senja langsung duduk begitu mendengar ucapan Nino. Di ruangan itu tinggal mereka berdua.
"Kok bisa ketemu Bang Nino? Trus Abang jawab apa?"
"Tadi kebetulan Abang lagi di luar, baru kelar makan di resto depan."
"Trus Abang jawab apa? Abang bilang aku lagi pergi sama Mas Nuta?" Senja mencecar Nino dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Abang cuma bilang kamu lagi keluar sama GM, mungkin lagi ketemu klien, nganterin proposal iklan."
"Trus gimana, Bang? Dia percaya kata-kata Abang?" Lagi, tanpa sadar Senja mencecar Nino dengan pertanyaan.
"Kelihatannya sih percaya. Cuma wajahnya kesel banget."
Senja menarik nafas lega mendengar jawaban Nino. Laki-laki yang sudah dianggapnya seperti abang sendiri ini memang selalu bisa diandalkan.
"Makasih ya, Bang. Makasih udah selalu bantuin aku." Senja terharu. Nino selalu membantunya menghadapi Kai, bahkan tanpa diminta. Hari ini dan satu tahun lalu juga.
"Ini terakhir kali Abang bantuin kamu buat bohong sama Kai ya, Jha. Kamu nggak boleh lari lagi. Kalo lari terus masalahnya nggak akan pernah selesai. Yang ada perasaan kamu akan terus terbebani." Nino menatap Senja.
Dia memang selalu membantu gadis itu menghadapi Kai, karena dia juga ikut sedih dengan apa yang dialami oleh Senja. Nino sudah menganggap Senja seperti adiknya sendiri.
"Aku nggak lari, Bang. Aku cuma nggak mau lagi berurusan sama dia. Aku udah kecewa banget soalnya."
"Tapi bukan gitu caranya, Jha. Kamu temui dia dulu, tanya kebenarannya. Denger dulu dari sudut pandang dia. Aku yakin dia punya alasan kenapa menyimpan rahasia itu dari kamu. setelah kamu denger semuanya. Baru kamu ambil keputusan." Nino menasehati Senja dengan sabar.
"Tapi aku capek berurusan sama dia, Bang. Bukannya dapat titik temunya malah berantem lagi dan lagi."
"Kamu yang paling tahu dia gimana. Kapan emosinya terpancing, kapan dia bisa tenang. Kamu yang paham itu. Selesaikan, Jha! Kalo nggak perasaan kamu yang bakal terus terbebani," ucap Nino tegas.
Dia kasihan dengan Senja yang selama setahun ini hidup seperti robot. Kelihatan seperti tetap ceria dan bahagia. Padahal hatinya masih remuk tak berbentuk.
Jauh di dalam lubuk hatinya Senja membenarkan ucapan Nino. Dia sangat paham bagaimana sifat dan watak Kai. Dia tahu Kapan Kai marah, kapan emosinya terpancing, dan kapan dia bisa diajak berbicara.
Padahal kalau Senja mau, dia bisa mengkondisikan kapan bisa berbicara baik-baik dan tanpa emosi dengan Kai. Tapi hatinya seakan menolak itu semua.
Sesungguhnya Senja takut dengan kebenaran yang mungkin akan didengarnya. Dia takut penjelasan dan alasan yang nanti akan diberikan oleh Kai akan melukai harga dirinya.
...****************...
__ADS_1