
“Yang egois itu lo, bukan gue,” jawab Senja dengan nada tinggi. Dia lelah menghadapi Kai. Sudah berlalu satu tahun, tapi ternyata perasaannya masih sama. Dia terlalu kecewa dengan Kai.
“Ngomong biasa aja, Jha. Jangan kasar gitu.” Lagi. Kai malah mempermasalahkan cara Senja berbicara. Bukannya menjelaskan maksud kata-katanya sebelumnya.
Senja menarik nafas dalam sebelum menjawab, “Yang kasar itu lo, Bang. Dulu gue marah, kecewa, minta untuk mengakhiri hubungan kita, tanggapan lo apa? Nyoba buat bujuk-bujuk gue biar nggak marah lagi. Terus menghilang dengan alasan ngasih gue ruang. Satu tahun lo menghilang, trus balik lagi. Masuk lagi ke hidup gue seolah-olah nggak ada yang terjadi di antara kita. Terus sekarang bilang gue egois. Mikir dong. Yang egois itu elo, Kai, bukan gue.”
“Aku udah berusaha buat jelasin ke kamu, tapi kamu nggak mau denger, kan.”
“Jelasin apa? Kamu sama sekali nggak berusaha menjelaskan. Kamu hanya membujuk aku biar nggak marah lagi sama kamu. Kamu pikir kesalahan kamu sepele, ya kan? Kamu pikir aku yang terlalu membesar-besarkan masalah, iya kan?”
Kai tidak menjawab pertanyaan Senja. Dalam hatinya dia membenarkan ucapan gadis itu. Menurutnya Senja tidak harus semarah itu. Memang benar Kai menyimpan rahasia dari Senja. Tidak memberitahu Senja tentang rahasianya padahal mereka sudah tiga tahun menjalin hubungan. Senja pantas kecewa. Apalagi Senja akhirnya mengetahui rahasia itu dari mulut orang lain. Memang Senja pantas marah dan kecewa. Tapi menurut Kai, Senja tidak harus menyimpan kecewa dan sakit hatinya sampai berlarut-larut.
“Aku mau jelasin, Jha. Aku akan jelasin semuanya sama kamu. Tapi aku nggak mau ngejelasin semuanya saat kamu masih dalam kondisi marah ke aku. Aku kenal kamu. Aku sangat-sangat paham gimana kamu. Mau seberapa logis pun apa yang akan aku jelasin, kalo kamu masih marah, kamu nggak akan bisa terima apapun penjelasan aku.”
“Kamu bilang kamu paham gimana aku. Terus kamu menghindar dari aku selama satu tahun, trus tiba-tiba muncul bikin kacau. Dengan begitu kamu pikir marah aku bakalan hilang? Itu yang kamu bilang kamu paham gimana aku?” Senja tersenyum miring, meremehkan.
“Trus mau kamu apa, sih? Dari tadi ngomong mojokin aku terus?” Kai menjawab dengan nada ketus. Emosinya mulai ikut terpancing. Dia paling tidak suka saat Senja tersenyum miring dengan ekspresi meremehkan seperti itu. Padahal tadi dengan Bayu gadis itu bisa tersenyum manis dan terkesan sangat ramah.
__ADS_1
“Aku mau kamu jangan muncul lagi dihadapan aku. Aku muak dengan keegoisan kamu. Aku muak dengan segalanya tentang kamu,” jawab Senja dengan sungguh-sungguh. Dia benar-benar lelah dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Kai. Terlebih, dia lelah dengan perasaannya sendiri.
Tidak bisa dipungkiri, satu tahun tidak begitu saja menghapus perasaan cintanya pada Kai. Senja adalah tipe yang tidak mudah jatuh cinta. Tapi, begitu hatinya jatuh akan lebih tidak mudah lagi untuk beralih. Apalagi jika harus menghapus perasaannya begitu saja.
Seandainya bisa mengulang waktu, mungkin Senja akan memilih untuk tidak pernah jatuh cinta pada Kai. Senja akan memilih untuk tidak usah menjalani tiga tahun hidupnya dengan Kai menemani langkahnya.
