
Gadis dengan badan digelayuti barang branded dan dandanan ala Tasya Farasya itu masih sibuk memepetkan badanya pada Kai, berharap pelukannya dibalas. Sementara yang dipeluk justru berusaha menjauh, terlihat jengah.
Senja memperhatikan semuanya dalam diam.
“Jangan peluk-peluk, Cel. Ini tempat umum, malu dilihat orang.”
Kai mendorong tubuh perempuan bernama Celline itu agar menjauh. Matanya sibuk melirik Senja yang hanya diam. Padahal untuk bisa bertemu dan membawa Senja makan di luar, usaha sudah setengah mati. Tiba-tiba malah datang pengacau yang bisa jadi akan membuat mood gadis itu hancur.
“Kai, kok gitu sih. Aku kangen kamu, tau.” Perempuan itu masih berbicara dengan nada manja, tidak menerima penolakan.
“Celline, gue lagi makan. Kalo mau ngobrol duduk aja. Tapi gue berdua, kenalin ini pacar gue, namanya Senja.”
Meskipun tidak suka, Kai masih berbicara dengan nada bersahabat. Kelemahannya memang, tidak pernah bisa menolak siapapun dengan tegas. Tidak pernah bisa berbicara keras tanpa alasan.
Perempuan bernama Celline itu hanya melirik sekilas pada Senja. Tatapan matanya mengisyaratkan bahwa dia tidak peduli siapapun yang sedang bersama dengan Kai. Pacarnya sekalipun.
“Kamu apa kabar, Kai? Selama ini kemana aja, sih? Teman-teman pada nyariin kamu, loh. Kamu nggak kangen apa sama kita semua? Sama aku terutama?”
Perempuan itu mendudukkan dirinya di sebelah Kai, setelah sebelumnya menarik kursi dari meja lain. Karena meja yang mereka tempati hanya untuk dua orang.
“Gue baik. Selama ini sibuk kuliah dan kerja.” Kai menjawab dengan acuh. Tangannya sibuk melanjutkan makan, sedangkan matanya tidak pernah mengalihkan tatapan dari Senja.
“Kamu kerja dimana, Kai? Di perusahaan Papa kamu yang mana?”
Cukup sudah. Senja sudah muak berada di sana. Dia muak mendengar obrolan yang sama sekali tidak penting untuknya. Gadis itu meletakkan peralatan makannya, lalu berdiri, bersiap pergi dari sana.
“Mau kemana?” tanya Kai. Tangannya memegang pergelangan tangan Senja sebelum gadis itu meninggalkan meja.
“Mau ke toilet dulu. Terusin aja makannya, aku udah selesai.”
“Aku juga udah. Kita pulang, ya? Ke toiletnya ntar di rumah aja, bisa tahan kan?”
Kai ikut meletakkan peralatan makannya dan ikut berdiri. Sementara tangannya sama sekali tidak melepaskan genggaman di pergelangan Senja.
“Gue balik dulu, Cel.” Kai hanya pamit dengan kalimat singkat pada Celline. Sama sekali tidak berniat untuk sedikit berbasa-basi.
“Kai, bagi kontak kamu, dong. Anak-anak pada nyariin.”
Kai hanya menjawab dengan melambaikan tangan kiri. Sementara tangan kanannya menggandeng Senja.
__ADS_1
...****************...
Memandang lautan memang selalu menyenangkan, bahkan di tengah terik matahari sekalipun. Bagi Senja, kapanpun bisa menjadi waktu yang tepat untuk itu. Sebegitu cintanya dia pada laut.
Senja sedang memandangi laut dari sebuah rooftop cafe di pinggir pantai. Entah bagaimana dia bisa berakhir di sini. Setelah keluar dari restoran ikan bakar, Kai malah mengajaknya ke sini, dan entah kenapa Senja tidak menolaknya. Mungkin karena merindukan laut, pikirnya.
“Jha, duduk sini.” Kai memanggil dari meja paling dekat dengan balkon. Sengaja dipilihnya meja dengan kapasitas untuk dua orang ini, agar Senja bisa leluasa memandang laut sambil menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan.
“Ini apa?” tanya senja begitu duduk dan melihat makanan dan minuman di atas meja.
“Aku tau kamu tadi belum kenyang, tapi mau buru-buru pergi karena nggak nyaman sama Celline, iya kan? Ini aku pesen Roti Bakar Coklat Keju sama Iced Matcha Latte kesukaan kamu.”
