Samudera Kala Senja

Samudera Kala Senja
Bab 43 Bibit, Bebet, dan Bobot


__ADS_3

“Aku nggak ada masalah dengan itu, Mi.”


“Mami yang masalah, Nuta. Mami nggak setuju kamu pacaran sama dia. Cari pacar itu harus yang selevel sama kita.”


“Mami ini wakil rakyat loh, Mi. Kenapa bisa, sih, seorang wakil rakyat punya pikiran sepicik itu? Harusnya semua orang tuh sama di mata Mami. Yang membedakan seharusnya cuma baik dan buruknya sikap dan sifat seseorang.” Nuta menjawab dengan lantang perkataan wanita yang melahirkannya.


“Kamu nggak usah ceramahin Mami, Nuta. Justru karena Mami wakil rakyat, jadi Mami harus memberi contoh. Mencari calon menantu itu harus jelas bibit, bebet dan bobotnya.” Safira mulai meninggikan suaranya.


Sebelumnya, Nuta, anak pertamanya itu selalu menjadi kebanggaan. Tidak pernah membantah apapun keinginan Safira dan suaminya sebagai orangtua. Bahkan pilihan jurusan dan pekerjaannya mereka juga yang menentukan.


Lalu apa? Kali ini dia membantah ucapan wanita yang melahirkannya hanya demi gadis kampung itu? Keterlaluan. Safira tidak bisa menerima itu.


Selama ini dia tidak pernah ada masalah dengan pilihan pasangan Nuta. Pacar anaknya itu selalu berkenan di hatinya. Sewaktu di Bandung, Nuta pernah pacaran dengan teman kuliahnya. Cantik dan anak wakil rakyat juga, seperti Safira.


Pacar Nuta yang terakhir adalah seorang model terkenal. Jangan ditanya lagi seberapa cantiknya dia. Tidak ada mata yang tidak melirik ketika berada di sekitar Valerie Agatha. Entah apa alasan anaknya putus dengan gadis se-perfect itu.


Lalu sekarang, Nuta pacaran dengan karyawan, penyiar di radio mereka. Gadis itu hanya gadis kampung yang sedang berjuang keras untuk mengubah hidup keluarganya. Memang dia gadis yang manis, tapi tentu tidak bisa dibandingkan dengan kecantikan Valerie Agatha atau pacar-pacar Nuta sebelumnya.


Pasti keluarganya juga bukan keluarga berpendidikan. Yang Safira dengar, ayahnya hanya seorang petani di daerah dataran tinggi yang terkenal dengan hasil pertaniannya. Tidak, tidak. Tentu Safira akan sangat malu jika harus punya besan hanya seorang petani kampung.


“Bibit, bebet dan bobotnya Mami bilang? Senja punya itu semua, Mi. Dia cantik, pintar, berpendidikan. Orang tuanya juga orang baik-baik. Nggak ada yang salah tentang semua itu.” Kali ini Nuta benar-benar tidak bisa menjaga nada suaranya lagi.


“Tau apa kamu soal bibit, bebet dan bobot. Mami dan Papi yang akan menilai semua itu. Pokoknya Mami nggak mau punya calon menantu seperti Senja.”


“Udah, Mi. Nanti kita omongin lagi di rumah. Ini kantor, nggak enak kalo ada yang denger.” Andika, ayah Nuta yang sedari tadi hanya menjadi penonton perdebatan anak dan istrinya itu, akhirnya menengahi.


“Nggak bisa gitu, Pi.”


“Seperti itu apa maksud, Mami? Memangnya seperti apa Senja di mata Mami?”

__ADS_1


Nuta maupun Safira tidak ada yang mau mengalah. Tidak mempedulikan ucapan Andika, mereka kembali melanjutkan perdebatan sengit.


“Seperti apa kamu tanya? Dengar baik-baik Nuta. Mami nggak mau punya calon menantu yang notabene adalah karyawan kita, dan hanya seorang gadis kampung yang orang tuanya hanya petani kampung miskin dan tidak berpendidikan. Mami malu, Nuta.


“Satu lagi, kamu harus tau, orang-orang seperti mereka itu hanya akan memanfaatkan kekayaan dan segala yang kita punya. Hal yang mustahil untuk bisa mereka dapatkan dengan usaha dan keringat mereka sendiri.” Safira menjawab dengan penuh penekanan.


“Aku nggak nyangka Mami ternyata punya pikiran sepicik itu.”


