
“Kamu kenyang nggak sih, Sayang, makannya?"
"Kenyang kok, kenapa?"
"Kayak masih nggak ada tenaga gitu. Aku pikir mungkin anakonda di dalam sana masih butuh asupan."
"Nggak, Mas. Aku udah kenyang kok."
"Apa kita cari makanan manis dulu? Jus atau sop buah favorit kamu. Mau?"
"Nggak usah, Mas. Mau ditarok di mana lagi, udah penuh banget ni perut." Senja menggeleng beberapa kali sebagai tanda penolakan.
Dia dan Nuta baru saja selesai makan siang. Rutinitas baru mereka selama tiga bulan ini adalah makan siang bersama. Setiap jam makan siang, Nuta akan mengajak Senja makan di luar.
Tiga bulan ini Nuta memperlakukan Senja layaknya ratu. Menjemput, mengantar pulang atau kemana pun tujuan gadis itu. Menghujaninya dengan perhatian, bahkan untuk hal sekecil apapun.
Laki-laki itu berusaha sekuat tenaga membantu Senja untuk mencintainya. Membantu Senja agar bisa menerima dia sepenuhnya.
Selalu menyempatkan makan siang bersama adalah salah satu bentuk usaha laki-laki itu. Menurutnya, jika terbiasa bersama, lama-lama cinta akan tumbuh dengan sendirinya.
Nuta mengeratkan tautan pada tangan mungil dalam genggamannya. Sementara sebelah tangannya sibuk dengan kemudi. Selalu menyenangkan menikmati kebersamaan dengan gadis di sebelahnya itu.
"Sayang, mikirin apa? Ada masalah?" tanya Nuta. Memperhatikan Senja yang dari tadi hanya menatap jalanan dengan pandangan menerawang.
"Nggak ada apa-apa kok, Mas."
"Bener?"
Senja hanya mengangguk sebagai jawaban.
Nuta membawa tangan dalam genggamannya ke depan wajah. Mengecup tangan itu lama.
“Kalo ada masalah jangan ragu buat cerita, ya. Inget, aku selalu ada buat kamu.” Mata hitam pekat itu sejenak menatap Senja, kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya. Dengan sebelah tangan pada kemudi, dan sebelah lagi masih tidak melepaskan genggamannya.
“Nggak ada apa-apa, Mas. Kalo ada, aku pasti cerita, kok,” jawab Senja akhirnya.
__ADS_1
Nuta memarkir mobil dan mematikan mesinnya. Mereka sudah berada di depan bangunan ruko dengan tulisan ‘Dijual’ di depannya. Bangunan yang berdiri tepat di sebelah kantor Radio Arshinta FM.
Semenjak mereka sering keluar bersama, Senja memang meminta Nuta menurunkannya di depan bangunan itu saja. Tidak di depan gerbang kantor atau di parkiran kantor seperti biasanya. Dia tidak ingin kedekatannya dengan Nuta terlalu kentara. Meskipun semua staf dan penyiar radio tempat dia bernaung sudah menyadari itu.
“Aku turun dulu, Mas.” Senja berusaha menarik dengan halus tangannya yang masih berada dalam genggaman besar Nuta.
Laki-laki itu malah memutar badan menghadap Senja. Bukannya melepaskan, tangan satunya malah ikut menggenggam. Kedua tangan hangat laki-laki itu kini bertaut dengan telapak tangan Senja di dalamnya.
“Makasih ya, udah kasih aku kesempatan buat jadi bagian dalam hidup kamu. Love you, Sayang.” Sekali lagi Nuta mengecup tangan Senja sebelum melepaskan genggamannya.
Tanpa menunggu jawaban, laki-laki itu beranjak turun, kemudian membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. Dia tahu, jawaban yang akan didapat untuk kata-kata cintanya hanya senyum dan anggukan. Nuta sudah terbiasa dengan itu.
“Aku masuk duluan ya, Mas,” pamit Senja sebelum melangkah menjauh menuju gerbang kantor Radio Arshinta.
“Selesai siaran, kabarin ya,” jawab Nuta. Padahal tanpa dikabari pun, dia selalu sudah menunggu di mobil pada saat Senja akan pulang. Dia tidak akan pernah membiarkan gadisnya pulang sendiri.
