Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 16 Perhatian Nuta


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Senja mengetuk pintu ruangan General Manager radio Arshinta, kemudian membuka pintu dan melongokkan kepalanya ke dalam.


“Permisi, Mas. Mas Nuta panggil aku?”


“Masuk, Jha. Duduk,” perintah Nuta, sambil menunjuk dengan anggukan kepala pada kursi di seberang meja.


Ah, mati gue. Mas Nuta udah seseram Pak Andika nih tampangnya. Kai sia**n. Bisa-bisanya bikin hari gue berantakan. Senja memaki dalam hati sambil mendudukkan pantatnya di kursi empuk yang ditunjuk Nuta.


“Kamu ada masalah, Jha?” Nuta bertanya sambil menatap Senja tepat di mata coklatnya.


“Nggak ada, Mas.”


“Tadi telatnya lama, loh, setengah jam lebih. saya lihat kamu datang. Saya pikir kamu bakalan langsung VO begitu sampai, ternyata nggak. Udah lewat beberapa lagu dulu baru suara kamu kedengeran.” Omelan Nuta sudah mirip dengan ayahnya, panjang dan lebarnya sama.


“Maaf, Mas. Lain kali saya nggak telat lagi.” Senja hanya meminta maaf. Tidak berniat membela diri dengan mengatakan Maria tidak membantunya menyusun list lagu. Karena memang dia salah sudah datang terlambat.


“Saya nggak mau tahu alasannya apa, yang saya tahu kamu nggak boleh ngulangin kesalahan yang sama lagi. Kali ini cuma teguran, lain kali mungkin pengurangan jam siaran dan pemotongan gaji.”


“Iya, Mas. Maaf. Saya janji nggak telat lagi.”


“Ya, udah.” Nuta mengakhiri percakapan.


Senja memperhatikan Nuta yang berdiri dari duduk dan meninggalkan kursinya. Bukannya menyuruh keluar karena percakapan sudah selesai, laki-laki itu malah pindah duduk ke sofa dan tersenyum manis pada Senja.


“Duduk sini, Jha,” ajak Nuta pada Senja yang masih bengong.


“Hei, kesambet ya? ngapain bengong di situ, duduk sini, ayok,” ajak Nuta lagi sambil menepuk-nepuk sofa.


Senja beranjak, berdiri dari kursi di depan meja kerja Nuta, kemudian pindah duduk ke atas sofa, tepat di tempat yang ditepuk-tepuk oleh Nuta, di samping laki-laki itu.


“Ngapain pindah duduk ke sini, Mas? Aku nggak disuruh keluar, nih?” tanya Senja pada Nuta, masih heran dengan sikap GMnya itu.


“Kalo di sana aku dalam mode GM, dan urusan kita udah selesai. Jadi kita pindah ke sini, biar aku juga pindah ke mode Nuta aja.” Nuta menjelaskan dengan wajah serius.

__ADS_1


Senja diam sejenak mencerna ucapan Nuta. Otaknya hari ini memang agak tulalit, mungkin efek kurang tidur semalam. Begitu menyadari maksud kalimat Nuta, akhirnya gadis itu tergelak.


“Ooo …  Gitu, toh. Jadi sekarang udah pindah ke mode Nuta aja nih, ya? Udah bukan Pak GM lagi, nih?” tanya Senja masih dengan tawa.


“Iya, jadi santuy laah.”


“Kamu nyeremin deh, Mas, kalo lagi GM Mode On."


"Ya salah kamu juga sih, ngapain telat kelamaan. Trus … ha ha ha …" Nuta tertawa terbahak-bahak tanpa menyelesaikan kalimatnya.


"Apaan deh, Mas? Ngomong dulu, baru ketawa." 


"Ha ha ha … Ini ootd kamu hari ini temanya apa sih, Jha?" Nuta memegang perutnya dan terus tertawa terbahak-bahak. Air mata nampak keluar di sudut matanya.


Senja menunduk memandang dirinya sendiri. Seandainya ada kotak di ruangan itu, dia akan menyembunyikan dirinya di sana. Atau seandainya ada pintu kemana saja, tentu tanpa ragu gadis itu akan berlari memasukinya.


Pakaian yang dipakainya hari ini tidak tentu juntrungannya. Benar-benar tidak mencerminkan Senja yang biasanya selalu tampil styles. 


Celana yang disambarnya tadi pagi adalah kulot jeans warna biru terang. Bajunya kaos kebesaran warna hijau bergambar tanduk kerbau. Sedangkan outer yang dipakainya adalah cardigan panjang warna mustard. Sungguh perpaduan yang benar-benar membuat sakit mata siapapun yang memandangnya. Pantas Nuta tertawa sampai air matanya keluar. Untung sepatu yang dipakainya tadi adalah flatshoes warna coklat muda, jadi tidak menambah keanehannya hari itu.


"Ha ha ha …" Tawa Nuta kembali terdengar melihat wajah kebingungan Senja karena menyadari bagaimana dandanannya.


"Eh, jangan dong. Sini duduk lagi." Nuta menarik tangan Senja agar duduk lagi di tempat semula.