Senja menatap Kai, tertegun. Laki-laki itu memang selalu pengertian. Bersama Kai Senja tidak harus selalu mengatakan apa yang dia inginkan, entah itu makanan, minuman atau hal lainnya. Kai akan selalu ingat. Perhatian dan sikap itulah yang dulu membuat Senja luluh. Membuatnya memutuskan untuk menerima Kai dalam hidupnya, sekalipun belum ada cinta di hatinya.
“Yang tadi siapa?” Senja bertanya dengan nada acuh. Tidak ingin terlalu kentara kalau dia penasaran.
“Kenapa? Penasaran, ya? Atau cemburu?” Bukannya menjawab, laki-laki itu malah menggoda.
Senja memutar bola matanya dengan malas, tidak ingin menjawab.
“Namanya Celline. Temen aku waktu SMA. Dia ngejar-ngejar aku setengah mati dulu. Apalagi, kalau bukan karena ada maunya. Semua sama aja. Itu yang bikin aku keluar dari rumah. Aku muak sama semua itu.”
“Kamu kenapa nggak mau?”
Senja terdiam. Niatnya hanya ingin mencari bahan untuk membalas ucapan Kai, tapi ternyata malah tersudutkan.
“Karena kamu dulu bohong sama aku.”
“Sekarang kan udah tau, kenapa masih nggak mau?”
“Karena aku terlanjur kecewa.”
Mereka berdua terdiam. Ketentraman hari itu rusak sudah. Mereka kembali menyentuh ranah yang seharusnya dibiarkan saja terkubur dalam-dalam. Itupun kalau mereka masih ingin berteman.
“Habis ini nonton yuk, Jha. Ada film bagus baru rilis, kamu pasti suka.”
Kai berusaha mencari topik pembicaraan baru. Berusaha membangun kembali susana yang sudah rusak. Dia belum rela kalau hari ini harus berakhir begitu saja.
“Males.”
__ADS_1
“Atau mau ke toko buku? Abang traktir tiga buku deh hari ini.”
“Males juga.”
Kai menghela nafas dalam. Usahanya untuk mengembalikan suasana nyaman sebelumnya menemui jalan buntu. Jika Senja sudah menjawab hanya dengan satu atau dua kata, itu berarti moodnya sudah berkubang lumpur.
“Cewek tadi itu kan cantik. Barangnya juga bermerk semua. Kenapa kamu nggak pacaran sama dia? Nggak akan rugi-rugi amat lah. Kalaupun dia minta ini-itu nggak akan bikin kekayaan kamu berkurang kok.”
Kai menggelengkan kepala mendengar ucapan Senja. Dia seperti melihat genderang perang dipukul. Memekakkan. Jika Senja sudah memulai konfrontasi, Kai harus menyiapkan banyak stok kesabaran. Selalu seperti itu.
“Teman-teman yang kamu bilang cuma mendekat karena ada maunya itu, juga pasti bukan anak orang sembarangan, lah. Kamu aja sekolahnya di sekolah elit. Berarti ya mereka anak orang kaya juga.”
“Kenapa bahas itu sih, Jha?” Kai akhirnya bersuara, balik bertanya dengan lembut.
“Pengen tau aja sih alasan kamu sebenernya tuh apa. Sampe keluar dari rumah segala. Sampe bohong sama aku selama tiga tahun lebih.”
“Abang udah cerita, Kan. Dan itu alasan sebenarnya, Jha. Nggak ada alasan lain. Kamu bisa bayangin, hidup dikelilingi orang-orang yang nggak pernah tulus sedetikpun. Aku muak dengan semua itu.”
“Aku nggak bisa bayangin, tuh. Karena emang nggak pernah ngerasain. Karena aku bukan anak orang super kaya kayak kamu.” Senja mengucapkan kata-kata itu dengan nada menyebalkan.
“Abang anterin pulang, yuk. Bentar lagi cafenya rame, kamu kan nggak suka.”
“Oh, ngusir nih? Mau ketemuan sama cewek tadi, ya? Tadi keganggu karna ada aku, kan?”
Kai menggertakkan giginya, menahan geram. Sifat Senja yang satu ini selalu menghabiskan stok sabarnya. Gadis itu akan berubah jadi menyebalkan saat suasana hatinya buruk. Dia tidak akan peduli apa yang dirasakan orang lain begitu perasaanya terusik.
Kai mengepalkan tangan. Bersiap menghadapi Senja, Senjanya.
...****************...
...Duh Senja mulai cari perkara nih, Guys.....
...Bakal perang lagi nggak, nih??...
...Ikutin terus ya, ceritanya 🤗...
...Jangan lupa like, komen & share.....
...❤️❤️...
__ADS_1