“Udah, Mi. Ayo kita keluar. Nanti kita bahas lagi di rumah, yang penting sekarang Nuta udah tau pendapat kita. Ayo, Mi.” Andika menarik tangan istrinya, memaksa untuk berdiri.


Ini ruangan kantor, dan tidak kedap suara. Andika tidak ingin ada karyawannya yang mendengar obrolan mereka di dalam sini. Selama ini dia sudah berusaha menjadi sosok yang merangkul semua karyawan tanpa terkecuali. Tentu dia akan mendapat pandangan berbeda jika ada yang mendengar kata-kata istrinya tentang Senja.


Safira akhirnya berdiri, berjalan menuju pintu mengikuti suaminya. Tapi kemudian wanita itu berbalik menatap anaknya lagi.


“Jangan pernah bermimpi kamu bisa tetap dengan keinginan kamu, Nuta. Kalau kamu tetap keras kepala, maka kamu harus bersiap untuk merelakan semua kenyaman hidup yang selama ini kamu nikmati.”


...****************...


“Ari, gue balik dulu. Titip pesan sama Pak GM, laporan hari ini ntar gue kirim via email.” Senja berbicara pada Ariana sembari sibuk mengemasi barang-barangnya di atas meja.


“O iya, handphone gue ketinggalan di mobil Mas Nuta. Ntar kalo dia kasih, lo pegang dulu, ya. Besok gue ambil. Gue cabut dulu.” Senja bergegas melangkahkan kaki menuju pintu.


“Hei, girl. What's going on?" Ariana mengerutkan kening mendengar semua ucapan cepat Senja. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi.


“Nggak ada apa-apa. Gue cuma lagi ada keperluan mendadak aja. Ntar gue cerita, ya.” Senja menjawab sambil melangkahkan kaki keluar. Gegas diayunkan langkahnya menjauh sebelum ada yang bertanya atau menahannya lagi.


...****************...


Nuta melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih satu jam lagi sebelum jam kantor habis. Tapi Nuta sudah tidak bisa menunggu lagi. Dia ingin bertemu Senja, segera. Ingin menatap mata bulat gadis itu. Mengisi energinya yang seolah terserap habis setelah perdebatan dengan maminya tadi.

__ADS_1


Bersama Senja, Nuta selalu merasa energi dan semangatnya untuk menjalani apapun menjadi berkali-kali lipat. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi yang dia tahu, bersama gadis itu selalu mendatangkan nyaman. Mendatangkan semangat hidup berkali-kali lipat.


Nuta belum pernah merasakan hal itu sebelumnya. Senja memang jauh dari kriteria wanita yang selama ini dipilih Nuta untuk jadi pasangannya. Secara fisik Senja tidak bisa dibandingkan dengan tipe idealnya. Tapi entah kenapa, gadis manis itu justru membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Kening Nuta terlipat. Sudah berkali-kali dia mencoba menghubungi Senja, tapi tidak mendapat jawaban. Laki-laki itu berdiri, melangkahkan kaki menuju pintu, dia akan langsung menghampiri gadisnya di ruangan kantor radio. Persetan dengan pandangan karyawan lain dan gosip yang akan beredar.


“Ariana, Senja ada?” Nuta melongokkan kepala di pintu ruangan dan bertanya pada Ariana yang duduk sendiri di sofa dekat pintu.


“Senja udah balik, Mas. Katanya ada keperluan mendadak. Dia titip pesan, katanya laporan hari ini ntar dikirim via email.”


Nuta mengerutkan kening. Senja pulang tanpa pamit? Laporan dikirim via email? seperti ada yang aneh.


“Oh, ya? Kenapa dia nggak ngabarin saya langsung? Telpon saya juga nggak diangkat.”


“Katanya handphone-nya ketinggalan di mobil Mas Nuta.”


“Iya? Saya cek dulu kalo gitu.”


“Mas, katanya handphone-nya titip aku aja.” Ariana bersuara sebelum Nuta menutup pintu.


Nuta mengabaikan ucapan terakhir Ariana. Dia akan mengantarkan langsung handphone Senja ke kosannya, sekalian mengecek langsung keadaan kekasihnya itu. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi.


...****************...


...Akhirnya Up lagi....


...Walaupun mungkin nanti akan terseok-seok ke dapannya....


...Jangan lupa like dan komen, ya, Guys.....

__ADS_1


...🥰🥰...


__ADS_2