"Temenin makan dulu, nih, aku udah pesen dua." Nuta menyodorkan salah satu kotak makanan yang ada di atas meja.


"Loh, aku baru sadar di meja ada makanan. Kapan pesennya, Mas?"


"Tadi aku suruh Mas Dodi beli, abis itu baru dia panggil kamu."


"Emang sengaja beli dua nih? Satu buat aku?" Senja bertanya sambil menunjuk dirinya, heran dengan kelakuan Nuta.


"Iya. Tadi aku liat pas kamu datang. Ngeliat dari ootd kamu yang ajaib ini, aku yakin kamu telat bangun, trus buru-buru berangkat dan pasti nggak sempat sarapan. Makanya aku pesen dua, biar kita makan sama-sama. Aku juga males makan sendiri tiap hari," jelas Nuta panjang lebar.


Senja tertegun mendengar kata-kata Nuta. Laki-laki itu memang belakangan ini sering menunjukkan perhatiannya pada Senja. Dari dulu juga, tapi tidak pernah diucapkan dengan gamblang seperti saat ini.


Hati gadis itu sedikit berbunga mendapat perhatian seperti itu dari Nuta. Kata-kata dan perhatian Nuta seolah menjadi penawar untuk hidupnya yang sudah kacau sejak bangun tidur.


"Makanya cari pacar dong, Mas, biar makannya ada yang nemenin. Biar ngapa-ngapain diingetin ayang, gitu," ledek Senja sembari membuka kotak kertas mie ayam di depannya.

__ADS_1


"Kalo kamu yang jadi Ayang aku mau nggak?" Nuta menatap Senja yang tengah sibuk dengan mie ayam di depannya.


Sementara yang ditatap terdiam sejenak. Tidak sengaja melontarkan candaan yang akhirnya jadi senjata makan tuan.


"Nggak mau, ah. Aku kan Senja bukan Ayang."


Nuta hanya tertawa mendengar jawaban bercanda Senja. Jauh di lubuk hatinya, laki-laki itu sangat berharap, suatu hari nanti Senja akan membuka hati untuknya, membalas perasaannya.


"Iya, deh. Ayo Ayang lanjut makan mie ayamnya." Nuta tertawa melihat Senja yang melotot mendengar kata-katanya.


Lama mereka larut dalam kebersamaan. Bercengkrama di sela-sela suapan. Seperti sahabat karib yang tidak akan pernah terpisahkan.


"Aku keluar dulu, Mas. Kelamaan di sini, nggak enak. Apalagi kalo yang lain tau aku di sini makan. Beuh, bisa diintrogasi lagi aku." Senja berdiri, membuang kotak bekas makanan mereka ke tempat sampah di sudut dekat pintu ruangan.


"Ntar dulu deh, Jha. Berdiri sini dulu," panggil Nuta seraya berdiri dari duduknya, kemudian menunjuk tempat di depannya. Mengisyaratkan agar Senja berdiri di sana.


Senja menurut, berdiri di depan Nuta. Menunggu, apalagi yang akan dilakukan laki-laki itu.


"Coba ini cardigannya dibuka aja," saran Nuta sambil menarik lengan cardigan besar dan panjang warna mustard yang dipakai Senja.


Senja menuruti saran Nuta, melepaskan cardigan itu, lalu meletakkannya di lengan sofa.


"Trus ini kaos kebesaran kamu diikat aja nih bagian bawahnya. Pasin dulu di pinggang, trus pegang pinggirannya sampe ada ujung, trus iket deh." Lagi, Nuta memberikan perintah yang langsung diikuti oleh Senja.


"Waah, bagus juga niih selera fashion Pak GM. Lumayan deh, walaupun warnanya masih bikin mata sakit. Jempolan emang si Bapak," canda Senja sambil mengacungkan dua jempol ke arah Nuta.


"Ya aku kasian sih, kalo kamu seharian ini keliling-keliling dengat outfit ajaib gitu. Kalo ada yang liat aku juga yang malu."


"Asem nih Si Mas. Aku tarik lagi deh jempolnya." Senja memanyunkan bibirnya mendengar kata-kata Nuta.


"Ha ha ha … Maksudnya tuh aku bantu biar kamu nggak pulang sekarang. Kerjaan masih banyak, noh. Kamu belum kasih laporan event yang kemaren."


"Oh, iya. Maaf, Mas. Tinggal dikit lagi kelar kok. Aku kerjain dulu, ya."


Senja bergegas meninggalkan ruangan Nuta, tidak ingat cardigannya di lengan sofa. Sementara Nuta, dia sadar Senja meninggalkan cardigannya, tapi sama sekali tidak berniat memberitahu. Cardigan itu nanti akan dijadikan alasan untuk kembali menemui Senja. Mungkin sekalian mengajak makan malam.


Tanpa cardigan itupun, Nuta punya banyak sekali alasan untuk menemui Senja. Bahkan tanpa alasan pun dia bisa menemui gadis itu. Sama seperti hati dan cintanya yang tidak butuh alasan untuk berlabuh pada Senja, gadis manis bermata bulat yang terlihat sempurna di matanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2