Senja menjawab dengan senyum dan lambaian tangan. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
“I Love you, Mentari Senja,” bisik Nuta lirih. Tentu tidak akan mendapat jawaban karena bisikan itu tidak mencapai ruang pendengaran gadis yang sudah menghilang dari pandangannya itu.
Tidak masalah, karena Senja sudah memberi dia kesempatan untuk menjadi kekasihnya. Maka Nuta tidak apa-apa jika harus menunggu sedikit lebih lama sampai Senja menjatuhkan hati padanya.
Tiga bulan ini sudah ada sedikit perubahan. Sikap Senja sudah mulai lebih hangat daripada biasanya. Meskipun seperti masih ada dinding yang dibangun gadis itu untuk membatasi kedekatan mereka, tapi tidak lagi sekokoh sebelumnya.
Sementara untuk sentuhan fisik, Senja seolah membatasi, hanya sebatas genggaman tangan. Seolah ada peraturan yang disampaikan lewat gestur dan tatapan mata bulatnya. Tiga bulan ini sentuhan fisik mereka hanya sekedar genggaman, gandengan tangan, atau sebatas kecupan, di tangan.
...****************...
Nuta melangkah menuju ruangan kantornya dengan senandung kecil. Begitu membuka pintu ruangan, ternyata di dalam ruang sana ada mami dan papinya sedang duduk di sofa. Menunggu dia sepertinya.
“Nuta, bener kamu pacaran sama Senja?” tanya maminya begitu Nuta baru saja melangkahkan kaki memasuki pintu ruangan.
“Mami sama Papi udah lama?” Nuta tidak langsung menjawab pertanyaan maminya. Dia kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu.
“Jawab aja, Nuta. Kamu pacaran sama Senja? Barusan kamu keluar sama dia?” Safira, mami Nuta terlihat tidak sabar menunggu jawaban anaknya.
__ADS_1
“Mami dapat laporan dari siapa?”
“Nggak perlu nunggu ada yang lapor sama Mami, semua orang di kantor ini juga udah tau. Mulai dari staf, penyiar sampai OB, semuanya ngomongin kamu sama Senja.”
“Senja cantik kan, Mi? Baik dan pekerja keras juga. Mami sama Papi juga suka sama dia kan?”
“Sebagai karyawan kita, Mami memang suka gadis itu. Papi mungkin juga. Dia termasuk penyiar favorit Papi. Tapi kalo dia jadi pacar kamu, Mami nggak suka, Nuta.”
“Kenapa, Mi? Masih orang yang sama, kan?”
“Sebagai pribadinya, Mami dan Papi nggak ada masalah sama dia. Tapi Mami nggak setuju kalo kamu pacaran sama dia. Apa kata orang-orang kalo tau kamu pacaran sama karyawan kita, Nuta.”
“Apa yang salah sih, Mi?”
Safira, wanita yang melahirkan Nuta adalah anggota DPRD. Sebagai wakil rakyat yang memiliki banyak relasi, dia harus menjaga nama dan citra baik yang sudah dibangunnya selama ini. Belum lagi relasi bisnis dia dan suaminya yang juga tersebar dimana-mana.
Tentu dia tidak ingin citranya rusak dengan cerita anaknya yang berpacaran dengan karyawan sendiri. Entah apa gosip yang akan beredar di belakang jika hal itu sampai tersebar kemana-mana.
“Kamu bayangin, ya. Lagi ada event dan Mami sama Papi harus datang, ketemu relasi kita juga. Tapi di sana pacar kamu wara-wiri sebagai penanggung jawab event-nya. Atau dia berkoar-koar di depan sebagai MC. Mau ditarok di mana muka Mami, Nuta. Bisa jatuh nama dan citra baik Mami.” Safira berbicara dengan nada yang penuh penekanan.
“Aku nggak ada masalah dengan itu, Mi.”
“Mami yang masalah, Nuta. Mami nggak setuju kamu pacaran sama dia. Cari pacar itu harus yang selevel sama kita.”
...****************...
...Duh, gimana deh tuh nasib Senja, ya?...
...Kasian 😢😢...
...Terima kasih sudah baca sejauh ini, Guys.....
...Jangan lupa tinggalin jejak, yaa.....
...Like dan komen yang banyak.....
__ADS_1
...❤️❤️...