“Abang anter kamu pulang, Jha. Kita bahas lagi lain kali. Tunggu kita sama-sama tenang dulu,”ucap Kai sambil mengusap wajahnya. Berusaha meredakan emosi yang sempat terpancing.
Kai baru sadar, mereka sudah terlalu lama berdiri dan berdebat di dekat pintu masuk acara Job Fair yang masih ramai pengunjung itu.
“Kamu tunggu di depan, abang ke parkiran ambil motor.” Kai langsung berjalan keluar menuju parkiran tanpa menunggu jawaban Senja.
****
Kendaraan roda dua yang dikendarai Kai meluncur dari arah parkiran dan berhenti di depan lobi hotel. Kai celingukan mencari keberadaan Senja. Namun, tidak didapatinya keberadaan gadis itu dimanapun.
Kai menghela nafas dalam-dalam. Mengisi rongga dadanya yang terasa begitu sesak. Senja tidak menunggunya. Gadis itu memilih pergi begitu saja. Pasti Senja semakin membenci dirinya.
__ADS_1
Kai sadar dia sudah mengambil langkah yang salah. Hari ini pertama kali dia memunculkan lagi dirinya di depan Senja setelah satu tahun berlalu. Tapi dia malah memulai dengan cara yang salah. Ini adalah awal yang buruk untuk niatnya yang ingin kembali memperbaiki semua dengan Senja.
Braakk!!
Kai memukul bagian depan motornya karena kesal dengan dirinya sendiri. Kesal dengan keadaan dan kesal pada Senja juga.
Seandainya waktu bisa diputar kembali. Seandainya diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Kai akan memilih untuk mengulang kembali masa-masa awal perkenalan mereka. Kai akan tetap memilih untuk jatuh cinta pada Senja, karena Senja adalah adalah matahari yang datang dalam gulita hidupnya. Berapa kali pun waktu kembali diputar, Kai akan tetap memilih untuk melabuhkan hatinya pada Senja. Hanya saja, dia akan memilih awal yang berbeda. Kai akan memilih untuk jujur tentang semua hal. Kai akan memilih untuk tidak menyimpan rahasia dari Senja.
Jika saja Kai jujur dari awal. Jika Kai tidak mengawali dengan cara yang salah. Cerita tentang mereka mungkin tidak akan serumit ini.
****
Hari ini mahasiswa baru program studi Sastra Indonesia dan mahasiswa tingkatan diatasnya kembali mengadakan pertemuan. Mereka membuat lingkaran besar di tengah bangunan tidak berdinding yang disebut pendopo. Bangunan itu semacam arena pertunjukan. Ada panggung besar di sisi sebelah barat. Sementara tiga sisi lainnya terdapat tiang-tiang tinggi dan bangku-bangku dari semen yang melingkari bangunan luas tersebut. Tidak ada dinding yang membatasi ketiga sisinya.
Mahasiswa baru dan lama dari program studi Sastra Indonesia yang hadir hari ini duduk membentuk lingkaran besar. Mereka tengah mendiskusikan apa yang akan ditampilkan prodi mereka saat acara Kemah Bakti Mahasiswa (***) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang akan diadakan satu bulan lagi. Prodi Sastra Indonesia biasanya akan menampilkan deklarasi dan musikalisasi puisi serta teater singkat. Dan biasanya prodi mereka selalu memborong penghargaan di malam penutupan untuk penampilan terbaik. Pada pertemuan hari ini, akan dipilih perwakilan yang akan tampil dan harus berlatih selama satu bulan ke depan.
Di tengah lingkaran ada seorang mahasiswi yang tengah membacakan puisi. Suaranya mengalun indah memasuki gendang telinga. Pandangan Kai tidak lepas dari sosok yang sedang membaca puisi di depan.
__ADS_1
Dia adalah Senja. Gadis bermata bulat yang selalu sukses mencuri perhatian Kai di setiap pertemuan. Dan ini adalah pertemuan ketiga di masa-masa awal perkenalan mereka. Pertemuan yang akan menjadi pembuka jalan untuk kisah mereka ke depannya.
****